Traveling

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

Ibn Battuta

Advertisements
Categories: Journey | Leave a comment

Rindu yang Tertinggal di Bayan Lombok

Berkunjung ke daerah lain selalu menyisakan kenangan. Iya, pastinya. Terutama yang berurusan dengan perut. 😂 Ojelaassss….

Jadi, perjalanan kali ini menuju daerah tengahnya Indonesia, tetangganya Bali. Tepatnya ke Lombok. Uwow, akhirnya nyampe juga ke Lombok. Apa yang ada di bayangan orang? Pantai Senggigi yang eksotis, Gili Trawangan yang romantis, Gunung Rinjani yang magis, atau ayam taliwang yang pedas manis? Saya gak punya semua bayangan itu.

Meski sering memikirkan akan pergi ke Lombok suatu saat, tapi karena mintanya ke Allah kurang spesifik alias, “Bagian mana aja yang penting Lombok.” membuat saya akhirnya mengikuti garis takdir ke daerah Desa Senaru Kecamatan Bayan di Kabupaten Lombok Utara. (Tuh, makanya kalo doa yang jelas dan detil supaya hasilnya juga sesuai harapan, An!)

Etapi… Etapi… Takdir kali ini berbuah manis loh. Asli gak nyesel. Iya, emang gak Gili Trawangan, tapi dapatnya pemandangan yang membuat saya tersadar tentang makna bersyukur yang sesungguhnya. Iya, emang gak ke Pantai Senggigi, tapi tetap sampe juga ke sebuah pantai indah nan sepi dan cakep. Deburan ombaknya mistis dan syahdu.

Kuliner sih jangan ditanya, hampir setiap hari mendapat makanan khas Lombok yang… pedaaaassss… Sampe bibir jontor. (oke, ini lebay).

ngajak Cleo berkelana

Ngapain di Lombok?

Pastinya bukan jalan-jalan ala-ala deh. Ini amanah dari Yayasan Gema Masjid. Jadi, saya pergi ke Lombok dalam rangka jadi sukarelawan, gak jadi turis. Inshaa Allah pankapan jadi turis deh ke sananya. Yah? Iya. Sama siapa? Sama trio hensem kesayangan saya dong.

Berhubung mood  sohib gokil saya, Bune Vei, lagi ilang di planet lain dan belum dikembalikan ke planet Bekasi, yodah, mungkin bakalan lama nungguinnya. Padahal kangen cekikikan di sepanjang jalan backpacking bareng.

Selama 5 hari di Lombok, saya banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Seru!

Akhirnya merasakan juga September ceria seperti lagunya Tante Vina. (Tua lo, An!) Keriaan bersama anak-anak penduduk asli Suku Sasak Bayan dan beberapa pendatang itu ternyata membekas dalam hati saya.

Menikmati Rute Perjalanan

Perjalanan Datang

Saya yang norak karena sama sekali belum pernah ke Lombok, benar-benar terpana sepanjang jalan dari pintu keluar Bandara Internasional Lombok sampai ke lokasi Pos Koordinasi GEMAS.

Begitu kaki menjejak di pintu keluar bandara, disambut oleh ustaz Alif, salah satu pengurus GEMAS yang sudah bertugas sejak tanggal 1 September 2018. Bawa mobil apa? Tronton! Eh, salah. Mobil bak terbuka, pemirsah! Wow, saya sih senang. Dengan suka cita naik mobil bagian baknya langsung semangat. Duduk duluan, cari posisi enak. Hahahaha.

sudah siap lansung naik baknya ituh.

Pemberhentian pertama, di sebuah money changer. Gaya, salah satu penduduk yang ikut bersama tim Gemas ternyata seorang pemandu para pendaki gunung, terutama bule. Dia cerita, tamu terakhirnya adalah orang berkebangsaan Prancis. Uwow. Pantes fee-nya dolar.

makan siang dulu gaes

Pemberhentian berikutnya tentu saja ke rumah makan. Kudu lunch supaya waras lah dikit. Heuheu. Ayam taliwang lah pastinya. Itu mah wajib, keleus. Jadinya, semua tim makan menu internesyenel itu. Saya sebenarnya pingin makan bebalung, tapi gak bisa. Dimasaknya lama. Oh, berarti gak ada ready stock nih. Yowes.

Lanjutkan perjalanan ke Kota Mataram. Sepanjang perjalanan, sempat hujan dan harus mengintip dari balik terpal. Hujan reda, muncul pelangi. Indah banget! Mashaa Allah, dikasih sambutan hujan dan pelangi itu sesuatu. Rahmat Allah cantik banget yaaaa…

under the rainbow

Selesai belanja di Cakranegara beberapa kebutuhan selama di tenda relawan, lanjut lagi jalan. Menemukan banyak monyet di pinggir jalan di daerah Baun Pusuk itu sesuatu. Saya kaget. Wah, menjelang magrib dikasih pemandangan unik lagi. Pun begitu ketika melewati jalur sepanjang pantai di daerah Tanjung. Ya Allah, sudah gelap, pantai dan lautnya gak keliatan. Debur ombaknya aja yang kedengeran…

Tiba di Kayangan, tim Gemas diundang istirahat dan salat di posko komunitas Wahana Muda Indonesia. AlhamduliLlah, kesempatan pertama ngopi khas Lombok. Yay! Senangnya. Lanjut lagi mampir sebentar beli sate ayam untuk makan malam.

Sampai di Desa Senaru sekitar pukul 10 malam. Lumayan perjalanan lebih dari 8 jam (karena kepotong belanja dan silaturrahim plus istirahat) tapi alhamduliLlah selamat. Sudah ditunggu makan malam khas Lombok.

Perjalanan Pulang

Waktu pulang, mobilnya beda. Pakai Avanza. Saya berharap baik-baik saja. Ternyata rada kliyengan pusing sepanjang jalan. Maulana berbisik, “Mendingan naik bak terbuka deh, Bun.” Saya mengamini. Anak kampung banget ya kami berdua? Hahahaha.

Ketika melewati daerah Tanjung lagi, kami menyempatkan diri ke pantai. Sebentaaaaarrrr aja. Entah pantai apa namanya, sepi banget. Ombaknya kecil. Pasirnya hitam mengilat. Seperti biasa, saya mengukir grafiti. Hehehe.

rindu terukir di Lombok

Tiba di Kota Mataram, setelah ikut survei mencari alat dan bahan untuk digunakan di Senaru, kami makan siang dulu. Lagi-lagi saya kurang beruntung. Tidak mendapatkan menu bebalung. Sebagai gantinya, saya menikmati kelaq kelor.

Setelah itu lanjut ke pusat oleh-oleh. Bu Andini ngeborong banyak banget. Saya cukup beli gantungan kunci. Menyesal tidak beli langsung dari pengrajin di Senaru. Alif sih, gak ngasih tau. (trus nyalahin orang.😅😂)

Di bandara, lagi-lagi Bu Andini belanja. Saya dan Maulana duduk manis menunggu transaksi selesai. Udeng harganya mahal ya? Tapi emang bagus. Makanya Maulana mau jadi modelnya.

slayer yang dipakai Maulana beli langsung di desa.

Akhirnya saya kembali ke Bandung bersama Maulana. Naik pesawat yang delay sekitar 20 menitan. Perjalanan sempat terganggu dan kami diminta menggunakan seat belt ketika pesawat berada kira-kira di langit Jawa Timur. Hadeh, padahal baru terbang. Maul langsung tilawah sementara saya tak henti berzikir. Kepasrahan kepada Allah itu nomor satu dan satu-satunya.

Landed at Husein. Alhamdulillah. Safe and sound. Meski sempat dihantui drama ketakutan ojek daring, akhirnya diterima setelah ditolak 3x. Ampun dije!

Kuliner Lombok

Nah ini bagian enaknya. Emang!

ayam taliwang

Menikmati ayam taliwang tentunya menjadi tujuan hampir semua turis yang datang ke Lombok ya? Bahkan Maul pun memohon dibawakan menu femes ini ke posko.

Siapa doyan kangkung? Siapa belum pernah makan pelecing kangkung? Tumis kangkung mah sering di Bandung juga. Tapi kan beda bumbunya, malih. Makanya justru yang diincar adalah bumbu pedas merah moronyoy itu, pemirsah. (maafkan fotonya buram, keburu laper. iyes)

pelecing kangkung

Jukut komak atau sayur bening seperti sayur asem itu terhidang saat malam sudah pekat. Saya menyantapnya dengan suka cita. Sayangnya, lupa difotoin. Udah kelaperan. Hihihi.

Ada lagi jangan, yaitu sayur tempe berkuah santai encer dan agak pedas. Tidak ikut difoto, karena pas makan malam, batere hape saya habis.

nah ini penampakan sayur daging itu. kalo udah dingin, lemaknya membeku semua

Nah, ada satu bentuk sayur daging tapi saya gak tau namanya apaan. Enak lah pokoknya mah. Manis gitu, gak pedas.

Tidak lupa dengan beberuq terong, lalapan khas Lombok yang ternyata endeus pisan. Potongan terongnya seperti korek api dengan potongan kacang panjang dan sambal pedas tentu saja. (penampakannya ada di mangkuk kecil di piring ayam taliwang)

kelaq kelor di mangkuk kecil hijau itu

Satu lagi adalah kelaq kelor, sayur bening seperti sayur bayam tapi menggunakan kelor itu bikin adem tenggorokan. Potongan jagung manisnya menambah selera. Nyam!

kopi hitam lombok nan femes

Naaaahh… Minumnya sudah pasti kopi! Hahaha. Kalau bisa sih jangan pakai gula lah. Kecuali es kelapa mudanya, boleh deh pake sirop dikit. Mending petik langsung dari pohonnya. Yekan? Yeeeee… Hihihi… Penampakan green beans yang menggoda hati itu terbayang-bayang di mata. Betapa nikmat kalau sudah roasted dan siap grinding kemudian… seduh!

Jadi, begitulah cerita singkat tugas ke Lombok Utara. Sejenak saja, tapi berkesan dan terkenang hingga akhir usia. Syukur itu bentuknya beragam. Termasuk kisah tawa canda bersama naga-naga di perut yang girang dapet kuliner Lombok. Heuheu.

 

Salam!

Categories: Journey | Tags: , , , , , , | Leave a comment

SIGAP (AKSI GEMAS PEDULI) di Bayan Lombok Utara

Saya belum pernah ke Pulau Lombok. Kebayang ke sana sih sering. Apalagi cerita tentang Gili Trawangan yang romantis, Pantai Senggigi yang eksotis, dan nikmatnya seporsi ayam taliwang. Bikin mupeng, memang. Tapi Allah menakdirkan saya ke Lombok bukan ke daerah terkenal. Saya berjalan jauh ke utara. Ke daerah yang masih tradisional dengan teknologi yang sangat minim.

huntara dan pos SIGAP di antara reruntuhan rumah warga dengan latar Gunung Rinjani

Kecamatan Bayan, Lombok Utara

Saya bersama Ibu Andini (salah satu anggota Komite Yayasan Gema Masjid) mendapat amanah dari Gemas untuk bertugas menjadi sukarelawan SIGAP (Aksi Gemas Peduli) di Kecamatan Bayan, Lombok Utara pada tanggal 17 – 22 September 2018. Lombok Utara merupakan kabupaten termuda di NTB yang memiliki luas 776,25 Km², dan secara geografis berada di kaki utara Gunung Rinjani. Mari intip sejenak tentang lokasi pos relawan Gemas di Bayan.

sekolah darurat

Perjalanan normal dari Bandara Internasional Lombok ke Kecamatan Bayan sekitar 4 jam normal menggunakan mobil. Rute dari bandara adalah ke arah Kota Mataram, kemudian ikuti jalur pesisir pantai bagian barat, masuk ke Kecamatan Tanjung (sebagai ibukota kabupaten), lurus lagi ke Kecamatan Pemenang, lanjut ke Kecamatan Gangga, kemudian Kecamatan Kayangan, barulah tiba di Kecamatan Bayan.

Pusat pemerintahan Kecamatan Bayan ada di Desa Anyar. Sementara saya diamanahkan di Desa Senaru, Dusun Pawang Karya. Lokasinya terletak di Jalan Pariwisata Lintas Bayan yang memang menjadi jalur pendakian menuju Pos 2 Gunung Rinjani.

pos koordinasi Gemas

Dusun Pawang Karya

Sebuah lokasi yang mungkin akan membuat orang di luar NTB mengerutkan kening. Daerah itu adanya di mana? Tetapi bagi sebagian pendaki gunung, akan hafal dan mengenal dusun ini dengan baik. Di sinilah lokasi pos koordinasi Gemas berada yaitu Dusun Pawang Karya, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Tenda didirikan di atas bekas rumah yang hancur karena gempa akhir Agustus 2018 lalu.

Musala Nurul Hikmah di Dusun Pawang Karya pun terkena imbas dari gempa. Silakan cek liputan dari Pakde Romadi, founder Gemas di video ini. Saat saya tiba di sana, kegiatan salat dan mengaji sudah bisa dilakukan secara normal dan aktif kembali.

Anak-anak Suku Sasak Bayan

Dusun Pawang Karya dihuni oleh warga yang sebagian besar adalah penduduk asli Lombok dan khususnya Suku Sasak Bayan. Pekerjaan utama penduduknya adalah berladang dan beternak. Sementara untuk anak-anak, bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Baiturrahmah dan Nurul Hikmah. Naik ke arah Senaru, anak-anak di sekitarnya bersekolah di SDN 04 Senaru.

Aktivitas Sukarelawan Gemas di Bayan

Standardnya, seorang sukarelawan mendapat jatah sebulan / 30 hari untuk bertugas di Lombok dan kemudian bergantian dengan sukarelawan lain yang akan bertugas juga selama sebulan. Meski demikian, ada keringanan untuk akhwat yang sudah berkeluarga, bertugas hanya 14 hari / 2 minggu.

Saya hanya bisa menjalankan amanah 5 hari karena ada tugas negara menanti di Bandung sehingga tidak bisa tinggal lebih lama di Pawang Karya.

SDN 4 Senaru yang terdampak gempa

Aktivitas yang dilakukan para sukarelawan Gemas selama berada di lokasi terdampak gempa Lombok adalah koordinasi untuk mendapatkan air dengan assessment pipanisasi dan saluran irigasi, koordinasi rencana pembuatan hunian baru untuk warga setempat, pembangunan musala dan sekolah darurat, serta program trauma healing. Gemas berkoordinasi dan bersinergi dengan lembaga bantuan lain.

Program ke depannya, Gema Masjid akan fokus pada pendidikan berbasis masjid seperti pendirian Rumah Tahfidz Lombok di Kecamatan Bayan.

Selama lima hari bertugas, saya mengajak bermain anak-anak madrasah dan sedikit membantu guru untuk memberikan materi ajar sederhana.

kegiatan siswa dengan fasilitas seadanya

Berinteraksi dengan alam Lombok dan penduduknya yang ramah membuat saya betah. Mereka mengajarkan kepada saya tentang arti berterima kasih pada Allah yang telah memberikan alam indah dan sumber kehidupan alaminya. Makanan yang sehat, minum dari mata air gunung, tidak bergantung pada gawai yang melenakan, jalan kaki ke tempat aktivitas dan menyapa warga sekitar, berbincang dan tertawa sambil ngopi tanpa harus sedikit-sedikit melihat gawai, serta memanjakan mata dengan pemandangan alam yang indah.

jalan sehat ala anak-anak Bayan

Ada PR untuk warga yaitu kebersihan diri dan lingkungan. Bagaimana menjaga kebersihan sebagai manifestasi iman. Penduduk asli di sana jarang atau bahkan tidak pernah tahu sehatnya mandi untuk membersihkan tubuh. Sebagian penduduk yang lain sudah melakukan kebiasaan mandi setiap hari.

Sementara itu… Membuang sampah sembarangan seolah menjadi hal biasa bagi penduduk. Sekali waktu, saya mengajak anak-anak madrasah untuk latihan menyimpan sampah pada tempatnya. Dikumpulkan agar menjadi lebih bersih dan rapi. Tetapi masalah tidak berhenti sampai di situ.

Saya cukup terpana melihat pembakaran sampah (terutama plastik!) yang dilakukan di sana. Setelah pengumpulan sampah, ternyata dibakar. Saya sudah melarang mereka untuk membakar plastik, tetapi apa jawaban yang saya terima? “Biar lebih gampang.” Belum banyak disadar bahaya dari pembakaran sampah plastik oleh masyarakat (bahkan oleh orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan sekali pun). Salah satu jenis zat yang sangat berbahaya dalam kandungan gas sisa pembakaran plastik adalah dioksin yang bersifat karsinogen atau menimbulkan kanker. Bahaya lain dari pembakaran sampah adalah pencemaran udara. Pasalnya, emisi karbondioksida yang dihasilkan akan menipiskan lapisan ozon (sumber: Kompas).

mencontohkan kepada siswa untuk membuang sampah pada tempatnya

Mudah-mudahan, seiring hadirnya Gemas untuk memakmurkan masjid dan musala Lombok Utara seperti sedia kala, kesadaran menjaga kesehatan diri dan lingkungan pun semakin meningkat.

Pembaruan Kondisi di Kecamatan Bayan

Silakan cek tautan Gemas TV untuk menerima informasi terbaru terkait dengan amanah yang dilakukan selama berada di Lombok, khususnya Kecamatan Bayan.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Bapak Dadang di nomor +62 813-8173-9692 dan ikuti Instagram Gemas.

Terkait donasi, Gemas menerima bentuk bantuan untuk kemudian disalurkan ke Desa Senaru Kecamatan Bayan. Silakan untuk transfer ke rekening BSM 7122277857 atas nama Yayasan Gerakan Memakmurkan Masjid.

SIGAP

Sekian dari saya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam penyampaian informasi. Untuk ralat silakan hubungi saya untuk diperbaiki. Terima kasih atas perhatiannya.

Salam.

 

Categories: Journey | Tags: , , , , , | 1 Comment

Cirebon 24 Jam, Musim Mudik 2018

Mendadak ke Cirebon. Again.

Gak niat. Apalagi mikir mudik persis hari lebaran. Duh, udah berapa abad rasanya gak mudik ke / dari Cirebon. Jadi, serius gak kebayang juga akan kembali ke Cirebon di kondisi tak terduga: Hari kedua Idul Fitri. Itulah yang terjadi. Pukul 9 pagi tanggal 16 Juni 2018 dapat kabar duka, pukul 10 galau memutuskan pergi atau gak, pukul 11 mandi, pukul 12 baru pesan kursi travel, pukul 13.30 sudah duduk manis di mobil menuju Cirebon lewat Tol Cipali.

Izin ke #MyA, izin ke tetangga titip rumah, dan nulis catatan untuk krucil, langsung berangkat. Sampe gak sempet mikir harus bawa apaan lagi. Seadanya di daypack pindahin ke carrier, dah.

Sampai pool Sangkuriang Bhinneka di Jalan Pilang Raya, napas bentar sambil ngecas ponsel karena power bank ketinggalan. Iye, namanya juga rusuh pas berangkat.

Pukul 5 sore sampai di rumah duka, stay sampai sekitar pukul 9 malam. Kemudian, inilah bagian yang lumayan horor. Eh, lebay itu mah. Seru, tegang, dan bikin sedikit senewen tapi tetap harus tertawa. Apa coba?

Berdua Bayu, teman saya dari Purwakarta yang sedang mudik ke Indramayu (mbulet), keliling Cirebon (almost literally) mencari penginapan. Hey, hari lebaran kedua, malam Minggu pula. Sudah cukup ngeri ya, salah waktunya? Iya.

Dimulai dari Jalan Rajawali, kemudian menyusuri jalanan sampai ke Cipto, Tentara Pelajar, belok ke mana lagi entah. Gak inget. Pastinya sampai ke Jalan Moh Toha (sambil ngarep kedai bubur lejen di sana sudah buka😂), Samadikun, Jalan Bahagia, kemudian daerah Pecinan yang tak banyak berubah dari dulu, lanjut ke Kesambi, Pangeran Drajat, Ahmad Yani… Serius, ini keliling Cirebon sampai nyaris tengah malam.

Bahkan lewat Jalan Cipto sampai balik tiga atau empat kali. Luar biasa ya senewennya mencari penginapan buat seorang backpacker? Mulai hotel bintang 3 sampai losmen dan guest house. Semuanya menempelkan kertas pengumuman ala kadarnya: KAMAR PENUH / KAMAR FULL / FULL BOOKED. Saya dan Bayu tertawa perih. 😅

Berhubung memang rasanya nyaris mustahil, sambil kami berdua nyeletuk, “Kalau lagi dicari, pasti gak ketemu. Giliran ntar dapet kamar, taunya ada yang better. Ngeselin. Iya.” Ya, benar. It happened. Saya bilang pada Bayu, “Kalau yang terakhir ini gak nemu, aku ngemper aja di Masjid Agung lah. Kagok.” Bayu tertawa.

Akhirnya jalan ke Tentara Pelajar sekali lagi dan belok di sebuah jalan kecil di seberang Grage Mall. Kami menemukan Hotel Nusantara. Saat itu pukul 23.25 WIB. Pikiran sudah letih. Tersisa 1 kamar ekonomi dan 1 kamar standard. Berhubung keesokan paginya juga sudah check out, saya memutuskan ambil kamar ekonomi itu. Letaknya di ujung lorong.

Saya mengiyakan karena sudah lelah mencari. Gak juga. Karena gak enak sama Bayu, tepatnya. Bayar di muka dan simpan KTP, kemudian masuk ke kamar. Saya membereskan tas dan langsung keluar kamar lagi untuk cari makan malam yang kemalaman. Whoah.

Baru saja masuk Jalan K.S. Tubun, kami menemukan satu penginapan lucu yang tampaknya masih kosong. Kami berdua tertawa. “Tuh, kan? Apa dibilang? Giliran gak dicariin, keluar semua deh.” 😆Ya sudahlah ya.

Menu tengah malam

Sega jamblang never fails me.

.

Akhirnya kami istirahat di seberang Pasar Pagi, Jalan Siliwangi. Malam hari, sepanjang emperan toko terdapat beberapa pedagang sega / nasi jamblang. Kami memilih salah satu tongkrongan yang mendapat lampu paling terang. Makan malam seharga Rp23,000.00 berdua itu belum usai.

Pingin ngopi. Tapi di mana, malam mingguan dan hari kedua lebaran? Sulit. Apalagi jelang tengah malam. “Teh, cuman ada di Upnormal ini,” kata Bayu. Saya jawab, “Jauh-jauh dari Bandung, mentoknya ke Upnormal? Di Ujungberung juga ada.” Kami tertawa, tapi akhirnya mencoba ke sana, setelah kedai Ningkene di Tentara Pelajar sudah tutup persis ketika kami ke sana pukul 23.00 WIB.

Energi dan nyawa tinggal 5%. Mari ngopi midnite.

.

Di Upnormal Jalan Cipto, saya bertanya pada petugasnya, tutup jam berapa? Dijawab, “Last order jam 12, tutupnya jam 1, Mbak.” Baiklah, masih ada waktu sekitar 1.5 jam. Sayangnya, kami hanya bisa memesan kopi tanpa makan (padahal masih lapar) karena semua menu makanan sudah dicoret oleh waiter. Pedih.

Tak mengapa. Kami memesan es kopi, ngobrol sebentar. Sementara saya memindahkan media ke GDrive (terima kasih kepada Wi-Fi haratisan 😂) dan keluar dari Upnormal pukul 12.45 WIB. Saatnya kembali ke penginapan.

Gerahnya udara di Cirebon membuat saya tidak bisa tidur dengan baik. Pukul dua dini hari baru bisa memejam dan itu pun hanya tidur ayam karena tak nyaman. Lepek. Bangun pukul 04.30 menjelang subuh. Menunggu bak mandi terisi kembali, kepala saya berdenyut karena kurang tidur. Ditambah dengan kulit yang gatal karena keringat.

Hotel Nusantara tampaknya sedang direnovasi.

Kamar tidur selama 10 jam.

.

Selepas mandi, merapat ke seberang Grage yang lain, yaitu mencari sarapan empal gentong! Yay! Berhubung yagn diincar sudah mengantri panjang, saya memutuskan ke tempat yang tidak penuh. Saya butuh khusyuk sarapan setelah semalaman energi habis tak karuan. Pembenaran, emang.

Empal gentong non kolesterol. Katanya.

.

Bertemu salah satu kawan lama di Pasar Gunung Sari, ngobrol sebentar, kemudian kembali ke penginapan untuk bersiap check out. Lanjutkan perjalanan kembali ke rumah duka di perumnas burung. Di sana saya menghabiskan waktu sampai menjelang asar. Bertemu teman-teman SMA, guru SMA, teman kantor almarhum Mama, dan menikmati sega jamblang lagi.

Persis asar, saya dijemput Bayu lagi untuk merapat ke Jatiwangi Majalengka. Sekalian jalan. Di Plered, kami makan siang kesorean dan saya membeli kerupuk mlarat untuk dibawa ke Bandung.

Kerupuk melarat, camilan hakiki.

.

Di Jatiwangi, silaturrahim sambil ngobrolin pemancingan. Seru juga. Sekalian magrib di sana. Sekitar pukul 7 malam, kami pamit. Bayu mengantarkan saya pulang sampai dapat bus. Tapi nyasar dulu ke Majalengka dan ujungnya ke Kadipaten juga. Yha, pegimane dah.

Sekitar pukul 21.00 WIB, bus Sangkuriang-Bhinneka jurusan Cirebon – Bandung lewat Kadipaten juga. AlhamduliLlah, bisa pulang. Saya pamit pada Bayu yang akan kembali ke Indramayu. Luar biasa perjalanan kali ini.

Tiba di Bunderan Cibiru persis pukul 12.05 WIB. What a journey.

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , | Leave a comment

Berani Mencoba Cokelat Tadulako Khas Palu?

TADULAKO COKELAT : PILIHAN TEPAT BUAT YANG BERANI

Sekilas Tentang Tadulako Cokelat

Tadulako nama seorang pahlawan dari Sulteng yang namanya diabadikan menjadi nama universitas di kota Palu.

Pertama kali buka pada tahun 2012. Tadulako Cokelat adalah Industri Kecil Menengah (IKM) yang lahir karena sang pemilik melihat peluang usaha dari bahan baku cokelat yang melimpah di Kota Palu.

Pada awalnya Tadulako Cokelat adalah produk tiruan dari produk cokelat yang sudah ada di pasaran. Meniru 100%, produk lain ganti kemasan, Tadulako Cokelat pun ikut ganti. Produk lain punya logo, tadulako ikut buat logo. Semuanya tanpa konsep dan strategi yang jelas. Hanya memikirkan yang penting punya produk dan bisa jualan.

Namun ternyata, menjadi follower atau produk me-too, itu sangat melelahkan. Tanpa diferensiasi produk maka sangat sulit untuk bersaing dengan produk sebelumnya yang sudah punya market dan pelanggan. Dari sinilah kemudian, Nadira A. Pallawa sebagai pemilik mulai mencari cara agar Tadulako Cokelat bisa memiliki keunikan tersendiri dan membedakannya dengan produk cokelat lain yang sudah ada.

Untungnya, pada bulan Maret 2017. Nadira Andi Pallawa berkesempatan untuk belajar Bisa Bikin Brand yang diadakan oleh Pak Bi di Kota Palu. Akhirnya Tadulako Cokelat mulai berbenah. Target market mulai dipetakan, produk diperbaiki, dan lain-lain, hingga lahirlah tagline dan positioning baru.

Tagline Tadulako Cokelat

Tagline /Slogan dalam brand canvas terdapat pada urutan 14, artinya untuk bisa mencapai tahapan tersebut tadulako cokelat harus dan telah melewati tahapan-tahapan 1- 13. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa membuat tagline itu memang tidak boleh asal, asal enak didengar, asal enak diucapkan.

Dulu Tadulako cokelat beberapa kali berganti-ganti tagline. Pernah slogannya “find the delight of chocolate”, “Rajanya Cokelat Sulteng”, “Make your days always happy“. Semuanya dibuat secara asal saja, yang penting enak didengar dan enak diucapkan. Alhamdulillah kelelahan itu berakhir seiring dengan selesainya branding canvas Tadulako Cokelat dikerjakan.

Tagline/slogan Tadulako Cokelat saat ini adalah :
” PILIHAN TEPAT BUAT YANG BERANI ”

(narasi di atas diambil dari materi kulgram dengan sedikit penyuntingan)

choco bar

Kulgram dan Kuis

Setelah kulgram (kuliah telegram, karena diadakan di platform Telegram) dari Kak Nadirah selesai, diadakan kuis yang terlihat sederhana tapi menantang kepekaan menulis. Saya merasa tertantang dan akhirnya ikutan menjawab pertanyaan, “Apa positioning Tadulako Cokelat?”

Jawaban saya seperti ini –> Positioning Tadulako : cokelat khas Palu yang pahit membuat penikmatnya menjadi berani bergerak/bertindak.

AlhamduliLlah, jawaban ini menjadikan saya pemenang kuis dan mendapatkan hadiah sepaket Tadulako Colekat. Yaaaaayyy… Saya menerima 4 varian Tadulako Cokelat yaitu : Milk Chocolate with Cheese, Milk Chocolate with Raisins, Chocolate Dates, dan Praline Box dengan aneka isian.

candy box

Berani Memilih dan Menikmati Pilihan

Setelah paket hadiah tiba, yang saya lakukan adalah memilih, mana yang akan dicoba terlebih dahulu? Bahkan anak saya pun memilih.

Si sulung memilih Milk Chocolate with Cheese, sementara si bungsu memilih Milk Chocolate with Raisins (dan ini merupakan prestasi, dia menghabiskan semua anggur keringnya! biasanya pasti dipisahkan dan diberikan kepada orang lain. Saya, memilih Chocolate Dates. Kami sepakat menyimpan Praline Box sebagai kejutan di akhir.

Keju dalam bungkus cokelat yang dipilih si sulung terasa asin gurih khas keju premium. Enak banget. Sementara anggur kering yang dipilih si bungsu pun tidak terasa pahit sehingga dia mau memakannya. Kenikmatan kurma di setiap gigitan cokelat pilihan saya membuat varian ini menjadi favorit.

Untuk Praline Box… Hmmm… Nanti ah. Saya simpan untuk dinikmati di saat yang paling tepat.

choco balls

Memang benar, cokelat adalah mood booster paling tepat untuk saya, terutama. Salah satu makanan dewa dan super food yang menyehatkan. Camilan bikin gemuk? Kuna ah. Coba deh Tadulako Cokelat. Gak bakalan bilang nyesel. Pasti mau lagi. Kelak saya ke kota Palu, Tadulako Cokelat akan menjadi pilihan untuk dibawa pulang ke Bandung.

Salam!

Ikuti Tadulako Cokelat di Instagram Tadulako

Blog sederhananya juga bisa diintip di Tadulako Cokelat

Silakan hubungi WA 081354534745 untuk informasi dan diskon pemesanan.

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Toko Sidodadi dan Roti Legenda

Siapa yang masih suka makan roti untuk sarapan, ngemil, atau teman di kala mengerjakan deadline kerjaan menggunung? Saya! Saya!

Mari ke Jalan Otto Iskandardinata nomor 255, tak jauh dari Alun-alun Bandung dan Pasar Baru. Saya lebih suka berjalan kaki ke Toko Sidodadi ini kalau sengaja ke sana. Arahnya dari halte Alun-alun, turun dari bus Trans Metro Bandung (hampir dari berbagai jurusan, mulai Leuwipanjang, Cicaheum, Kota Baru Parahyangan, dan Cibeureum).

Temukan sebuah toko kecil (dan semakin sempit berjejalan ketika para pembeli dan pelanggan mampir ke sana) yang mulai dibuka tahun 1954 dengan plang bertuliskan warna merah: Toko Sidodadi. Silakan tanya warga Bandung tempo doeloe, siapa sih yang gak kenal dengan toko ini?

Toko Sidodadi

Mau tau apa keunikan Roti Sidodadi yang legendaris ini? Cara memasaknya memakai arang sebagai bahan bakar, makanya aroma yang menguar dan menggoda indera penciuman itu menjadi khas. Istimewanya lagi, selain manual dengan tenaga tangan karyawannya, Roti Sidodadi sama sekali gak pakai pengawet, jadi ya gak akan tahan lama.

Eh, emang bener, gak tahan lama. Baru masuk display juga udah abis aja lagi.

Pembeli roti Sidodadi (yang pakai tas biru itu teman saya)

.

Tak pernah sepi pembeli. Terlambat sedikit, roti incaran habis diborong orang lain. Bahkan, ketika saya dan teman ke sana tanggal 29 Maret 2018 lalu, satu buah roti keju menjadi rebutan. Seru, kan? Jadi bener kan ya, Roti Sidodadi emang gak pernah awet. Kesel, kan? Telat dikit, bye bye roti Frans Keju favoritnya akoohhh…. *drama dimulai.

Roti Sidodadi habis

Roti-roti kecil cepat habis. Tersisa jenis Frans Cokelat yang memang disediakan banyak stoknya. Kalau beruntung, dapatkan roti yang hangat pada pagi hari ketika toko baru buka atau sore sekitar pukul 4 sore. Roti krenten (kismis), pisang, sarikaya, strawberry, smoked beef, sosi, atau kacang memiliki penggemarnya sendiri. Kamu gak akan pernah dikecewakan oleh rasanya, apapun pilihanmu. Serius.

Harga Roti Sidodadi

Setidaknya harga tercantum ini adalah yang terbaru di sana saat saya berkunjung tanggal 29 Maret 2018 sehabis berkegiatan di Masjid Raya Jawa Barat. Tapi harga ini sama sekali bukan masalah bagi para penikmat roti. Temani dengan segelas kopi atau teh panas pahit, nikmati sebuah rasa yang akan terus tinggal di hatimu.

bungkus plastik roti

Kamu akan merasa terseret ke masa lalu sejenak ketika menerima pembungkus rotinya yang beneran desain jadul. (((Jadilah peserta KB lestari))) <— ini iklan zaman dulu sampai sekitar awal 1990an. Anak zaman now dijamin bingung deh.

Toko Sidodadi juga menyediakan aneka kue basah / jajanan pasar khas Bandung, loh. Jadi, sekali jalan, kamu bisa dapatkan camilan pilihan. Lumayan buat teman sepanjang perjalanan pulang ke kotamu, kan?

 

 

TOKO SIDODADI

Jl. Otto Iskandardinata (Otista) No. 255

Google Map

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Wedang Uwuh Bantul Jogja

Berbicara minuman khas daerah di Indonesia, sepertinya tak akan cukup waktu seminggu. Dari ujung Aceh hingga ujung Papua, akan mendapati banyak minuman istimewa yang memperkaya khazanah kuliner Indonesia. Salah satunya, wedang uwuh Bantul Jogjakarta.

Wedang uwuh Bantul

Wedang Uwuh

Jadi gini, dalam bahasa Jawa, uwuh artinya sampah. Maka, wedang uwuh adalah wedang sampah. Wedang uwuh ini terbuat dari berbagai jenis herba seperti jahe, secang, kayu manis, sereh, daun jeruk, dan dedaunan lain tergantung siapa yang meraciknya. Saat diseduh, sisa ampas atau bahan-bahan minuman ini nampak seperti sampah. Warna air seduhannya pinky gitu. Kayak sirop favorit saya. Hihihi. Warna ini asalnya dari serutan secang.

Efek baca tulisannya Dipa tentang aktivitas para ibu PKK di Pager Gunung Jogjakarta, saya penasaran dengan aneka jamu yang ada dalam artikel tersebut. Ditambah japrian Dipa via Instagram, makin semangat untuk mencoba wedang uwuh tersebut.

Ada lebih dari 5 macam rempah dalam satu resep / satu porsi sajian wedang uwuh. Tetapi ada juga yang sampai menambahkan sekitar 7-10 macam rempah. Semakin lengkap, semakin sehat dan unik rasanya. Mungkin. Hahaha belum coba yang versi banyak rempah.

Rasa manis pedasnya ini lho yang unik. Kalau sedang musim hujan, rasanya sudah pas banget deh menyeduh wedang uwuh. Ketika musim kemarau, tinggal tambahin es batu dan susu cair. Kebayang enak dan segarnya?

wedang uwuh produksi ukm bantul

Pelestarian Kuliner Sehat

Bicara kuliner gak melulu soal makanan (apalagi saya tukang makan, hihihi), karena pastinya akan menyebut minuman sebagai pendamping. Seperti saya di Bandung selalu minum bandrek atau bajigur, atau ketika ke kampung Bapak di Madura pasti disuguhi air cengkeh. (apa ya namanya, pokoknya air putih biasa tapi dikasih daun cengkeh, jadinya berasa nyes di tenggorokan. trus saya ngebayangin ngerokok gitu ya? ih, saya mah gitu). Pokoknya minuman biasa, bukan yang Kobbhu’, yak. Beda banget.

Nah, cengkeh yang saya ributin itu ternyata memiliki khasiat mengatasi sakit gigi, sinusitis, mual dan muntah, kembung, radang lambung, rematik, campak, dan lainnya.

Wedang uwuh ini konon diracik oleh abdi dalem keraton yang sedang mengumpulkan dedaunan yang tampak tidak bermanfaat itu. Padahal, salah satu bahan wedang uwuh itu adalah pala yang memiliki kandungan berupa saponin, flavonoid, dan polifenol yang sangat bermanfaat untuk melancarkan menstruasi, melancarkan sistem pencernaan, menghilangkan nyeri, meredakan perut mulas, mengatasi penyakit lambung, serta melancarkan sirkulasi darah. Keren kan, ‘sampah’ ini?

Belum lagi secang, biang pembuat warna pinky yang menggoda itu ternyata bermanfaat untuk mengatasi berbagai jenis penyakit seperti batuk darah, sifilis, dan peradangan. Wow! Eh, tambahan lagi, kayu secang juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh, sebagai antioksidan, antikanker, dan melegakan pernafasan. Sehat itu murah ternyata ya.

Apalagi ngomongin jahenya. Sehatnya pasti, kan? Menghangatkan tubuh, mencegah masuk angin, plus menurunkan kolesterol. Plus berikutnya? Mengendalikan tekanan darah tinggi.

Pelengkap yang membuat wedang uwuh menjadi semakin nikmat adalah kehadiran gula batu. Iya, gula batu. Jadilah sebuah minuman manis, enak, hangat, dan sehat. Jangan pakai gula pasir ya? Iya, nurut aja.

bahan wedang uwuh

Cara Membuat Wedang Uwuh

Tergantung seperti apa wedang uwuh yang dipakai. Ada yang asli berbentuk ‘sampah’ dedaunan, biji, dan kayu. Ada pula dalam bentuk teh celup. Bahkan ada yang sudah berbentuk bubuk instan.

Saya memilih yang murni. *halah…

Maksudnya, saya memilih yang masih berupa rempah utuh tetapi cepat saji, tanpa perlu direbus. Seperti kemasan yang saya dapatkan dari Dipa ini, saya hanya memerlukan waktu 2 menit untuk menyajikannya (karena nungguin air mendidih).

Satu bungkus wedang ditaruh di dalam mug (biar puas minumnya). Masukkan gula batu. Jahenya digeprek supaya lebih endeus aromanya. Tuang air panas (saya pilih mendidih) dan diamkan sekitar 5 menit (gelasnya ditutup).

Siap diminum deh! Sebaiknya jangan diminum sendirian. Anyep. Mending sama pasangan. Supaya bisa saling menghangatkan. Heuheu.

Selamat menikmati wedang uwuh ya. Bisa dipesan di beberapa marketplace langganan loh. Atau, bisa langsung pesan ke Dipa di nomor 0856 2921 871 (sekalian kalau ada yang mau pesan rempah lainnya juga). Selamat melestarikan kuliner khas Jogja dan merasakan khasiatnya dalam tubuh. Serius, sehat itu ternyata murah. Sakit yang mahal.

Salam!

Categories: Journey | Tags: , , | 3 Comments

Tibera Hotel Cibeunying Bandung, Keheningan di Tengah Kota

Petualangan sederhana dimulai ketika sahabat saya mendadak memberitahukan bahwa ada sejumlah tenggat artikel yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam. Berhubung dia juga ingin meeting dengan saya di hari Ahad pagi, akhirnya dia memutuskan untuk memberi akomodasi agar saya bisa fokus menulis.

Menyenangkan adalah ketika saya diminta memilih sendiri akan menginap di mana. Bagian menyebalkannya adalah pada akhir pekan, awal bulan, di Bandung adalah perpaduan sempurna sulitnya menemukan budget hotel di tengah kota. Terutama di daerah Jalan L.L.R.E Martadinata alias Jalan Riau.

Mencari Penginapan Last Minutes

Tibera Hotel Cibeunying

Semua kamar Tibera Hotel menghadap taman

Dari sekian banyak tawaran penyedia informasi penginapan di ranah maya seperti Agoda, booking.com, pegipegi, airyrooms, dan Traveloka, akhirnya yang terakhir menjadi pilihan. Saya pilih bertransaksi dari situsnya melaluo laptop, bukan aplikasi supaya lebih cepat mencari.

Banyak diskon bertebaran. Tetapi karena dana tak banyak, pilihan penginapan di harga 600 ribuan ke atas tentu tak masuk incaran. Apalagi yang harganya sejutaan. Bukan gaya saya pun kalau mencari hotel mewah.

Saya tidak terpikirkan untuk mencari lokasi khusus. Sahabat saya hanya bilang, “Cari aja daerah Riau.”

Tibera Hotel Cibeunying

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Pemandangan dari teras kamar pojok

Pencarian berhenti di Tibera Hotel. Lokasinya di Cibeunying Selatan. Saya pikir, mungkin dekat Selaras Guest House dan Taman Cibeunying Selatan, ternyata ada di sisi dekat Jalan Bengawan. Jauh aja. Dari depan, hotel bintang dua ini tampak tidak mencolok, tetapi kesan teduh langsung terasa.

Oh ya, selain di Cibeunying Selatan, Tibera Hotel juga ada di Ciumbuleuit. Bisa jadi pilihan bagi yang ingin berwisata ke arah Punclut atau Setiabudhi.

Pada tanggal 4 November 2017, saya mendapatkan harga satu kamar Deluxe Twin dengan sarapan untuk dua orang seharga kurang dari Rp500.000,- Lumayan untuk penawaran last minutes yang tak banyak pilihan. Awalnya saya rada bete dapat kamar di belakang. Ternyata itu keuntungan untuk saya…

Satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah, lokasinya dekat pembuangan sampah. Sehingga, ketika saya datang dan melakukan check-in, aroma semerbak itu lumayan mengganggu. Untungnya, kamar saya ada di belakang, sehingga gangguan itu bisa berkurang.

Malam hari setelah saya dan anak-anak bermalam mingguan (hasek, ceritanya gituh!), saya menikmati suguhan teh di meja dekat front desk. Sayangnya sudah dingin. Tetapi rasanya seperti ada herbal, entah apa. Wangi.

Kamar Tibera Hotel

Tibera Hotel Cibeunying

Kamar Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Mari masuk ke kamar. Dua tempat tidur standard ini mengapit satu nakas di tengah. Ada pintu yang bisa dibuka untuk menikmati suasana taman. Ada AC split yang akhirnya tidak saya gunakan karena udara juga sudah cukup dingin.

Di meja yang luas untuk bekerja ada lampu baca dan daftar menu. Di lemari ada dua gantungan baju. Ternyata hanya disediakan dua botol air mineral ukuran @ 330ml. Tanpa termos, kopi, dan teh yang sempat saya bayangkan. Euh, baiklah. Tapi mereka menyediakan dua bungkus kecil camilan (yang tak sempat saya lihat itu apa karena langsung diembat oleh anak-anak).

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Wastafel Kamar Tibera Hotel Cibeunying

Kamar mandinya standard. Perlengkapan mandi ada dua handuk, pasta gigi, sikat gigi, sabun, dan sampo. Aliran air dari shower air panas cukup lancar.

Disediakan dua slippers yang ada di bawah tempat penyimpanan tas.

Sumber listrik disediakan di dua tempat: dinding dekat pintu menghadap taman dan di kaca lemari. Di dekat kasur malah tidak tersedia.

Fasilitas Tibera Hotel

Tibera Hotel Bandung

Sudut bermain dan santai Tibera Hotel Cibeunying

Bagaimana dengan hotel secara keseluruhan? Ada pojok bermain untuk anak, ternyata. Di tempat yang sama, lumayan lah ya, bisa buat selfie dan pamer di Instagram. Meski menurut saya sih gak terlalu Instagrammable amat.

Disediakan beberapa mainan untuk tamu yang membawa bayi dan balita. Ada tempat nongkrong buat merokok, karena dilarang keras merokok di dalam kamar atau bahkan di teras kamar. Dendanya lumayan lho. Tetapi saat pagi hari, saya mendapati ada satu tamu di lantai 2 sedang merokok di teras. Ah, sudahlah ya.

Ada coffee corner. Nggak sempat nyobain kopinya. Lain kali, mungkin.

Tibera Hotel Bandung

Restoran Tibera Hotel Cibeunying

Menu di restorannya? Oke, ketika saya mencoba sarapan di sini, saya mau kasih nilai 8/10 deh. Lumayan enak nasi kuning dan tempe kuningnya. Sayangnya, untuk semur ayam agak terlalu keasinan untuk lidah saya. Bubur sumsumnya enak, gurihnya pas. Tersedia roti tawar dan corn flakes juga. Jus jeruknya terlalu manis. Buahnya tersedia semangka saat saya sarapan. Tidak saya ambil karena bukan buah favorit keluarga. Saya dan anak-anak lebih suka melon dan pepaya, if any.

Omong-omong soal kecepatan WiFi di sini… Hmmmm… 6/10. Saya tes untuk unduh film (ups…), dari pukul 8 malam hingga 11 malam hanya berhasil unduh 1 film kartun sebesar 600 MB. Paginya, saya baru berhasil unduh 1 film kartun lagi dari pukul 6 hingga 8 sebesar 700 MB. Dibandingkan dengan WiFi di hotel lain yang pernah saya singgahi, dalam 4 jam bisa unduh 5 film, rasanya cukup bikin manyun.

Pekerjaan saya pun sempat sulit disimpan karena loading lumayan. Saya akan berpikir dua kali untuk menginap kembali di sini jika tujuannya untuk bekerja. Hahahahaha…

Untuk “melarikan diri” dari kesibukan sepanjang minggu, menghabiskan waktu sendirian atau berdua pasangan di sini bolehlah direkomendasikan. Hening, sepi, tenang, dan nyaman. Serius. (*lirik #MyA)

Sebagai salah satu penginapan murah di Bandung, Tibera Hotel ini bisa menjadi surga kecil bagi mereka yang tidak memusingkan kecepatan internet dan pilihan saluran hiburan televisi. Pilih kamar, ambil buku favorit, matikan koneksi internet, dan nikmati akhir pekan.

Sekitar Tibera Hotel Cibeunying

Kalau senang berjalan kaki, di sekitar Tibera Hotel Cibeunying, Anda bisa sampai ke tempat gaulnya anak muda Bandung dengan mudah. Bisa pilih Kopi Anjis di Jalan Bengawan yang jaraknya tidak sampai 1 kilometer. Anda bisa juga ke Warunk Upnormal Jalan Riau mau masuk ke Jalan Aceh, memintas dari Jalan Serayu. Di sini ada Bakso Tahu dan Cuankie Serayu yang beken itu lho. Keluar Jalan Riau, seberang sebelah kanan ada Nasi Kalong. Sebelum sampai ke Upnormal, Anda menemukan Marugame Udon. Dekat Upnormal, ada Pizza Hut. Masa iya, jauh-jauh ke Bandung hanya mampir di Pizza Hut?

Masih tak jauh dari Kopi Anjis, ada tenda sate ayam di pinggir jalan, dekat lampu merah. Etapi lupa di jalan apa ya itu, soalnya lihatnya pas malam, gerimis pula. Nggak ngeh di mana. Pecinta kuliner sejati pasti bakalan nemu, kok.

Mau ke taman? Ada Pet Park, bagi yang suka membawa hewan peliharaannya bermain di ruang publik.

Mampirlah ke Masjid Al-Lathiif di Jalan Saninten, bisa tembus dari Jalan Bengawan. Masjid tempat lahirnya komunitas Pemuda Hijrah (SHIFT) dengan Ustaz Hanan Attaki sebagai komandannya. Tak jauh dari masjid, ada tempat nongkrong ngopi asyik, namanya KOPWEH. Coba ya.
TIBERA HOTEL CIBEUNYING
Alamat: Jl. Taman Cibeunying Selatan No.7, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114
Telepon: +62 22 7100236
Instagram: TiberaHotel

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , | Leave a comment

Wanitaku

(Tulisan Adis / Takdos )

Journey and adventure

Via IG @mindsetofgreatness

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih suka ngeribetin beli tiket ke mana, daripada beli baju kayak gimana. 

Wanitaku nanti, harus dia yang galauin ketinggalan sale tiket pesawat daripada sale sepatu branded.

Wanitaku nanti, harus dia yang matanya sering kelilipan debu pas hiking, daripada kelilipan gara-gara kecolok pensil alis. 

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih senang menghabiskan waktu di pantai, daripada buang waktu di mall. 

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih suka ngegendong ranselnya, daripada ngejinjing tas bermerknya. 

Wanitaku nanti, harus dia yang seneng pamer fotonya lagi traveling, daripada foto selfienya di kamar mandi, bangun tidur, mau tidur, abis make up, mau makan, selesai makan, disolatin, dikafanin. 

Wanitaku nanti, harus dia yang berani coba makan makanan baru, daripada ngeribetin urusan dietnya. 

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih seneng ngabisin uangnya buat beli perlengkapan traveling, daripada buat beli kosmetik. Anyway, kamu akan terlihat cantik dari personality-mu, bukan dandananmu. 

Wanitaku nanti, mungkin kamu?

————–

Bagian “disolatin, dikafanin” emang khas Adis banget lah itu.😂 Harap maklum.

Jadi, wahai cewek traveler, mau jadi pasangannya Adis? Sampe tulisan ini aku copas, desye masih single fighter.

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Traveling Bareng Pasangan Sebelum Menikah

Sudah baca tentang pasangan hobi traveling lebih bahagia? Nah, kalau belum menikah, kayaknya hal paling mudah untuk ‘uji nyali’ ketangguhan hubungan kalian adalah dengan traveling deh. Gak percaya? Mengintip artikel tentang keharusan traveling sebelum menikah, gak ada salahnya direncanakan lho. Serius!

Nih, saya salin ulang tulisan dari artikel aslinya di sini yah, dengan sedikit suntingan tanpa mengubah isinya.

1. Dengan traveling bersama kalian dapat mengenali kekurangan dan kelebihan masing-masing

Bermain-main di pantai bersama

Bermain-main di Pantai bersama (source photo)

Mengenali kekurangan dan kelebihan masing-masing adalah hal yang sangat penting diketahui jika ingin hubungan berlabuh di pelaminan. Karena hal ini akan sangat berpengaruh di dalam kehidupan berumah tangga nantinya. Oleh sebab itu, menciptakan rencana perjalanan bersama merupakan cara yang sangat jitu untuk dapat mengetahui sifat pasangat secara jujur.

Jika selama ini kalian dan pasangan hanya saling mengenal hal-hal baiknya saja, dengan traveling bersama kalian akan melihat seluruh sifat baik kekurangan maupun kelebihan pasanganmu. Apakah si dia bisa menjadi pemimpin yang baik? Atau apakah ada yang ditakuti pasanganmu? Semua tentu akan terlihat jelas jika kalian melakukan perjalanan bersama.

2. Dengan traveling kalian akan dilatih untuk saling bermusyawarah bersama

Memilih keputusan secara bersama, adalah hal yang akan sering ditemui dalam kehidupan berumah tangga nantinya. Sebagai pasangan suami istri, kalian dituntut untuk dapat membuat keputusan berdua secara adil dan solutif. Tidak boleh lagi ada keegoisan dari salah satu pasangan, kalian harus kompak dan mau menghadapi resikonya berdua. Ketika kalian melakukan perjalanan, tentu dapat melatih hal penting semacam ini.

Seperti pemilihan tujuan yang ingin dikunjungi, menggunakan kendaraan apa hingga perhitungan budget yang dikeluarkan. Sehingga keputusan yang dipilih bukan hanya dari satu kepala saja melainkan hasil dari keputusan bersama, berlatih kompak sebelum menikah tentu penting dong?

3. Dengan traveling bersama, kalian akan tahu komitmen si dia dalam menjaga kehormatan

Menikmati waktu bersama

Menikmati waktu bersama (source photo)

Dengan melakukan traveling bersama kalian tentu akan banyak memiliki waktu bersama, dan dari situasi tersebut tentu dapat menimbulkan risiko yang harus dihindari. Misalnya karena terus bersama kalian berdua menjadi terbawa suasana. Namun disinilah saatnya kalian untuk menilai pasanganmu, kalian dapat mengecek sejauh apa kamu dan pasangan bisa menjaga komitmen untuk berpegang pada nilai yang kalian punya.

Jika selama perjalanan pasanganmu tetap menjaga dan setia pada kesepakatan untuk tidak berbuat kotor, itu adalah salah satu pertanda bahwa si dia adalah pasangan yang bisa dipercaya. Sebaliknya, Jika pasanganmu justu berusaha merayu dan mencari-cari kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak kalian mau, mungkin kalian harus memikirkan ulang apakah si dia adalah orang yang tepat untuk menjadi teman seumur hidup.

4. Dengan traveling bersama kalian akan tahu, seberapa protektifkah ia dalam menjagamu

Jika dalam hubungan berpacaran pasanganmu terlihat begitu perhatian dan menjagamu lewat telepon genggam, itu belum bisa dibuktikan sebelum kalian melakukan perjalanan bersama. Karena sikap itu akan dapat terlihat jelas ketika kalian sedang traveling bersama.

Misalnya tidak mengizinkan pasangan perempuannya untuk mengendarai sepeda motor, meskipun pasangan lelaki sudah cukup lelah berkendara, atau memberikan bantuan ketika pasangan membutuhkan uluran tangan ketika mendaki. Jika kepedulian pasanganmu sangat tinggi, itu artinya pasangan kalian dapat menjagamu secara nyata.

5. Dengan traveling bersama kalian akan tahu, bisakah ia hidup susah dan melepas zona nyamannya

menjadi pasangan romantis

menjadi pasangan romantis (source photo)

Meski traveling masih sering dianggap sebagai kegiatan bersenang-senang, nyatanya tidak semua orang berani keluar dari zona nyamannya untuk pergi berpetualang. Banyak orang yang masih memiliki ketakutan seperti takut ditipu ataupun tersasar, berbeda dengan sosok seorang petualang yang berani dalam menghadapi risiko apapun di depannya.

Dengan traveling bersama pasanganmu, kalian tentu dapat melihat dengan jelas, seberapa beranikah pasanganmu untuk menantang diri sendiri dan pergi mencari pengalaman dengan melepas zona nyaman yang sudah dimilikinya. Jika pasanganmu berani melakukannya itu adalah sebuah pertanda bahwa dia layak untuk dipertahankan. Kemauan dan kemampuannya berpetualang menjadi bukti ketangguhan sikapnya. Karena sikap tangguh seperti ini akan sangat diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga nantinya.

6. Mengetahui kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dan tantangan

Menghadapi berbagai tantangan dalam sebuah perjalanan adalah hal yang biasa terjadi. Seperti misalnya dipertemukan dengan orang yang berniat jahat dan hendak melakukan penipuan. Atau mungkin halangan dalam hal cuaca yang buruk, sehingga tempat yang kalian ingin kunjungi tidak dapat dilewati.

Dari sana kalian akan dapat melihat, bagaimanakah insting pasanganmu dalam menghadapi masalah tersebut. Karakter pasanganmu akan terlihat jelas dan dapat kamu kenali lebih dalam. Keputusan seperti apa yang diambil dalam saat mengatasi kesulitan adalah gambaran bagaimana dia akan bersikap di kehidupan pernikahan nantinya.

7. Dengan traveling bersama kalian akan memiliki kenangan tak terlupakan

Jika selama ini momen kencan kalian dengan si dia se-mainstream di kafe, bioskop, atau kampus saja, itu pertanda bahwa kalian harus segera menciptakan kenangan bersama yang tidak terlupakan. Menjelajah pantai-pantai tersembunyi, gunung-gunung nan indah, atau pergi ke museum kota bisa jadi membuat hubungan semakin langgeng.

Memori-memori indah tersebut bisa menjadi kenangan yang nantinya dapat diingat ketika kalian berdua menikah nantinya. Momen-momen yang diabadikan pun dapat menjadi koleksi menarik di hari tua. Mungkin saja ketika sudah berstatus suami istri nantinya kalian dapat mengulang perjalanan tersebut dengan semangat yang berbeda.

Jadi, sudahkah si dia layak untuk diajak melangkah bersama seumur hidupmu? Coba ajak traveling bareng dulu deh! 😆

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.