The First, The Unpredictable

Perjalanan pertama aku, Umar, dan Salman adalah ke Sukabumi sama sekali tidak diprediksikan maju secepat ini. Tadinya rencana tanggal 8/9 Maret, lah malah maju tanggal 2 Maret. πŸ˜€

Diawali tanggal 1 Maret pagi, aku nyeletuk pada Umar dan Salman, “Kita ke Sukabumi yuk? Jalan-jalan, mau gak?” Mereka antusias banget! Dan aku mulai menghubungi Teh Lela Herlambang dan Popi “Ojon” Gunawan untuk janjian bertemu.

Tanggal 2, kami pergi ke Riau Junction dulu karena ada acara Wacoal ReShape hingga pukul empat sore. Kemudian ke terminal Leuwi Panjang dan menunggu sekitar 10 menit bus MGI jurusan Bandung-Sukabumi. Beuh itu yang rebutan tempat duduk! Kami bertiga menempati baris terakhir paling belakang dekat smoking area. Bus berangkat pukul enam sore. Pokoknya keangkut deh! πŸ˜†

stiker ini ada di jendela tempat duduk paling belakang +_+

stiker ini ada di jendela tempat duduk paling belakang +_+

Dengan harga tiket yang murah ( @Rp21.000,00 ), kami menikmati perjalanan. Macet total. Sepanjang jalan, asli deh aku norak banget. Celingukan kanan kiri dan bertanya dalam hati, “Sudah sampai mana sih ini?” Karena kalau ke Sukabumi selalu jalur dari Bogor-Ciawi, dan sama sekali belum pernah lewat jalur Padalarang – Cianjur. Iye dah ah, aku turis lokal πŸ˜€

Sampai di terminal Sukabumi pukul 10 malam, menunggu si Ojon hampir 30 menit karena BlackBerry aku modyar keabisan baterai dan Android pun tak bisa menerima telepon karena jaringan CDMA tak berfungsi. Hanya bisa menangkap 3G dan akhirnya komunikasi via DM twitter. Baterai Android pun sudah sekarat πŸ˜€ Kacau deh!

Ojon tiba dan menemukan Umar & Salman yang nyengir sebal karena kelelahan. Akhirnya kami ke arah jalan Ahmad Yani untuk makan (ke)malam(an). Ojon juga membeli 2 kotak besar martabak rasa keju dan cokelat. Hyah, dia dipalak krucil πŸ˜† Hanya saja sebelnya, aku belum benar-benar beranjak dari meja nomor 3, itu para karyawan tempat makannya udah beresin mejaku dengan santainya. Bahkan air jeruk yang belum habis kuminum sudah berpindah ke nampan. Koplak!

ayam bakarnya gak sempet difoto, jadi nota kosong aja :D

ayam bakarnya gak sempet difoto, jadi nota kosong aja πŸ˜€

martabak yang gurih dan enak ini namanya BANDUNG :D

martabak yang gurih dan enak ini namanya BANDUNG πŸ˜€

Awalnya rencana kami akan menginap di Sukabumi Indah, tapi ternyata penuh. Lah ya aku kaget, kirain Ojon sudah pesan tempat. Dodol kan? Keliling Sukabumi, menemukan 4 penginapan lain yang juga penuh. Aku dan krucil sudah mulai kelelahan sangat. Aku sendiri seperti mau pingsan nih duduk di motornya Ojon.

Akhirnya melewati daerah Cisaat kemudian Cibadak. Menemukan Hotel Rafflesia dan mendapatkan kamar TERAKHIR. Alhamdulillah banget sih. Sudah tak peduli berapa harga kamar, yang ternyata 2x lipat dari prediksi awal. Bujetku 50-100rb, malam itu mendapatkan kamar seharga Rp197,500. Tjakeup dah! Ya sudah gak papa deh! Yang penting anak-anak istirahat. Karena pikiran awalku, kalau sampai gak dapat juga, ya cari masjid terdekat. Hanya saja ironisnya, beberapa masjid yang kami lewati, tak satu pun yang gerbangnya dibuka. Pintu masjidnya sendiri ditutup rapat. Heran deh. Kalau ada yang mau shalat tahajud, gimana? Kalau ada musafir, gimana? Pengurus masjidnya aneh.

rafflesia plang

ini lho hotelnya. padahal di sebelahnya juga ada hotel lain. tapi full…. 😦

Sebenarnya sih kalau mau mengkritisi masjid yang digembok rapat itu, ternyata alasannya hanya satu: takut kemalingan. Lah? Maling apaan? Mukena? Sajadah? Sarung? Quran? So what gitu lho? Pernah gak sih kepikiran kalau yang dikatakan “maling” itu sebenarnya butuh alat shalat tapi gak punya uang? Atau ada hak dhuafa yang belum tersalurkan oleh pihak masjid hingga akhirnya diminta oleh Allah dengan cara demikian? Malam itu aku sama sekali geregetan pada masjid-masjid angkuh itu. Sorry to say...

Di kamar nomer 10 Hotel Rafflesia, banyak sekali yang kurang dan harus dikritik. Untuk ukuran kelas ekonomi dengan harga segitu mahal , aku menemukan hal-hal yang mengejutkan:

1. 5 ekor kecoa!!

2. Stop kontak listrik & telepon yang kendur.

serem gak sih?

serem gak sih?

gak yakin berfungsi. gak kucobain juga sih.

gak yakin berfungsi. gak kucobain juga sih.

3. Toilet yang gak berfungsi dengan baik.

4. Bau apek seisi ruangan.

5. Tidak ada keset.

6. Selimut yang baunya seperti tidak diganti tiga bulan.

7. Β Sarapan dengan rasa yang biasa banget.

sarapan rafflesia

ini sarapannya. standar banget. dan ketika dihidangkan sampe kamar dalam keadaan sudah dingin >_<

Asal tau aja, untuk standar rasa makanan itu enak, aku percaya pada lidah Salman. Kalau makanan itu dia bilang enak. kenyataannya memang demikian. Kalau dia hanya mau 5 sendok dan gak dihabiskan, well… nuff said πŸ™‚ Jadi, tau dong ya, makanan gak dihabiskan Salman, jadi gimana rasanya? πŸ˜›

Tapi…. Meski kecewa dengan kamar nomer 10 itu, at least kolam renangnya bisa membuat Umar dan Salman heboh berenang selama…. 1 jam >_< Ampun deh! Pemandangan sekitar hotel juga termasuk indah dan menyenangkan. Terbayar lah rasa sedih dan jengkelnya.

pemandangan dari kamar, ketika buka pintu. segarnya menenangkan ^_^

pemandangan dari kamar, ketika buka pintu. segarnya menenangkan ^_^

ini kolam renangnya sedang dibersihkan sebelum dimanfaatkan oleh Umar dan Salman. :)

ini kolam renangnya sedang dibersihkan sebelum dimanfaatkan oleh Umar dan Salman. πŸ™‚

peringatan renang yang terdapat tak jauh dari kolam.

peringatan renang yang terdapat tak jauh dari kolam.

Seharusnya sih hari Minggu tuh kami ketemu dengan Teh Lela Herlambang (@thesali4) tapi karena beliau dan anak-anak masih dalam perjalanan dan aku juga harus ke Depok untuk melayat, jadilah dengan tergesa kami harus balik arah. Benar-benar unpredictable kan kalau begini urusannya?

Gagal kuliner dan keliling kota Sukabumi agak bikin kecewa juga. Tapi ya karena gak ada yang bisa diprediksi, mungkin akan diulang lain waktu. Semoga saja kan?

Akhirnya aku dan anak-anak diantar oleh Ojon mencegat miniarta MGI jurusan Sukabumi – Depok. Mencegat? Yes! Gak salah baca kok! Karena miniarta itu cukup ditunggu di seberang hotel. Tapi karena teriknya sinar matahari pukul sepuluh itu agak menyebalkan, terpaksa mencari sampai agak jauh (sekitar 10 kilometer dari hotel ke arah Sukabumi kota).

Dan, dapatlah kami miniarta yang masih lumayan kosong. Iya, mencegatnya setelah mengejar sekitar 10 meter. Seru amat! πŸ˜€ Alhamdulillah mendapat kursi di belakang supir. Girangnya anak-anak πŸ™‚ Kami pun melanjutkan perjalanan ke Depok. Sepanjang jalan, banyak juga lho yang naik sampai penuh. Di Ciawi, supirnya istirahat untuk merokok. πŸ˜€ Yeah, ada peraturan dalam stiker bahwa supir, kenek, atau penumpang gak boleh merokok dalam bus. Jadi, supirnya turun dulu buat “bernafas”. Hehehe… Juga untuk mengangkut penumpang.

Di daerah Cibinong kami disambut hujan deras sampai ke terminal Depok. Hadeeeeeeehhhhhhhh…… Itu sekitar pukul tiga sore. Umar dan Salman langsung napak tilas ke Masjid tempat mereka ikutan TPA setahun lalu πŸ™‚ Kemudian mereka bertemu Raffa dan Rasyad. Senangnya bermain bersama.

Kami terpaksa tidak pamit lagi pada keluarga Sagala (kami melayat anak sulungnya yang meninggal: Arnold Posma Sagala) karena mengejar bus ke Bandung yang berangkat pukul enam sore. Karena kemacetan luar biasa, kami tiba di terminal bus pukul 18.10 WIB dan artinya kami terlambat!!! Terpaksa menunggu hampir 90 menit untuk bus terakhir (jadwal pukul 19.00 WIB berangkat tapi nyatanya 19.20 WIB baru start.) Badanku yang super ringsek (halah banget) tapi melihat anak-anak masih semangat meski mata mereka pada merah, yaaaa menemani mereka lah dulu untuk ngobrol. Oia, kami dapat duduk di belakang supir. Sampai di Lenteng Agung, banyak yang terpaksa duduk di pintu atau berdiri karena kepenuhan. Sementara itu adalah bus terakhir.

Saking lelahnya, aku mengaktifkan nada getar tanpa suara pada kedua ponsel dan tidur dengan sukses bersama kedua krucil. Aku terbangun ketika plang di jalan tol sudah menunjukkan “Pasir Koja – Leuwi Panjang.” GUBRAK!!! Sepanjang 3 jam perjalanan kami tertidur kayak pingsan πŸ˜†

Akhir perjalanan yang cukup seru dan melelahkan. Tapi anak-anak puas. Sempat batuk-batuk sih. Yaaa, itu karena sebanyakan menghirup polusi udara sih. Well, at least aku bisa melatih fisik mereka perlahan untuk melakukan perjalanan jauh berikutnya. Gak boleh manja!

Caiyoooo!!!

~ An, Umar, Salman ~

Advertisements
Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: