When Everything Went Wrong

Once again, we did something bad. Euh, well… Just because I couldn’t think anything anymore. When I wrote this post, I already smiled and felt so stupid. *grin*

homer-simpson-doh1

Aku ingat ketika S marah karena aku seperti memaksakan diri untuk pergi ke Jakarta. Sebelum dia telanjur ngomel lebih panjang lagi, kujelaskan bahwa kehadiranku di Jakarta karena dua hal: workshop (sekaligus reuni super singkat) dan Umar milad. Entah mengapa, aku seperti merasa bahwa omelannya dia bakalan berujung gak enak.

Aku sama sekali tidak menyangka, hari terakhir ngebolang berujung menyebalkan. Pukul lima sore waktu planet bagian Bekasi yang entah ada di sebelah mana itu… Aku dan krucil memutuskan pulang ke Bandung. Ternyata, ojek yang dibutuhkan tidak ada satupun, termasuk taksi. Angkot menjadi pilihan. Beginilah nasib mantan anak pramuka yang sudah melupakan peta buta.. Nyasar dong! Jadi harusnya aku bergerak ke arah kanan, aku justru mengambil arah kiri dan mentok hingga ke sebuah daerah yang belum kukenal sama sekali, disebut Narogong. Well, aku belum pernah ke daerah itu, bray. Asli deh, aku sama sekali tak memikirkan hal lain kecuali, “Get me out from this hell now!” Almost upset with my own self, but I have to act faster than usual. Already dark outside. Gosh.

Pukul 06.35 PM. Mulai serak suaraku. Krucil sudah semakin letih. Setelah berjalan berbalik arah sekitar satu kilometer dan tak menemukan ojek atau taksi, angkot bernomer sama dengan rute sebaliknya pun menjadi pilihan. Kali ini kembali salah. Kebablasan nyaris ke arah pintu tol barat. Cakep, kan? *muka pucat* Ketika turun dari angkot, aku sudah yakin bahwa aku semakin jauh dari tujuan. Tengkuk rasanya ngilu luar biasa. You know, kalau aku sendirian, aku bisa aja ngejoprak di pinggir jalan, ngopi di warkop, atau tidur di masjid. Tapi karena aku bersama krucil, kuputuskan memaksakan diri sendiri dan mereka agar langsung mencari jalan lain, sampai ketemu bus jurusan Bandung. Perjuangan deh. Karena jika memutuskan istirahat sejenak, semakin lama sampai di rumah. Konyol banget nantinya.

Akhirnya, setelah bertanya dan mengandalkan sisa energi radar di otak yang sudah mulai ngadat, kami bertiga kembali berbalik arah. Aku mendekati seorang penjual gorengan dan bertanya dengan napas senin-kamis. “Bus arah Bandung banyak ngetem kok di pintu tol timur. Ibu turun di Kalimalang itu ya?” Aku mengerutkan kening. Tangannya menunjuk ke arah belakang tubuhku. Ah, arah yang tadi kulewati! Ngetem? Sumpah, bingung. Tetapi aku tak sempat bertanya apapun pada si abang yang telah membantuku.

Tepat di lampu merah yang kuyakini sebagai pemberhentian terakhir, aku melihat ada bus Primajasa jurusan Bekasi – Bandung dengan tulisan di tengah Purwakarta. Meski insting mengatakan jangan naik, aku tak peduli. Aku tak ambil pusing. Pokoknya pulang! Hey, am an Arian. Act first, think later. ROTFL. Setidaknya di saat darurat begini, ketika ada alternatif yang mungkin sama sekali gak enak, tujuan akhirlah yang terpikirkan.

Begitu naik bus, Umar yang pertama kali curiga. “Bun, kenapa kursinya tiga?” Aku menelan ludah dan langsung mengecek jendela kaca. Hastagah! Bus ekonomi!

Aku tersenyum pasrah dan kikuk. “Iya, Bang. Busnya gak pake AC. Ini bus ekonomi.”

“Yakin ini sampe Bandung?” Umar bertanya dengan muka lelah. Khawatir jika bundanya salah memilih bus. Aku mengangguk pelan. Awalnya kami memilih kursi tiga deret, namun kemudian beralih ke dua deret. Penderitaan belum berakhir. Panas, pengap, penuh, dan berisik membuat kami semakin lelah. Aku sudah tak sanggup berpikir apapun. Aku hanya ingin pulang.

Ketika kernet meminta ongkos, dia bertanya, “Turun di mana, Teh?” Aku bingung namun cepat menjawab, “Bandung.” Aku membayar Rp60.000,- untuk dua kursi. Kepalaku berdenyut. Murah banget. Maklum norak, biasa pakai yang AC. 😛

Di sebuah rest area, saat pengecekan penumpang, aku menoleh ke bus yang ada di sebelah kiri. Aku berbisik pada sulungku, “Bang, AC tuh. Mau pindah? Jurusan Bekasi – Bandung tuh. Eksekutif. AC.” Berulang kali aku memprovokasi kedua anakku untuk pindah. Demi mereka juga sih. Umar menggeleng lemah. Salman malah bergeming. Mereka sudah kehabisan tenaga. Well, 4 hari di luar kota ternyata lumayan menguras fisik. Aku hanya menghela napas berat dan mencoba tersenyum. Baiklah, tetap berada di bus tak nyaman tak mengapa, yang penting pulang! Gitu deh.

Ditemani lagu-lagu campuran (dangdut, 80an, 90an, Inggris, Indonesia, dan daerah), aku mencoba menenangkan krucil yang sudah siap mengamuk karena kegerahan. Duh, Allah… Aku pun berusaha tidur meski rasanya berat. Ketika sampai di kilometer… (yah, lupa deh) ada penunjuk arah kiri ke Bandung & Purbaleunyi, sementara kanan Dawuan. Kupikir, bus akan mengambil kiri. Saat bus mengambil jalan kanan itulah aku semakin tak menentu. Perasaanku campur aduk. Lelahnya sudah maksimal. Aku hanya mencoba tetap waras dengan berdzikir. Mau ke mana bus ini?

Kernet teriak, “Kopo! Kopo!” Aku terkesiap. Kopo? Ternyata yang dimaksud adalah Cikopo, Purwakarta! Darn it! Belum selesai terkejutku yang pertama, bus ngetem selama hampir 30 menit. Kemudian, selama nyaris satu jam, bus seperti sedang tour de Purwakarta. Aku sudah tak bisa menikmati perjalanan. Kanan kiri kota Purwakarta sudah tak menarik minatku lagi. Meski agak terhibur dengan lampu di setiap gapura yang ada, tak membuatku lega. Rasanya aku ingin segera melompat ke gerbang tol Pasir Koja.

Di dalam bus ada kakek penjual salak. Selama 30 menit berjualan, dia sudah mengganti harga entah berapa kali. “Ngabisin, Neng. Ngabisin, Pak. Sok atuh lima ribuan. Tiga bungkus lima belas.” ~ “Lima belas ribu satu, dua lima sok atuh ambil dua bungkus.” “Sepuluh ribu satu, Neng. Mangga.” Aku bingung. Antara ketidakkonsistenan harga dan karena tak bisa menolong. Dompet ada di tas, sementara tasnya dijadikan senderan oleh Umar. Si sulungku itu bergeming ketika kuminta bangun sebentar demi mengambil dompet. Pasrah lagi menggeleng ketika si bapak penjual salak menawarkan untuk kesekian kalinya.

Perutku mulai kram sambil menahan kencing. Lumayan, sudah tiga jam lebih. Perih rasanya. Akhirnya bus masuk tol di kilometer 84. Rasanya ingin berteriak, “Yay, we are on the right track again!” 😆 Ternyata masuk Pasir Koja pada pukul 10.00 PM. Ya, Allah! Salman sudah berkali-kali seperti kehilangan nyawa. Rewelnya luar biasa. Aku semakin merasa bersalah. Malah dia sempat berbisik, “Bun, nanti aku tidur di ojek ya?” Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Aku memilih naik angkot sampai Samsat. Di Kiaracondong, aku melihat sebuah taksi. Kudekati dan bertanya, “Pak, ke Cibiru mau, gak?” Dia mengangguk mantap. “Mau, Bu.” Alhamdulillah. Selama di dalam taksi, krucil benar-benar diam dan tak bersuara. Perjalanan 9,8 KM bertarif Rp36.000,- itu pun sampai di depan gang rumah dengan selamat.

Begitu membuka pintu rumah, aku dan Umar langsung mengucap hamdalah sementara Salman masih uring dan berteriak capek. Ah, malaikat kecilku….

Setelah mandi, mereka bermain dengan Tamtam dan Tumtum terlebih dahulu. Sementara aku bernapas lega. Sangat. Sungguh, perlindungan Allah sangat luar biasa! Mungkin bagi kalian yang membaca tulisan ini akan menganggap remeh dan apa yang kami alami sekitar 6 jam tak ada artinya dan tak perlu dihebohkan seperti ini. Bagiku, ini salah satu pelajaran lagi tentang arti kewaspadaan dan penghematan energi. Sekali lagi, menyasar selalu memberikan hikmah pada kami. Aku masih sempat berpikir ketika menunggu taksi atau ojek atau angkot di daerah Narogong, “Setidaknya gue kagak bakalan nyasar dua kali di sini. Sudah paham kalau kudu ke sini lagi.”

Dan aku menyelesaikan tulisan ini dengan merinding. Plus ingat S. Entah mengapa.

Advertisements
Categories: Journey | Tags: , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: