Bandung – Cirebon Dalam 12 Jam

Tak banyak yang bisa dilakukan dalam perjalanan dari Bandung ke Cirebon dan kembali ke Bandung dalam waktu sekitar 12 jam. Ini tulisan harusnya jadi pada bulan April, tetapi sempat berpikir tak perlu. Bahkan beberapa foto pun terhapus dari ponsel. Yha 😦

Tanggal 13 April, saya pergi ke Cirebon sendirian untuk melayat ke rumah sahabat. Ibunya wafat tanggal 12 April, tetapi saya baru mengetahui kabarnya pada sore hari, sehingga saya memutuskan langsung ke Cirebon pada tanggal 13 di pagi hari.

kota cirebon

Kota Cirebon via flickr

Pukul 7 pagi saya keluar rumah, menunggu bus selama sejam tak jauh dari Bunderan Cibiru. Sebenarnya elf (kendaraan tanggung untuk menarik penumpang sekitar 15 orang – bisa lebih) banyak ngetem di sana, tetapi saya memilih untuk naik bus. Karena Bhinneka tidak kunjung datang, akhirnya saya naik bus (entah apa, lupa) jurusan Bandung – Semarang.

Sempat kehilangan sinyal 3G di sepanjang perjalanan, yang tersisa tinggal sinyal GPRS cukup untuk mengirim dan menerima SMS saja. Terutama di beberapa daerah kabupaten. Bahkan di sekitar Plumbon pun masih tak kebagian sinyal internet.

Memasuki wilayah Batik Trusmi, barulah saya menerima banyak notifikasi dari beberapa aplikasi. Maksud hati hendak membuka kunci ponsel, apa daya otak lebih ingin tangan membuka kipas. Gerah banget!

Berhubung sudah bertahun- tahun tidak kembali ke kota tempat saya dibesarkan ini, maka satu hal pasti yang sekarang terjadi adalah… NYASAR! Ya Tuhan, saya bahkan tidak lagi mengenali 80% semua sudut kota Cirebon. Saya turun dari bus masih jauh dari Terminal Harjamukti. Alih-alih takut kebablasan, justru masih jauh dari tujuan. Saya menanyakan rute pada seorang pemilik warteg pinggir jalan, ke mana arah terminal. Oke, naik angkot sekali.

Ketika naik angkot, saya bertanya lagi kepada supir, kalau ingin ke arah perumnas burung, naik angkot apa. Akhirnya turun di lampu merah, dan berganti angkot D7. Khawatir kembali nyasar, saya hubungi teman bagaimana dan di mana harus turun.

“Lampu merah yang ada Indomaret.” Baiklah, saya manut. Lord, saya tidak tahu barat utara timur selatan. Mengapa semua tampak berbeda. Saya benar-benar tidak mengenali daerah itu lagi. Saya bertanya kepada beberapa orang dan semuanya memiliki jawaban berbeda. Jika memang tidak tahu, mengapa harus berbohong dan menunjuk ke arah yang jelas-jelas salah? Tega!

Berbekal ingatan bahwa rumah sahabat saya tidak melewati rel kereta api, saya berbalik arah dari rute yang ditunjuk oleh seorang tukang gorengan. Akhirnya saya menemukan jembatan yang gambarannya sedikit berubah dari kenangan masa kecil. Saya membaca sebuah plang nama jalan. Finally!

Saya bertemu sahabat, adiknya, dan papanya. “Kamu sudah lama ndak pulang, ya?” tanya pria tua yang tampak letih itu. “Iya, Om. Maafkan,” jawab saya sungkan. Merasa bersalah, sekaligus merasa dirindukan.

Bercerita banyak hal dengan sahabat, diselingi makan siang bersama, membuat saya tak ingin pergi dari kota ini. Tetapi tentu saja saya harus pulang. 🙂

Pukul 2 siang, saya pamit untuk memberi kesempatan tuan rumah beristirahat. Ternyata sahabat saya pun ketiduran ketika menyiapkan makan siang untuk adik bungsunya. Saya menitip salam untuk papanya yang sudah tidur lebih dulu.

Saya melanjutkan perjalanan ke Grage Mall. Pusat perbelanjaan ini tentu saja saya ingat lokasinya di mana. Tempat nongkrong anak muda ini sebelumnya adalah sebuah kolam renang terkenal pada masanya. Hampir setiap hari, dulu saya melewati tempat ini dari mulai penghancuran kolam renang hingga mal besar itu berdiri megah. Kini, terlihat penuh. Well… “penuh”.

RSUD Gunung Jati Cirebon

RSUD Gunung Jati

Saya naik angkot melewati jalan Kesambi. Di kiri jalan, ada sebuah jalan kecil menuju tempat saya bersekolah dulu. Waktunya tak cukup untuk sekadar mampir. Lagipula, sedang masa ujian, sehingga semua murid sudah pulang siang itu. Di sampingnya, rumah sakit besar tampak berbeda penampilannya. Rumah Sakit Gunung Jati, yang seumur hidup hanya saya masuki sekali, ketika sepupu saya sakit. Hahahaha 😀
Saya janjian dengan seorang kenalan yang ternyata akrab dengan pihak keraton Kasepuhan, Kacirebonan, dan Kanoman. Saya meminta tempat dengan sinyal WiFi yang kencang. Tak peduli apa pun makanannya. 😀 Teman saya itu menyebut Dunkin Donuts, di lantai dasar, persis di sebelah kiri pintu masuk. Baiklah, tak mengapa.

 

nasi lengko cirebon

makan malam

Kami berbincang hingga maghrib. Kemudian beliau mengajak saya untuk makan malam. Saya sangat ingin makan dengan nasi jamblang, tetapi apa daya sudah tutup. Akhirnya cukup puas dengan nasi lengko yang terkenal. Masih enak. Tentu saja, dengan kecap legendaris itu! 😉

 

kecap cap matahari cirebon

kecap legendaris

Pukul 8 malam saya sudah menunggu bus ke arah Bandung. Lagi-lagi, banyak elf yang melintas cukup saya tanggapi dengan gelengan kepala. Guess what, saya menunggu hampir 3 jam! Saya melihat sekeliling, banyak calon penumpang yang saya duga pasti hendak ke tujuan yang sama. Ternyata benar. Begitu ada sebuah bus datang, semuanya naik. Pikiran saya hanya satu, mendapatkan duduk, entah di mana pun posisinya.
Saya sudah terlalu lelah untuk berpikir. Ketika menemukan kursi kosong area belakang di samping bapak tua, saya langsung duduk. Saya masih dalam keadaan awas dan terjaga. Pertama, membaca situasi. Kedua, menunggu kernet meminta ongkos.

Setelah sejam perjalanan, saya memutuskan mencoba memejamkan mata dengan radar waspada yang dinyalakan ke level maksimal. Sekeliling saya semuanya penumpang pria. Penumpang wanita rerata di area tengah ke depan. Tak bisa terlalu nyenyak. Saya tidak pernah bisa nyenyak jika melakukan perjalanan malam hari. Ditambah, malam itu supir pun membawa bus dengan cara yang menurut saya tidak nyaman.

Memasuki Cileunyi, saya memutuskan turun meski bus tersebut pasti akan melewati Cibiru. Saya melanjutkan sisa perjalanan pulang dengan angkot. Turun di Bunderan Cibiru dan mendapati sepi dan dingin yang menyebalkan. Pukul 2 dini hari. Tak ada ojek. Tumben. Biasanya 1-2 motor terlihat di pangkalan.

Saya pulang berjalan kaki. Sesampainya di rumah, saya hanya sanggup mencuci muka, tangan, dan kaki. Saya bahkan tak ingat untuk menggosok gigi.

Sebelum terlelap, saya bertanya kembali dalam hati, kapan kembali ke Cirebon?

Advertisements
Categories: Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: