Backpacking Bandung – Cirebon : 29 – 31 Juli 2016 

Perjalanan pertama terjauh saya bersama anak-anak dengan kereta api menuju ujung timur Jawa Barat, tepatnya ke kota tempat saya dibesarkan sepenuh cinta oleh orangtua. Tsaaahhh…

Berawal dari rumpi geje bersama Vei, sahabat tercinta di Telegram pada bulan Juni. “Ke Cirebon, yuk?” berakhir dengan pemesanan tiket kereta api beda jurusan. Dia dari Stasiun Gambir Jakarta, sementara saya dari Stasiun Kebon Kawung Bandung. Itu pun sempat disertai drama kalau saya galau antara naik bus atau kereta api. Kemudian ganti lagi, apakah saya naik dari Gambir juga, atau tetap dari Bandung. Bisa ditebak, Vei esmosi escendol membaca jawaban plin plan saya.

Tiket terpesan! Tanggal 29 Juli saya dijadwalkan  akan berangkat pukul 09.55 WIB dan tiba pukul 14.05 WIB. Sementara Vei akan berangkat sekitar pukul 8 malam dan tiba pukul 1 dini hari, karena harus menunggu gadis kecilnya pulang sekolah dulu.

Hari pertama. 29 Juli 2016.

Stasiun Hall Bandung

Stasiun Hall Bandung

Saya dan anak-anak tiba di Stasiun Kebon Kawung pukul 07.55 WIB. Mencetak tiket dan membeli sarapan. Setelah itu rada mati gaya karena merasa kepagian. Yaaa, better daripada telat, kan?
Ok, kereta api pun berangkat pukul 09.55 WIB sesuai jadwal. Tiba di Cirebon pun sesuai dengan yang tertera pada tiket.

Setelah mendapatkan penginapan dengan drama menyebalkan (ditulis pada blog post terpisah), saya dan anak-anak langsung berjalan menemui tiga orang teman terdekat almarhumah Mama dahulu. Cukup cepat, selesai tepat azan maghrib di penginapan.

Karena saya sedang flu, maka meminum obat membuat saya langsung teler setelah makan malam. Sementara anak-anak menonton film di laptop demi bisa melek menunggu Tante Vei tiba.

Pukul 12.00 tepat tengah malam, anak-anak membangunkan saya dan kami pun pergi ke stasiun. Thanked God, cukup berjalan kaki 5 menit, tiba di stasiun. Ternyata kereta baru akan tiba sejam lagi. Kepala saya berdenyut. Walah.

Ketika pukul 01.15 WIB Vei dan Air tiba, kami langsung ke penginapan dan beristirahat. Perjalanan seru akan dimulai!

Hari kedua. 30 Juli 2016.

Backpacker Selow

Ambil napas sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Selonjoran di teras Indomaret.

Setelah sarapan dan mandi pagi, kami upgrade kamar dari standar ke superior. Alias dari kamar non AC ke kamar dengan AC window. Ya, gak apalah, yang penting pindah. Lengkapnya di postingan lain, yah!
Rute pertama ke Goa Sunyaragi. Meski saya pernah tinggal di Cirebon selama 16 tahun, kembali ke kota ini dengan ingatan yang ala kadarnya membuat get lost menjadi nyata. Beberapa kali bertanya kepada penduduk, ke mana arah ke goa. Yha…

Rute kedua menuju Keraton Kanoman. Sebelumnya, kami makan siang dengan menu kuliner khas yaitu bubur sop ayam di Pasar Kanoman. Enak dan kenyang. Hamdalah.

Rute ketiga langsung ke Keraton Kasepuhan. Ternyata sedang ada acara peresmian Komunitas White Car Indonesia cabang Cirebon. Ramai sekali.

Rute keempat adalah Masjid Merah Panjunan. Gak lupa dong, makan di Mie Koclok Panjunan. Ternyata ya penuh banget dengan beberapa anggota Komunitas White Car Indonesia itu. Hahahaha… Jadilah kami makan di teras tetangga. Asli deh backpacker gembel beneran.

Kemudian pulang ke penginapan. Karena semua kelelahan, pukul 8 malam sudah tidur semua, kecuali saya yang baru lelap pukul 10 malam. Pada saat itulah ada ide dari Mbak Onya agar saya menyempatkan diri ke Pantai Kejawanan. Wow, ini menarik. Coba, ah!

Hari ketiga. 31 Juli 2016.

Pantai Kejawanan Cirebon

Pantai Kejawanan Cirebon dengan latar belakang Gunung Ciremai

Pukul 5 pagi, saya membangunkan para pejalan yang masih tampak kelelahan itu. “Ke pantai, yuk?” Mendadak semua bangun. “Mau!” 🙌
Pukul 6 pagi, kami sarapan di Bubur Ayam Toha. Legenda yang tetap bertahan. Makannya di teras. Hahaha 😂 Maklum, warungnya penuh.

Pukul 7 pagi, sudah tiba di Pantai Kejawanan melalui jalan pintas. Lebih cepat dan tentu saja gratis!

Sebenarnya sudah agak kesiangan, tapi demi melihat air laut, tak apalah. Dan rengekan maut itu pun terdengar… Seperti yang “ditakutkan”. Lirikan anak-anak dengan memelas plus memaksa itu, “Bun, boleh berenang, gak?” Here we go! Baiklah, boleh! Padahal gak bawa baju ganti. Wapara!

Rute kedua adalah Nasi Jamblang Pelabuhan. Owh yeah! Yang antri mobil Plat B semua, pemirsa! Lahapnya anak-anak makan nasi jamblang ini karena kelelahan berenang, tentu saja.

Rute ketiga bergeser sekitar 25 meter, menuju Vihara Dewi Welas Asih. Berkesempatan melihat mereka beribadah dan mendapat cerita seputar liong (dragon dance) dan barongsai (lion dance) pastinya seru banget! Wisata sejarah yang luar biasa!

Selesai! Vei dan Air pulang lebih dulu dengan jadwal kereta api pukul 14.00 WIB, sementara saya dan anak-anak menggunakan kereta api pukul 15.00 WIB.

Silakan baca secara terpisah (menyusul)

  1. Wisata Kuliner di Cirebon
  2. Wisata Sejarah di Cirebon
  3. Wisata Pantai di Cirebon
  4. Biaya Perjalanan Tiga Hari Bandung – Cirebon

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, inshaa Allah!

Advertisements
Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Backpacking Bandung – Cirebon : 29 – 31 Juli 2016 

  1. wah baca bagian2 akhir, saya jd lapaar

    kalian ini keren sekali cara jalan2nya hehe

    coba sesekali pake motor gitu, eh ribet sih haha ga usah aja

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: