Perjalanan Bandung – Surakarta 1- 4 September 2016

Not coincidence when I used the hashtag #SoloTrip. Pertama, ini memang perjalanan ke Solo atau Surakarta. Kedua, kali ini saya sendirian pergi jauh dan lama juga meninggalkan krucil.

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Kedua, saya bingung mau mulai cerita dari mana, selain rasa excited karena ke Solo sebagai wakil dari Bandung CLEΛNΛCT. Hadiah dari Allah yang luar biasa. Tahu ada acara #JamboreDiSolo #BebasSampah2020 sudah lama. Saya sempat hening lama. Ingin sekali ke Solo. 16 tahun memimpikan hal ini dan baru terwujud. Kesabaran berbuah manis.
Ketiga, pikiran dan perasaan saya penuh dengan kecemasan. Khas kelemahan saya ketika hendak berangkat ke tempat baru. Membayangkan aneka pengalaman baru di sana.

 

Transportasi Bandung – Solo – Bandung

Saya berangkat naik KA Lodaya Pagi pukul 07.35 WIB dari Stasiun Kiaracondong menuju Stasiun Solo Balapan. Harga tiketnya Rp165,000,- dengan hadiah melihat ticket checker ganteng! 😍 Memilih kelas bisnis dan tentu saja dekat jendela. Bukan karena mau lihat pemandangan, tapi… You know… Colokan. 😂 Tiba pukul 14.30 WIB dan sempat pusing hendak naik apa ke penginapan.

Taksi, becak, dan ojek. Pilih mana? Saya pilih Go-Jek. 😂 Cari aman buat di kantong dan demi alasan supaya gak nyasar. Alhamdulillah, dapat pengemudi baik hati. Dari Stasiun Solo Balapan ke Red Planet Hotel hanya Rp8,000,- lho. Mata saya berbinar!😍

Ketika saya sampai di Taman Balekambang sekitar pukul 08.30, rasa lapar menyergap. Saya sampai harus mencari makan menggunakan becak. Hmm, unfortunately, saya ditembak oleh tukang becak. Saya kena Rp40,000,- untuk rute Taman Balekambang – RS. Brayat Minulya – Taman Balekambang.

Ya sudahlah.

Selebihnya saya ada di Taman sampai hari Ahad tanggal 4. Jadi tak banyak menggunakan kendaraan umum.

Pulang dari Solo, saya menggunakan Kereta Api Kahuripan kelas ekonomi dan unfortunately saya salah pilih kursi. Harusnya A, tapi saya malah pilih E. Alhasil, selamat pegal sepanjang perjalanan dengan nenek di depan kursi saya yang pergi dengan cucunya.😥 Harga tiketnya Rp85,000,- Well, you get what you pay. Kan gitu?

 

Taman Balekambang Solo

Taman Balekambang Solo

Taman Balekambang Solo

Saya berada di sini tanggal 2-4 September. Menikmati alam, interaksi dengan manusia, hewan, dan tanaman di area wisata kota ini.

Sejarah Taman Balekambang

Sejarah Taman Balekambang Solo

Belajar sejarah tentang alasan dibuatnya taman cantik penuh beringin dan rusa ini. Ada satu tempat untuk melihat aneka reptil, tapi saya gak sempat ke sana.
Tahu apa yang saya cari pertama kali masuk ke Taman Balekambang? Yes! Colokan dan toilet! Dua hal penting saat berada di luar rumah. Colokan aman. Ada tenda panitia dengan meja berisi beberapa terminal yang pas untuk puluhan kabel😅.

Untuk toilet, sangat disayangkan, mampet! Agak khawatir saat mandi karena genangan air. Untung saja, perlahan mengalir sehingga tak sepenuhnya menggenang.

Banyak rusa di sini! Saya malah baru sekali menemukan kucing. Selebihnya rusa, rusa, dan rusa.

 

Wisata Kuliner Solo

Apa yang saya dapat selama di Surakarta ini? Bakso solo, tentu saja! Itu yang saya makan ketika pertama kali menjejakkan kaki di Solo. Tak jauh dari Red Planet Hotel Solo, saya menemukan warung tenda penjual bakso. Duh, Allah, nikmat sekali!

Mi godog

Mie godog solo di Balaikota Surakarta

Saya kenyang menikmati kuliner Solo selama 2 malam di Taman Balekambang. Aneka camilan macam cenil, kue soes, sosis solo, serabi notosuman, arem-arem, dan lainnya.

Oh ya, saat ke Paragon Mall, ditraktir Ladrang, sahabat yang penuh semangat bercerita banyak hal. Senang!

Tehnya, segar, sepat, manis, dan bikin ketagihan! Bahkan, saya berkali-kali nambah. Duh, gimana berat badan gak tambah melar kalau begini, kan? Saya menikmati tehnya di dekat Red Planet Hotel, selama kegiatan di Taman Balekambang, di Balaikota Surakarta, di Ngarsopuro setelah car free day dan di RBI.

Oh ya, ketika berkunjung ke Balaikota Surakarta saat welcome party pun, saya dijamu mi godog (meski tampak biasa saja buat saya).

Sego liwet

Sego liwet Solo

Saya sempat menikmati sego liwet pinggir jalan dekat Rumah Sakit Brayat Minulya. Sensasi makan di pinggir jalan, rasa yang khas Solo itu lho yang dicari! Ketika saya datang untuk menikmati nasinya, cukup kaget karena ‘hanya sedikit’. Tetapi saya ditertawakan. “Kamu bakalan kenyang sampai siang, An!” Oh ya? Belum hilang rasa terkejut karena memang kenyang banget, saya hanya membayar Rp13,000,- untuk dua porsi! *bengong lagi*😮

Bakso solo

Bakso solo di Stasiun Purwosari

Di Stasiun Purwosari, sebelum pulang, saya menikmati seporsi bakso solo lagi, plus perasan jeruk nipis (sebagai pengganti cuka) seharga Rp15,000,-. Oh, harga ini memang harga khas stasiun. Pasti mahal. Tapi enak. Coba deh kalau di Bandung, seporsi itu bisa Rp20,000,- lho!

Camilan Surakarta

Camilan khas Surakarta

Gak ketinggalan, sebagai turis lokal, saya membeli empat macam camilan khas Surakarta dan sekitarnya. Intip, favorit saya.

Menginap Di Surakarta

Berhubung ada kegiatan di sini, maka malam pertama saya memejamkan mata di Red Planet Hotel. Rate per night di hotel ini masih terjangkau lah untuk para tamu yang mencari kenyamanan dengan dana terbatas. Sekitar Rp300,000,- (Tergantung tipe kamar) sudah bisa menikmati fasilitas WiFi ngebut, channel NatGeo kesukaan saya, dan jalan kaki ke Paragon Mall. Kan enak, toh?

Malam kedua dan ketiga, saya habiskan di Taman Balekambang. Inilah bagian ‘horor’ menurut saya.

Di malam pertama, sudah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya. Nah, malam kedua, saya tidur di luar tenda. Kenapa? GERAH. SUMUK. Duh, maaf ya. Saya anak kaki gunung, jadinya senewen banget ketika mendapat tenda isi berempat. Sadar diri dengan bentuk tubuh besar, saya pun lebih memilih di luar tenda. Lumayan adem. Ditemani nyamuk. *nyengir pegel nggaplokin*

Malam kedua, saya serba salah. Hujan sejak maghrib. Saya pikir semuanya akan berlalu biasa saja. Kemudian, alih-alih berharap hujan reda, malah semakin deras dan awet. Saya membayangkan betapa bingungnya mencari tempat tidur lagi, karena tak mungkin tidur di luar tenda. Akhirnya dapat tumpangan di salah satu tenda peserta lain. Tak bisa bertahan lama. Masuk tenda pukul 23.00 WIB. Pukul 01.00 perut saya berontak. Allah…

Ketakutan saya terbukti. Saya berjalan penuh perjuangan ke toilet dan akhirnya muntah plus diare. Menghabiskan waktu hampir sejam sendirian di toilet yang lumayan jauh dari tenda. Kelar melakukan ritual di toilet, saya mencoba balik lagi ke tenda, tapi rasanya badan semakin gak enak. Saya memilih duduk di bangku besi dekat tenda konsumsi. Lemas. Tak bisa tidur. Langsung minum dua tablet anti diare. Berharap penuh cemas, tak lagi buang air cair. Saya menikmati sepi di kala semua orang tidur. Panitia dan peserta tak ada yang tampak. Sepertinya saya didaulat oleh alam untuk menjadi satpam. Untungnya hujan sudah reda. Menjelang subuh, saya mandi. Saya terjaga hingga matahari menampakkan diri.

Next time,  saya tentu tak akan tidur di alam terbuka lagi jika ke Solo. Kecuali ada spot wisata alam menarik yang memang lebih enak kalau tidurnya di luar, yaaa… Hayo aja!

 

Berkunjung Ke Rumah Blogger Indonesia

Ini bonus di hari terakhir. Saya mengakhiri perjalanan di Ngarsopuro, di Toko Es Krim Tentrem yang legendaris itu. Menikmati angkringan dan eskrim dalam waktu hampir bersamaan. Ketika peserta #JamboreDiSolo lainnya melanjutkan perjalanan ke keraton, saya stop. Pertama, saya super ngantuk. Kedua, sisa diare dan muntah masih membuat tubuh drop.

Saya diajak Pawank ke RBI, Rumah Blogger Indonesia (eh, lupa di mana alamatnya ya?), tempat biasa dia melakukan ritual wedangan. Di sana, saya bertemu beberapa ‘penghuni markas’ dan kopdar dengan Setyo ‘Katrok’, kenalan baru yang baik hati, tidak sombong, dan makannya banyak😂.

Teh khas Solo

Teh khas Solo

Menikmati ES TEH MANIS (yang kalau di Solo, cukup sebut TEH, maka kamu akan mendapatkan ES dan GULA. gitu.) buatan Pawank di tengah cuaca yang bayeungyang (gerah gak jelas) rasanya seperti surga. Solo panas tenan, yo?
Di RBI pula, saya akhirnya benar-benar tertidur ketika merebahkan diri. Gak nyadar! Asli! Weh, segitu capeknya ya? Iya. Bodo ah.

Sekian laporan perjalanan singkat saya di Solo. Kenapa singkat? Karena gak sempat jalan-jalan gegara tumbang. Kan sebel!

Mari lanjutkan perjalanan ke daerah berikutnya.

Salam!

Advertisements
Categories: Journey, Money and Budget | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: