About Traveling / Backpacking

Wisata Pantai Kejawanan Cirebon

Ini harusnya ditulis tahun lalu. Gapapa ya? Namanya cerita, apalagi soal traveling, gak akan pernah basi untuk dibagikan. Apalagi, kalau kamu ngaku tukang jalan, menjelajah tempat yang gak biasa itu sesuatu. Termasuk wisata pantai di Cirebon. Sebagai kota pinggir laut, pantai di Cirebon cukup membuat Air, keponakan saya yang super aktif itu bertanya, “Where’s the white sand?” Karena bingung, menjejak di pantai yang justru berlumpur.

Mari menjelajah Pantai Kejawanan Cirebon, yang mulai terkenal dan ramai dikunjungi oleh pelancong dengan biaya murah meriah. Masuk pantainya GRATIS, tetapi parkir ada biayanya. Gak mahal kok. Rp5000 (eh, apa Rp3000 ya? lupita) cukup untuk satu motor sepuasnya, tanpa hitungan jam.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , | Leave a comment

Semalam Penuh Pesona Di Tune Hotel / Red Planet Hotel Surakarta

Keren adalah kata pertama yang muncul dalam benak saat menjejakkan kaki di depan halaman Red Planet Hotel Surakarta tanggal 1 September 2016 lalu. Sebelumnya, saya melakukan pengecekan ulasan dari pengunjung lain di laman Google. Tampaknya menarik. Apalagi dengan semangat minimalis yang diusung oleh Red Planet Hotel ini menggoda para backpacker macam saya untuk menjajalnya.

Red planet hotel

Red Planet Hotel Solo

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Biaya Perjalanan Bandung – Cirebon 3 Hari 

Rencanakan sebuah perjalanan dari jauh hari. Ini benar. Meski pada akhirnya, saat hari H tiba dan sepanjang perjalanan, selalu ada biaya tak terduga yang membengkak tidak karuan.

Meski saya tipe pejalan gimana-nanti-yang-penting-jalan-aja-dulu, harus selalu melakukan penyusunan jadwal dan penghitungan alokasi dana  awal. Seperti saat ke Cirebon.

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Wisata Kuliner Cirebon – Sesuap Kenangan Masa Kecil

Kembali ke Cirebon, artinya memuaskan rindu pada aneka makanan lezat, yang justru didapatkan di pinggir jalan atau kedai sederhana, bukan restoran atau masuk mall. Setidaknya untukku.

Tanggal 29 – 31 Juli 2016 lalu, saya pulang ke Cirebon dan kali ini bersama anak-anak. Janjian dengan sahabat tercinta Vei dan anaknya Air, berharap perjalanan kali ini akan penuh kenangan manis. Meski cuaca sangat terik dan suhu Kota Udang itu berkisar 30° Celsius, pantang istirahat tanpa makan. Hihi 😄

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Backpacking Bandung – Cirebon : 29 – 31 Juli 2016 

Perjalanan pertama terjauh saya bersama anak-anak dengan kereta api menuju ujung timur Jawa Barat, tepatnya ke kota tempat saya dibesarkan sepenuh cinta oleh orangtua. Tsaaahhh…

Berawal dari rumpi geje bersama Vei, sahabat tercinta di Telegram pada bulan Juni. “Ke Cirebon, yuk?” berakhir dengan pemesanan tiket kereta api beda jurusan. Dia dari Stasiun Gambir Jakarta, sementara saya dari Stasiun Kebon Kawung Bandung. Itu pun sempat disertai drama kalau saya galau antara naik bus atau kereta api. Kemudian ganti lagi, apakah saya naik dari Gambir juga, atau tetap dari Bandung. Bisa ditebak, Vei esmosi escendol membaca jawaban plin plan saya.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

Jangan Menunggu, Lakukan Saja!

Saya penakut. Serius. Bahkan untuk mencoba hal baru yang sebenarnya biasa saja. Makanya, menjalani hidup yang tampak lempeng itu membosankan. Meski ada tantangan setiap hari hingga dengkul lemas, tangan gemetar, dan otak sering kesemutan, ada hal-hal yang ingin  dilakukan tetapi saya bergeming.

Saya penakut.

plan to travel

via onlinedatahub

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Plan To Go | Tags: , | Leave a comment

Bandung, Tempat Cinta Kembali

Tak terlalu berlebihan bila saya mengatakan bahwa Bandung memang diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Mengutip dari M. A. W Brouwer yang diabadikan pada dinding jembatan dekat alun-alun Bandung.

Saya mencintai Bandung, karena di sana lahir seorang perempuan tangguh yang menjadikan saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Kembali ke Bandung adalah niscaya. Mama dan saya dulu tinggal di Cirebon. Setiap mau pulang kampung, Mama pasti pesan jasa travel yang disebutnya suburban (dan perusahaan itu dulu namanya 4848, era  80-90 terkenal lho). Nah, dulu itu kalau mau pesan tempat duduk, caranya bisa telepon atau datang langsung ke kantornya. Kalau sekarang kan pilihan pergi dari Cirebon ke Bandung banyak banget ya?

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Kekuatan Wanita Traveler

Artikel asli dari Vemale

Coba deh jawab pertanyaan ini: di usia Anda yang sekarang ini, sudah berapa tempat yang Anda jelajahi? Berapa tempat yang sudah Anda rekam keindahannya? Berapa banyak pengalaman hidup yang Anda dapat dengan menjadi seorang traveler?

Ladies, seorang wanita yang hobi bertualang atau traveling memang memiliki sejumlah karakter yang berbeda dari wanita yang jarang traveling. Saat sudah mereguk banyak pengalaman dalam sebuah perjalanan, seseorang bisa mengalami sejumlah perubahan dalam dirinya, termasuk karakter-karakter pribadi yang dimiliki.

“To move, to breathe, to fly, to float,
To gain all while you give,
To roam the roads of lands remote,
To travel is to live.”
― Hans Christian Andersen

The Fairy Tale of My Life: An Autobiography

Berikut ini lima karakter super yang umumnya dimiliki oleh seorang wanita petualang. Apakah Anda juga memiliki karakter ini dalam diri Anda? Let’s check this out!

  • Berwawasan Luas

    Belajar tak melulu hanya di dalam ruang kelas atau saat sedang kuliah saja. Saat traveling, ada banyak pengalaman yang bisa didapat dari pertemuan dengan orang baru atau mempelajari kebudayaan tertentu. Hal-hal seperti itu pun kemudian bisa membuat Anda makin berwawasan luas. Pemikiran Anda pun jauh lebih terbuka.

  • Tak Mudah Stres

    Saat traveling, kita ditantang untuk menyelesaikan semua masalah dan tantangan yang terjadi selama di perjalanan. Awalnya memang terasa sulit, tapi lama kelamaan akan membentuk kepribadian Anda jadi lebih luwes dan tak mudah stres saat menghadapi kesulitan atau masalah.

  • Punya Daya Kreativitas Tinggi

    Traveling membuat kita belajar melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang berbeda. Kita tak terjebak dalam satu pola pikir saja. Melihat sesuatu dari sudut yang baru. Memicu berbagai imajinasi baru dan daya kreativitas bisa semakin tinggi.

  • Mudah Bahagia dengan Cara Sederhana

    Untuk bahagia, Anda tak perlu melakukan hal-hal rumit. Dengan hal-hal sederhana saja, Anda bisa langsung bahagia. Anda tak perlu susah-susah berpikir untuk bisa bahagia. Terbiasa menikmati perjalanan atau menjadi traveler, setiap perjalanan hidup yang Anda lewati pun tak lagi menjadi sebuah beban.

  • Percaya Diri dan Tetap Rendah Hati

    Bertemu banyak orang baru, menimba pengetahuan baru dari pengalaman traveling, serta bisa merasakan susah payahnya sebuah perjalanan, semua hal itu bisa membentuk karakter Anda jadi lebih percaya diri dengan tetap rendah hati. Ada makna hidup yang bisa Anda petik di setiap perjalanan. Dan, itu terbawa dalam keseharian Anda.

Ladies, apakah Anda juga hobi traveling dan memiliki kelima karakter tersebut? Dunia ini begitu luas, sangat rugi rasanya bila Anda hanya terjebak dalam satu tempat dengan rutinitas yang monoton. Pack your backpack and let’s travel!

Categories: About Traveling / Backpacking | Tags: , | Leave a comment

Pasangan Hobi Traveling Lebih Berbahagia

Sebuah survey telepon yang diadakan oleh Edge Research di Amerika Serikat menyatakan, pasangan suami istri yang traveling bersama terbukti lebih bahagia dalam rumah tangga dibandingkan pasangan yang tidak. Peserta survey dibagi menjadi dua grup: pasangan traveling dan pasangan non-traveling.

86% pasangan traveling menyatakan hubungan mereka masih dipenuhi romance bahkan setelah bertahun-tahun. Dari pasangan non-traveling hanya terdapat 73% yang menyatakan demikian.

94% pasangan traveling mengaku merasa lebih dekat dengan pasangannya. Pasangan non-traveling yang demikian hanya 86%.

84% pasangan traveling mengaku puas oleh quality time dengan pasangannya, sementara hanya 70% dari pasangan non-traveling yang mengaku punya quality time dengan pasangannya.

84% pasangan traveling punya komunikasi yang baik dengan pasangannya, sedangkan pasangan non-traveling yang berkomunikasi secara lancar dengan pasangannya hanyalah 73%.

Pasangan non-traveling mengaku hubungan mereka memiliki sisi negatif yang lumayan tinggi dibanding pasangan traveling. Sisi negatif ini misalnya kurangnya waktu kebersamaan dan ketidakmampuan memecahkan masalah bersama.

Berkaitan dengan anak, 76% dari orang tua yang secara rutin punya acara liburan bersama anak-anak percaya bahwa uang dan waktu yang mereka habiskan untuk liburan keluarga dirasa worth it, demikian menurut Examiner.com. Pengalaman dan kenangan abadi yang anak-anak mereka dapatkan tak ternilai harganya. Tak sedikit yang bicara dari pengalaman mereka sendiri ketika masih anak-anak.

-==-=-=-=-=-

disalin dari Traveloka.

Categories: About Traveling / Backpacking | Tags: , | Leave a comment

Antara Traveling dan Kebutuhan Investasi

Tentang Traveling dan Investasi ini makjleb banget lho. Tapi… Tapi….

Artikel 23 April 2013 dari Tempo ini jelas akan membuat bimbang bagi mereka yang hendak menghabiskan masa muda (atau sesiapa yang merasa berjiwa muda) untuk melakukan perjalanan (jalan-jalan ngabisin duit, wisata kuliner, wisata rohani, wisata belanja, wisata sejarah, atau wisata apa pun, you name it).

 

“We travel, some of us forever, to seek other places, other lives, other souls.” – Anais Nin

 

traveling is investment

via surfo.co.za

Mengutip kata Aidil Akbar dalam artikel tersebut,

Aidil mencontohkan, ada beberapa lajang, terutama yang tidak memiliki tanggungan, lebih memilih mengalokasikan gajinya untuk kebutuhan tambahan, seperti berlibur atau membeli perangkat. Dalam penghitungan nyata, kebutuhan yang bersifat tambahan ini bisa mencapai Rp 10 juta. Padahal uang sebesar itu bila diinvestasikan dapat menghasilkan 10 kali lipat dalam waktu 10 tahun. Apalagi bila diinvestasikan ketika lajang masih berumur 20 tahunan sehingga ada waktu produktif untuk menghasilkan 10-20 tahun kemudian.

 

Kemudian kamu bisa mengambil kalkulator.

 

Investasi Bernama Perjalanan

Aku sih ya, merasa gak sampe segitunya dalam menghabiskan uang di rekening yang jumlahnya juga gak seberapa itu 😀 Investasi? Tapi hobi jalan-jalan? Gimana dong? Emang hobi. Toh dari hobi bisa menghasilkan uang juga. Buktinya banyak travel blogger atau blog traveler (whatever) yang sengaja atau pun tidak, menjadikan blog mereka sebagai sumber penghasilan (entah utama atau sampingan) seputar jalan-jalan.

Besides, traveling juga investasi bagi kenangan di masa depan. Kamu bisa mengumpulkan banyak sekali ingatan dari perjalanan untuk diceritakan kepada anak cucu kelak. Tak sempat melihat keturunanmu? Tulisan di buku atau blog bisa menjadi perantara.

 

Apa yang Kamu Dapat Dari Perjalanan

Kamu bisa membeli properti sebanyak kamu mau, tetapi tidak bisa membeli kenangan yang timbul akibat pengalamanmu berjalan-jalan.

Perjalanan akan membuatmu semakin dewasa dan bijaksana. Setiap waktunya akan memberikanmu pelajaran berharga, apa pun itu.

Dalam setiap perjalanan yang kamu lakukan, kamu akan menemukan bahwa orang-orang baik di dunia ini masih ada. Lupakan setiap twitwar atau comments war dan hadapi orang-orang nyata di luar sana. Mereka akan membantumu menemukan kedai kopi terdekat, tempat ibadah tak jauh dari penginapanmu, bahkan menjadi guru berbahasamu yang baru.

Kita menghadapi tantangan setiap saat sejak membuka mata di pagi hari. No one will push you to your own limits except yourself. Jadi, paksakan dirimu untuk menembus batas itu. “Ah, segini aja deh. Udah cukup buatku.” Yakin?

Perjalanan memperkaya batin, jiwa, dan ragamu. Beragam budaya, adat, suku, agama, bahasa, dan kehidupan sosial di setiap jengkal bumi ini. Tersesatlah. Buang ketakutanmu, temukan keberanianmu, dan hadapi setiap hal baru yang terjadi. Hal ini pula yang akan membuatmu menjadi lebih percaya diri ketika kembali ke rumah. (Eh, punya rumah, kan? 😀 )

Kamu juga menjadi lebih percaya pada kekuatan dirimu yang mungkin selama ini tersembunyi. Pasti akan ada saat ketika kamu berbisik pada diri sendiri, “Eh, aku bisa. Wah, ternyata begini rasanya.” Kamu tak akan menemukan dirimu lebih baik lagi dari ini.

 

Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta

 

Pilih perjalanan hidupmu sendiri. Kamu tahu anekdot “Ngomel mulu. Kurang piknik tuh!”? Banyak hal positif hasil dari melakukan perjalanan. Inilah salah satu sumber kebahagiaan. Dulu, naik pesawat hanya untuk orang kaya. Sekarang, everybody can fly! (ini tagline siapa ya?). Jika selama ini kamu sulit tersenyum bahkan untuk dipaksakan sekali pun, cobalah untuk memulai perjalanan terpendek dulu. Kota tetangga, misalnya.

 

More Productive With Passion

Waktu produktif yang dikatakan oleh Aidil tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ini sih kataku yang sotoy. Tergantung, yang disebut produktif itu apa? Ketika melakukan traveling, seseorang bisa saja semakin produktif. Apalagi di masa teknologi canggih begini, pekerjaan bisa dilakukan dengan remote. Kamu mengendalikan pekerjaan dari mana pun kamu sedang menginjakkan kaki.

Traveling adalah pemborosan? Hmmm….

 

“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor

 

Sadar, sadar banget kalau kita sebagai manusia bertanggung jawab harus berinvestasi demi masa depan. Apapun bentuknya. Tanah, rumah, emas, deposito, atau apa yang bisa disebut simpanan yang menguntungkan kelak. Terkadang, apa yang dilakukan di sebuah masa oleh seseorang, sulit dijangkau nalar oleh orang lain dan menganggapnya sebagai hal yang tak ada gunanya.

Misal saja kisah bagaimana awal mula taksi burung biru berdiri. Kamu tahu? Gak? Googling yah! Atau, sepak terjang Om Bob Sadino dalam memulai bisnisnya dengan aneka pemikiran out of the box itu. Seorang pemilik perusahaan kosmetik memulai bisnisnya di garasi (hayooo, siapa? 😉 ) sama seperti apa yang dilakukan Steve Jobs di garasi bapaknya. Orang yang bukan visioner tentu tidak menemukan korelasi bisnis yang dijalankan dengan kebutuhan pasar saat itu. Sekarang? 🙂

traveling is investment

via pinterest

Seorang traveler juga demikian.

Banyak, sangat banyak perjalanan dilakukan oleh orang di dunia ini setiap harinya. Tetapi tujuannya apa? Mengapa mereka melakukannya? Berapa banyak yang berjalan dan melakukannya semata demi investasi kenangan di masa depan?

 

Traveling Is Investment

No kidding.

Kamu bisa menemukan banyak hal selama perjalanan. Pengalaman berharga akan kamu dapatkan ketika berjalan dan menemukan banyak hal baru. Ibarat sebuah buku, petualangan itu ditentukan dengan seberapa jauh kamu berani melangkah membuka halaman berikutnya. Apakah kamu tidak penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya? Atau cukup puas di halaman pertama?

 

“The world is a book, and those who do not travel read only one page.” – Saint Augustine

 

Aku ingat kata-kata dalam sebuah adegan film  3 Idiots (2009) saat Farhan kaget bahwa suratnya untuk fotografer idolanya dikirim diam-diam oleh Rancho. “In the future when you think of just giving up on life, remember that the letter was in your hands, the cab was at the gate, only if you had thought about it once more, your entire life would have been better,” demikian kata Rancho membesarkan hati Farhan untuk menghadapi ayahnya.

Penyesalan selalu datang terlambat. Karena kita tahu, kalau datang duluan namanya book your seat. Gitu, kan? Aku termasuk menyesal karena saat memiliki impian berjalan-jalan sendirian dengan ransel di punggung, aku menghentikan langkah bahkan sejak dalam pikiran. Ada ketakutan yang tak beralasan. Semua berawal dari larangan pergi jauh dari almarhum Bapak. Beliau khawatir tak bisa mengawasi sepak terjangku. Aku manut. Tetapi batinku gelisah. Ingin pergi dan takut. Sekarang menyesal. Harusnya dulu aku membuktikan kepada Bapak bahwa aku akan baik-baik saja. Meski ada selintas pikiran, jika tanpa restu orangtua, hidupmu tak akan mulus. Dilema, kan?

 

Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do.” – Mark Twain

 

Kalau mau menjadi pejalan, gak usah rempong. Bawa secukupnya saja. Baju paling tiga stel. Alas kaki disesuaikan dengan rute yang akan ditempuh. Aku banyak belajar dari hasil membaca pengalaman orang lain saat berjalan-jalan dan juga mencoba sendiri. Biasanya aku ribet dengan membawa banyak barang. Akhirnya kelelahan karena beratnya beban di pundak, punggung, dan tangan. Yha, beban hidup aja sudah berat, jangan ditambah lah! Berjalan itu harus menikmati pemandangan, bukan melewatkannya dengan menggerutu panjang kali lebar kali tinggi. Betul?

 

“He who would travel happily must travel light.” – Antoine de St. Exupery

 

Akhir kata, dari segala ceracau gak karuan di atas, angkat bokongmu dan seret langkahmu. Beranikan diri.

 

“Life begins at the end of your comfort zone.” – Neale Donald Walsch

 

Salam.

The Life of First Jobber

Travel-writing

Tadi pagi iseng browsing-browsing internet dan menemukan satu artikel yang “ngena” banget buat gue!

Ini link nya: http://www.tempo.co/read/news/2013/04/23/215475244/Menabung-Berlibur-atau-Gadget/1/0

Kalau males klik link nya, ini gue tampilin screen capturenya.

artikel

Ini om Aidil (berasa kenal) bener banget deh. Gue sekarang itu demen banget nyari tiket pesawat murah, jalan-jalan, atau nabung buat beli iphone 5S yang harganya selangit. Padahal dengan gaji gue yang gak seberapa ini, duit gue pasti abis terus kalo ngikutin semua keinginan gue. Kemarin gue udah menyisihkan sedikit gaji untuk ditabung, dan diinvestasikan.

Tapi tetep yang namanya godaan promo tiket pesawat nggak bisa ditolak. Barusan aja gue beli tiket ke Bangkok taun depan. Bayangin PP Cuma 800 ribu. Gila nggak tuh? Again, kartu kredit yang bicara. Trus, 800 ribu itu gue ubah pembayarannya jadi cicilan 3 kali. Lumayan kan, nggak terlalu berasa (selalu ada pembenaran deh kalo urusan ini). Tapi om Aidil bener. Gue harus membatasi kegiatan traveling gue. Walaupun…

View original post 102 more words

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.