Money and Budget

Tibera Hotel Cibeunying Bandung, Keheningan di Tengah Kota

Petualangan sederhana dimulai ketika sahabat saya mendadak memberitahukan bahwa ada sejumlah tenggat artikel yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam. Berhubung dia juga ingin meeting dengan saya di hari Ahad pagi, akhirnya dia memutuskan untuk memberi akomodasi agar saya bisa fokus menulis.

Menyenangkan adalah ketika saya diminta memilih sendiri akan menginap di mana. Bagian menyebalkannya adalah pada akhir pekan, awal bulan, di Bandung adalah perpaduan sempurna sulitnya menemukan budget hotel di tengah kota. Terutama di daerah Jalan L.L.R.E Martadinata alias Jalan Riau.

Mencari Penginapan Last Minutes

Tibera Hotel Cibeunying

Semua kamar Tibera Hotel menghadap taman

Dari sekian banyak tawaran penyedia informasi penginapan di ranah maya seperti Agoda, booking.com, pegipegi, airyrooms, dan Traveloka, akhirnya yang terakhir menjadi pilihan. Saya pilih bertransaksi dari situsnya melaluo laptop, bukan aplikasi supaya lebih cepat mencari.

Banyak diskon bertebaran. Tetapi karena dana tak banyak, pilihan penginapan di harga 600 ribuan ke atas tentu tak masuk incaran. Apalagi yang harganya sejutaan. Bukan gaya saya pun kalau mencari hotel mewah.

Saya tidak terpikirkan untuk mencari lokasi khusus. Sahabat saya hanya bilang, “Cari aja daerah Riau.”

Tibera Hotel Cibeunying

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Pemandangan dari teras kamar pojok

Pencarian berhenti di Tibera Hotel. Lokasinya di Cibeunying Selatan. Saya pikir, mungkin dekat Selaras Guest House dan Taman Cibeunying Selatan, ternyata ada di sisi dekat Jalan Bengawan. Jauh aja. Dari depan, hotel bintang dua ini tampak tidak mencolok, tetapi kesan teduh langsung terasa.

Oh ya, selain di Cibeunying Selatan, Tibera Hotel juga ada di Ciumbuleuit. Bisa jadi pilihan bagi yang ingin berwisata ke arah Punclut atau Setiabudhi.

Pada tanggal 4 November 2017, saya mendapatkan harga satu kamar Deluxe Twin dengan sarapan untuk dua orang seharga kurang dari Rp500.000,- Lumayan untuk penawaran last minutes yang tak banyak pilihan. Awalnya saya rada bete dapat kamar di belakang. Ternyata itu keuntungan untuk saya…

Satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah, lokasinya dekat pembuangan sampah. Sehingga, ketika saya datang dan melakukan check-in, aroma semerbak itu lumayan mengganggu. Untungnya, kamar saya ada di belakang, sehingga gangguan itu bisa berkurang.

Malam hari setelah saya dan anak-anak bermalam mingguan (hasek, ceritanya gituh!), saya menikmati suguhan teh di meja dekat front desk. Sayangnya sudah dingin. Tetapi rasanya seperti ada herbal, entah apa. Wangi.

Kamar Tibera Hotel

Tibera Hotel Cibeunying

Kamar Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Mari masuk ke kamar. Dua tempat tidur standard ini mengapit satu nakas di tengah. Ada pintu yang bisa dibuka untuk menikmati suasana taman. Ada AC split yang akhirnya tidak saya gunakan karena udara juga sudah cukup dingin.

Di meja yang luas untuk bekerja ada lampu baca dan daftar menu. Di lemari ada dua gantungan baju. Ternyata hanya disediakan dua botol air mineral ukuran @ 330ml. Tanpa termos, kopi, dan teh yang sempat saya bayangkan. Euh, baiklah. Tapi mereka menyediakan dua bungkus kecil camilan (yang tak sempat saya lihat itu apa karena langsung diembat oleh anak-anak).

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Wastafel Kamar Tibera Hotel Cibeunying

Kamar mandinya standard. Perlengkapan mandi ada dua handuk, pasta gigi, sikat gigi, sabun, dan sampo. Aliran air dari shower air panas cukup lancar.

Disediakan dua slippers yang ada di bawah tempat penyimpanan tas.

Sumber listrik disediakan di dua tempat: dinding dekat pintu menghadap taman dan di kaca lemari. Di dekat kasur malah tidak tersedia.

Fasilitas Tibera Hotel

Tibera Hotel Bandung

Sudut bermain dan santai Tibera Hotel Cibeunying

Bagaimana dengan hotel secara keseluruhan? Ada pojok bermain untuk anak, ternyata. Di tempat yang sama, lumayan lah ya, bisa buat selfie dan pamer di Instagram. Meski menurut saya sih gak terlalu Instagrammable amat.

Disediakan beberapa mainan untuk tamu yang membawa bayi dan balita. Ada tempat nongkrong buat merokok, karena dilarang keras merokok di dalam kamar atau bahkan di teras kamar. Dendanya lumayan lho. Tetapi saat pagi hari, saya mendapati ada satu tamu di lantai 2 sedang merokok di teras. Ah, sudahlah ya.

Ada coffee corner. Nggak sempat nyobain kopinya. Lain kali, mungkin.

Tibera Hotel Bandung

Restoran Tibera Hotel Cibeunying

Menu di restorannya? Oke, ketika saya mencoba sarapan di sini, saya mau kasih nilai 8/10 deh. Lumayan enak nasi kuning dan tempe kuningnya. Sayangnya, untuk semur ayam agak terlalu keasinan untuk lidah saya. Bubur sumsumnya enak, gurihnya pas. Tersedia roti tawar dan corn flakes juga. Jus jeruknya terlalu manis. Buahnya tersedia semangka saat saya sarapan. Tidak saya ambil karena bukan buah favorit keluarga. Saya dan anak-anak lebih suka melon dan pepaya, if any.

Omong-omong soal kecepatan WiFi di sini… Hmmmm… 6/10. Saya tes untuk unduh film (ups…), dari pukul 8 malam hingga 11 malam hanya berhasil unduh 1 film kartun sebesar 600 MB. Paginya, saya baru berhasil unduh 1 film kartun lagi dari pukul 6 hingga 8 sebesar 700 MB. Dibandingkan dengan WiFi di hotel lain yang pernah saya singgahi, dalam 4 jam bisa unduh 5 film, rasanya cukup bikin manyun.

Pekerjaan saya pun sempat sulit disimpan karena loading lumayan. Saya akan berpikir dua kali untuk menginap kembali di sini jika tujuannya untuk bekerja. Hahahahaha…

Untuk “melarikan diri” dari kesibukan sepanjang minggu, menghabiskan waktu sendirian atau berdua pasangan di sini bolehlah direkomendasikan. Hening, sepi, tenang, dan nyaman. Serius. (*lirik #MyA)

Sebagai salah satu penginapan murah di Bandung, Tibera Hotel ini bisa menjadi surga kecil bagi mereka yang tidak memusingkan kecepatan internet dan pilihan saluran hiburan televisi. Pilih kamar, ambil buku favorit, matikan koneksi internet, dan nikmati akhir pekan.

Sekitar Tibera Hotel Cibeunying

Kalau senang berjalan kaki, di sekitar Tibera Hotel Cibeunying, Anda bisa sampai ke tempat gaulnya anak muda Bandung dengan mudah. Bisa pilih Kopi Anjis di Jalan Bengawan yang jaraknya tidak sampai 1 kilometer. Anda bisa juga ke Warunk Upnormal Jalan Riau mau masuk ke Jalan Aceh, memintas dari Jalan Serayu. Di sini ada Bakso Tahu dan Cuankie Serayu yang beken itu lho. Keluar Jalan Riau, seberang sebelah kanan ada Nasi Kalong. Sebelum sampai ke Upnormal, Anda menemukan Marugame Udon. Dekat Upnormal, ada Pizza Hut. Masa iya, jauh-jauh ke Bandung hanya mampir di Pizza Hut?

Masih tak jauh dari Kopi Anjis, ada tenda sate ayam di pinggir jalan, dekat lampu merah. Etapi lupa di jalan apa ya itu, soalnya lihatnya pas malam, gerimis pula. Nggak ngeh di mana. Pecinta kuliner sejati pasti bakalan nemu, kok.

Mau ke taman? Ada Pet Park, bagi yang suka membawa hewan peliharaannya bermain di ruang publik.

Mampirlah ke Masjid Al-Lathiif di Jalan Saninten, bisa tembus dari Jalan Bengawan. Masjid tempat lahirnya komunitas Pemuda Hijrah (SHIFT) dengan Ustaz Hanan Attaki sebagai komandannya. Tak jauh dari masjid, ada tempat nongkrong ngopi asyik, namanya KOPWEH. Coba ya.
TIBERA HOTEL CIBEUNYING
Alamat: Jl. Taman Cibeunying Selatan No.7, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114
Telepon: +62 22 7100236
Instagram: TiberaHotel

Advertisements
Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , | Leave a comment

Rencana Traveling? Booking Melalui Tiket.com Aja!

Apa yang kamu butuhkan saat merencanakan sebuah perjalanan? Tiket pesawat? Tiket keretaapi? Pesan kamar hotel? Butuh mobil sewaan saat di tempat liburan atau dinas luar kota? Berburu tiket konser artis idola? Pilihan saya selalu jatuh ke tiket.com. Bebas rasa khawatirnya beneran terasa. Ngalahin rasa khawatir ditinggal gebetan. *eh

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Gaya Minimalis Tebu Hotel Bandung

Kamu suka jalan-jalan ke Bandung? Apa sih yang gak ada di Bandung? Oke, pantai. Lupakan pantai. Kamu bisa menikmati indahnya setiap sudut kota dengan berjalan kaki atau angkot atau bus. Lumayan, semuanya terhitung serba dekat kok.

Hotel Tebu Bandung

Batang tebu di lobby hotel

Nah, urusan penginapan, Tebu Hotel Bandung bisa menjadi pilihan, di antara puluhan budget hotels yang ada  di kota Bandung. Lokasinya sangat strategis. Terletak di jalan L. L. R. E. Martadinata atau dikenal dengan sebutan Jalan Riau, Tebu Hotel persis berada  di sebelah de Pavillion, gak jauh dari KFC. Kalo laper, boleh jalan sekitar 150 meter lah dari hotel.

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Perjalanan Bandung – Surakarta 1- 4 September 2016

Not coincidence when I used the hashtag #SoloTrip. Pertama, ini memang perjalanan ke Solo atau Surakarta. Kedua, kali ini saya sendirian pergi jauh dan lama juga meninggalkan krucil.

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Kedua, saya bingung mau mulai cerita dari mana, selain rasa excited karena ke Solo sebagai wakil dari Bandung CLEΛNΛCT. Hadiah dari Allah yang luar biasa. Tahu ada acara #JamboreDiSolo #BebasSampah2020 sudah lama. Saya sempat hening lama. Ingin sekali ke Solo. 16 tahun memimpikan hal ini dan baru terwujud. Kesabaran berbuah manis.
Ketiga, pikiran dan perasaan saya penuh dengan kecemasan. Khas kelemahan saya ketika hendak berangkat ke tempat baru. Membayangkan aneka pengalaman baru di sana.

Continue reading

Categories: Journey, Money and Budget | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Biaya Perjalanan Bandung – Cirebon 3 Hari 

Rencanakan sebuah perjalanan dari jauh hari. Ini benar. Meski pada akhirnya, saat hari H tiba dan sepanjang perjalanan, selalu ada biaya tak terduga yang membengkak tidak karuan.

Meski saya tipe pejalan gimana-nanti-yang-penting-jalan-aja-dulu, harus selalu melakukan penyusunan jadwal dan penghitungan alokasi dana  awal. Seperti saat ke Cirebon.

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Antara Traveling dan Kebutuhan Investasi

Tentang Traveling dan Investasi ini makjleb banget lho. Tapi… Tapi….

Artikel 23 April 2013 dari Tempo ini jelas akan membuat bimbang bagi mereka yang hendak menghabiskan masa muda (atau sesiapa yang merasa berjiwa muda) untuk melakukan perjalanan (jalan-jalan ngabisin duit, wisata kuliner, wisata rohani, wisata belanja, wisata sejarah, atau wisata apa pun, you name it).

 

“We travel, some of us forever, to seek other places, other lives, other souls.” – Anais Nin

 

traveling is investment

via surfo.co.za

Mengutip kata Aidil Akbar dalam artikel tersebut,

Aidil mencontohkan, ada beberapa lajang, terutama yang tidak memiliki tanggungan, lebih memilih mengalokasikan gajinya untuk kebutuhan tambahan, seperti berlibur atau membeli perangkat. Dalam penghitungan nyata, kebutuhan yang bersifat tambahan ini bisa mencapai Rp 10 juta. Padahal uang sebesar itu bila diinvestasikan dapat menghasilkan 10 kali lipat dalam waktu 10 tahun. Apalagi bila diinvestasikan ketika lajang masih berumur 20 tahunan sehingga ada waktu produktif untuk menghasilkan 10-20 tahun kemudian.

 

Kemudian kamu bisa mengambil kalkulator.

 

Investasi Bernama Perjalanan

Aku sih ya, merasa gak sampe segitunya dalam menghabiskan uang di rekening yang jumlahnya juga gak seberapa itu 😀 Investasi? Tapi hobi jalan-jalan? Gimana dong? Emang hobi. Toh dari hobi bisa menghasilkan uang juga. Buktinya banyak travel blogger atau blog traveler (whatever) yang sengaja atau pun tidak, menjadikan blog mereka sebagai sumber penghasilan (entah utama atau sampingan) seputar jalan-jalan.

Besides, traveling juga investasi bagi kenangan di masa depan. Kamu bisa mengumpulkan banyak sekali ingatan dari perjalanan untuk diceritakan kepada anak cucu kelak. Tak sempat melihat keturunanmu? Tulisan di buku atau blog bisa menjadi perantara.

 

Apa yang Kamu Dapat Dari Perjalanan

Kamu bisa membeli properti sebanyak kamu mau, tetapi tidak bisa membeli kenangan yang timbul akibat pengalamanmu berjalan-jalan.

Perjalanan akan membuatmu semakin dewasa dan bijaksana. Setiap waktunya akan memberikanmu pelajaran berharga, apa pun itu.

Dalam setiap perjalanan yang kamu lakukan, kamu akan menemukan bahwa orang-orang baik di dunia ini masih ada. Lupakan setiap twitwar atau comments war dan hadapi orang-orang nyata di luar sana. Mereka akan membantumu menemukan kedai kopi terdekat, tempat ibadah tak jauh dari penginapanmu, bahkan menjadi guru berbahasamu yang baru.

Kita menghadapi tantangan setiap saat sejak membuka mata di pagi hari. No one will push you to your own limits except yourself. Jadi, paksakan dirimu untuk menembus batas itu. “Ah, segini aja deh. Udah cukup buatku.” Yakin?

Perjalanan memperkaya batin, jiwa, dan ragamu. Beragam budaya, adat, suku, agama, bahasa, dan kehidupan sosial di setiap jengkal bumi ini. Tersesatlah. Buang ketakutanmu, temukan keberanianmu, dan hadapi setiap hal baru yang terjadi. Hal ini pula yang akan membuatmu menjadi lebih percaya diri ketika kembali ke rumah. (Eh, punya rumah, kan? 😀 )

Kamu juga menjadi lebih percaya pada kekuatan dirimu yang mungkin selama ini tersembunyi. Pasti akan ada saat ketika kamu berbisik pada diri sendiri, “Eh, aku bisa. Wah, ternyata begini rasanya.” Kamu tak akan menemukan dirimu lebih baik lagi dari ini.

 

Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta

 

Pilih perjalanan hidupmu sendiri. Kamu tahu anekdot “Ngomel mulu. Kurang piknik tuh!”? Banyak hal positif hasil dari melakukan perjalanan. Inilah salah satu sumber kebahagiaan. Dulu, naik pesawat hanya untuk orang kaya. Sekarang, everybody can fly! (ini tagline siapa ya?). Jika selama ini kamu sulit tersenyum bahkan untuk dipaksakan sekali pun, cobalah untuk memulai perjalanan terpendek dulu. Kota tetangga, misalnya.

 

More Productive With Passion

Waktu produktif yang dikatakan oleh Aidil tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ini sih kataku yang sotoy. Tergantung, yang disebut produktif itu apa? Ketika melakukan traveling, seseorang bisa saja semakin produktif. Apalagi di masa teknologi canggih begini, pekerjaan bisa dilakukan dengan remote. Kamu mengendalikan pekerjaan dari mana pun kamu sedang menginjakkan kaki.

Traveling adalah pemborosan? Hmmm….

 

“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor

 

Sadar, sadar banget kalau kita sebagai manusia bertanggung jawab harus berinvestasi demi masa depan. Apapun bentuknya. Tanah, rumah, emas, deposito, atau apa yang bisa disebut simpanan yang menguntungkan kelak. Terkadang, apa yang dilakukan di sebuah masa oleh seseorang, sulit dijangkau nalar oleh orang lain dan menganggapnya sebagai hal yang tak ada gunanya.

Misal saja kisah bagaimana awal mula taksi burung biru berdiri. Kamu tahu? Gak? Googling yah! Atau, sepak terjang Om Bob Sadino dalam memulai bisnisnya dengan aneka pemikiran out of the box itu. Seorang pemilik perusahaan kosmetik memulai bisnisnya di garasi (hayooo, siapa? 😉 ) sama seperti apa yang dilakukan Steve Jobs di garasi bapaknya. Orang yang bukan visioner tentu tidak menemukan korelasi bisnis yang dijalankan dengan kebutuhan pasar saat itu. Sekarang? 🙂

traveling is investment

via pinterest

Seorang traveler juga demikian.

Banyak, sangat banyak perjalanan dilakukan oleh orang di dunia ini setiap harinya. Tetapi tujuannya apa? Mengapa mereka melakukannya? Berapa banyak yang berjalan dan melakukannya semata demi investasi kenangan di masa depan?

 

Traveling Is Investment

No kidding.

Kamu bisa menemukan banyak hal selama perjalanan. Pengalaman berharga akan kamu dapatkan ketika berjalan dan menemukan banyak hal baru. Ibarat sebuah buku, petualangan itu ditentukan dengan seberapa jauh kamu berani melangkah membuka halaman berikutnya. Apakah kamu tidak penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya? Atau cukup puas di halaman pertama?

 

“The world is a book, and those who do not travel read only one page.” – Saint Augustine

 

Aku ingat kata-kata dalam sebuah adegan film  3 Idiots (2009) saat Farhan kaget bahwa suratnya untuk fotografer idolanya dikirim diam-diam oleh Rancho. “In the future when you think of just giving up on life, remember that the letter was in your hands, the cab was at the gate, only if you had thought about it once more, your entire life would have been better,” demikian kata Rancho membesarkan hati Farhan untuk menghadapi ayahnya.

Penyesalan selalu datang terlambat. Karena kita tahu, kalau datang duluan namanya book your seat. Gitu, kan? Aku termasuk menyesal karena saat memiliki impian berjalan-jalan sendirian dengan ransel di punggung, aku menghentikan langkah bahkan sejak dalam pikiran. Ada ketakutan yang tak beralasan. Semua berawal dari larangan pergi jauh dari almarhum Bapak. Beliau khawatir tak bisa mengawasi sepak terjangku. Aku manut. Tetapi batinku gelisah. Ingin pergi dan takut. Sekarang menyesal. Harusnya dulu aku membuktikan kepada Bapak bahwa aku akan baik-baik saja. Meski ada selintas pikiran, jika tanpa restu orangtua, hidupmu tak akan mulus. Dilema, kan?

 

Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do.” – Mark Twain

 

Kalau mau menjadi pejalan, gak usah rempong. Bawa secukupnya saja. Baju paling tiga stel. Alas kaki disesuaikan dengan rute yang akan ditempuh. Aku banyak belajar dari hasil membaca pengalaman orang lain saat berjalan-jalan dan juga mencoba sendiri. Biasanya aku ribet dengan membawa banyak barang. Akhirnya kelelahan karena beratnya beban di pundak, punggung, dan tangan. Yha, beban hidup aja sudah berat, jangan ditambah lah! Berjalan itu harus menikmati pemandangan, bukan melewatkannya dengan menggerutu panjang kali lebar kali tinggi. Betul?

 

“He who would travel happily must travel light.” – Antoine de St. Exupery

 

Akhir kata, dari segala ceracau gak karuan di atas, angkat bokongmu dan seret langkahmu. Beranikan diri.

 

“Life begins at the end of your comfort zone.” – Neale Donald Walsch

 

Salam.

The Life of First Jobber

Travel-writing

Tadi pagi iseng browsing-browsing internet dan menemukan satu artikel yang “ngena” banget buat gue!

Ini link nya: http://www.tempo.co/read/news/2013/04/23/215475244/Menabung-Berlibur-atau-Gadget/1/0

Kalau males klik link nya, ini gue tampilin screen capturenya.

artikel

Ini om Aidil (berasa kenal) bener banget deh. Gue sekarang itu demen banget nyari tiket pesawat murah, jalan-jalan, atau nabung buat beli iphone 5S yang harganya selangit. Padahal dengan gaji gue yang gak seberapa ini, duit gue pasti abis terus kalo ngikutin semua keinginan gue. Kemarin gue udah menyisihkan sedikit gaji untuk ditabung, dan diinvestasikan.

Tapi tetep yang namanya godaan promo tiket pesawat nggak bisa ditolak. Barusan aja gue beli tiket ke Bangkok taun depan. Bayangin PP Cuma 800 ribu. Gila nggak tuh? Again, kartu kredit yang bicara. Trus, 800 ribu itu gue ubah pembayarannya jadi cicilan 3 kali. Lumayan kan, nggak terlalu berasa (selalu ada pembenaran deh kalo urusan ini). Tapi om Aidil bener. Gue harus membatasi kegiatan traveling gue. Walaupun…

View original post 102 more words

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.