Money and Budget

Rencana Traveling? Booking Melalui Tiket.com Aja!

Apa yang kamu butuhkan saat merencanakan sebuah perjalanan? Tiket pesawat? Tiket keretaapi? Pesan kamar hotel? Butuh mobil sewaan saat di tempat liburan atau dinas luar kota? Berburu tiket konser artis idola? Pilihan saya selalu jatuh ke tiket.com. Bebas rasa khawatirnya beneran terasa. Ngalahin rasa khawatir ditinggal gebetan. *eh

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Gaya Minimalis Tebu Hotel Bandung

Kamu suka jalan-jalan ke Bandung? Apa sih yang gak ada di Bandung? Oke, pantai. Lupakan pantai. Kamu bisa menikmati indahnya setiap sudut kota dengan berjalan kaki atau angkot atau bus. Lumayan, semuanya terhitung serba dekat kok.

Hotel Tebu Bandung

Batang tebu di lobby hotel

Nah, urusan penginapan, Tebu Hotel Bandung bisa menjadi pilihan, di antara puluhan budget hotels yang ada  di kota Bandung. Lokasinya sangat strategis. Terletak di jalan L. L. R. E. Martadinata atau dikenal dengan sebutan Jalan Riau, Tebu Hotel persis berada  di sebelah de Pavillion, gak jauh dari KFC. Kalo laper, boleh jalan sekitar 150 meter lah dari hotel.

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Perjalanan Bandung – Surakarta 1- 4 September 2016

Not coincidence when I used the hashtag #SoloTrip. Pertama, ini memang perjalanan ke Solo atau Surakarta. Kedua, kali ini saya sendirian pergi jauh dan lama juga meninggalkan krucil.

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Kedua, saya bingung mau mulai cerita dari mana, selain rasa excited karena ke Solo sebagai wakil dari Bandung CLEΛNΛCT. Hadiah dari Allah yang luar biasa. Tahu ada acara #JamboreDiSolo #BebasSampah2020 sudah lama. Saya sempat hening lama. Ingin sekali ke Solo. 16 tahun memimpikan hal ini dan baru terwujud. Kesabaran berbuah manis.
Ketiga, pikiran dan perasaan saya penuh dengan kecemasan. Khas kelemahan saya ketika hendak berangkat ke tempat baru. Membayangkan aneka pengalaman baru di sana.

Continue reading

Categories: Journey, Money and Budget | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Biaya Perjalanan Bandung – Cirebon 3 Hari 

Rencanakan sebuah perjalanan dari jauh hari. Ini benar. Meski pada akhirnya, saat hari H tiba dan sepanjang perjalanan, selalu ada biaya tak terduga yang membengkak tidak karuan.

Meski saya tipe pejalan gimana-nanti-yang-penting-jalan-aja-dulu, harus selalu melakukan penyusunan jadwal dan penghitungan alokasi dana  awal. Seperti saat ke Cirebon.

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Antara Traveling dan Kebutuhan Investasi

Tentang Traveling dan Investasi ini makjleb banget lho. Tapi… Tapi….

Artikel 23 April 2013 dari Tempo ini jelas akan membuat bimbang bagi mereka yang hendak menghabiskan masa muda (atau sesiapa yang merasa berjiwa muda) untuk melakukan perjalanan (jalan-jalan ngabisin duit, wisata kuliner, wisata rohani, wisata belanja, wisata sejarah, atau wisata apa pun, you name it).

 

“We travel, some of us forever, to seek other places, other lives, other souls.” – Anais Nin

 

traveling is investment

via surfo.co.za

Mengutip kata Aidil Akbar dalam artikel tersebut,

Aidil mencontohkan, ada beberapa lajang, terutama yang tidak memiliki tanggungan, lebih memilih mengalokasikan gajinya untuk kebutuhan tambahan, seperti berlibur atau membeli perangkat. Dalam penghitungan nyata, kebutuhan yang bersifat tambahan ini bisa mencapai Rp 10 juta. Padahal uang sebesar itu bila diinvestasikan dapat menghasilkan 10 kali lipat dalam waktu 10 tahun. Apalagi bila diinvestasikan ketika lajang masih berumur 20 tahunan sehingga ada waktu produktif untuk menghasilkan 10-20 tahun kemudian.

 

Kemudian kamu bisa mengambil kalkulator.

 

Investasi Bernama Perjalanan

Aku sih ya, merasa gak sampe segitunya dalam menghabiskan uang di rekening yang jumlahnya juga gak seberapa itu 😀 Investasi? Tapi hobi jalan-jalan? Gimana dong? Emang hobi. Toh dari hobi bisa menghasilkan uang juga. Buktinya banyak travel blogger atau blog traveler (whatever) yang sengaja atau pun tidak, menjadikan blog mereka sebagai sumber penghasilan (entah utama atau sampingan) seputar jalan-jalan.

Besides, traveling juga investasi bagi kenangan di masa depan. Kamu bisa mengumpulkan banyak sekali ingatan dari perjalanan untuk diceritakan kepada anak cucu kelak. Tak sempat melihat keturunanmu? Tulisan di buku atau blog bisa menjadi perantara.

 

Apa yang Kamu Dapat Dari Perjalanan

Kamu bisa membeli properti sebanyak kamu mau, tetapi tidak bisa membeli kenangan yang timbul akibat pengalamanmu berjalan-jalan.

Perjalanan akan membuatmu semakin dewasa dan bijaksana. Setiap waktunya akan memberikanmu pelajaran berharga, apa pun itu.

Dalam setiap perjalanan yang kamu lakukan, kamu akan menemukan bahwa orang-orang baik di dunia ini masih ada. Lupakan setiap twitwar atau comments war dan hadapi orang-orang nyata di luar sana. Mereka akan membantumu menemukan kedai kopi terdekat, tempat ibadah tak jauh dari penginapanmu, bahkan menjadi guru berbahasamu yang baru.

Kita menghadapi tantangan setiap saat sejak membuka mata di pagi hari. No one will push you to your own limits except yourself. Jadi, paksakan dirimu untuk menembus batas itu. “Ah, segini aja deh. Udah cukup buatku.” Yakin?

Perjalanan memperkaya batin, jiwa, dan ragamu. Beragam budaya, adat, suku, agama, bahasa, dan kehidupan sosial di setiap jengkal bumi ini. Tersesatlah. Buang ketakutanmu, temukan keberanianmu, dan hadapi setiap hal baru yang terjadi. Hal ini pula yang akan membuatmu menjadi lebih percaya diri ketika kembali ke rumah. (Eh, punya rumah, kan? 😀 )

Kamu juga menjadi lebih percaya pada kekuatan dirimu yang mungkin selama ini tersembunyi. Pasti akan ada saat ketika kamu berbisik pada diri sendiri, “Eh, aku bisa. Wah, ternyata begini rasanya.” Kamu tak akan menemukan dirimu lebih baik lagi dari ini.

 

Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta

 

Pilih perjalanan hidupmu sendiri. Kamu tahu anekdot “Ngomel mulu. Kurang piknik tuh!”? Banyak hal positif hasil dari melakukan perjalanan. Inilah salah satu sumber kebahagiaan. Dulu, naik pesawat hanya untuk orang kaya. Sekarang, everybody can fly! (ini tagline siapa ya?). Jika selama ini kamu sulit tersenyum bahkan untuk dipaksakan sekali pun, cobalah untuk memulai perjalanan terpendek dulu. Kota tetangga, misalnya.

 

More Productive With Passion

Waktu produktif yang dikatakan oleh Aidil tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ini sih kataku yang sotoy. Tergantung, yang disebut produktif itu apa? Ketika melakukan traveling, seseorang bisa saja semakin produktif. Apalagi di masa teknologi canggih begini, pekerjaan bisa dilakukan dengan remote. Kamu mengendalikan pekerjaan dari mana pun kamu sedang menginjakkan kaki.

Traveling adalah pemborosan? Hmmm….

 

“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor

 

Sadar, sadar banget kalau kita sebagai manusia bertanggung jawab harus berinvestasi demi masa depan. Apapun bentuknya. Tanah, rumah, emas, deposito, atau apa yang bisa disebut simpanan yang menguntungkan kelak. Terkadang, apa yang dilakukan di sebuah masa oleh seseorang, sulit dijangkau nalar oleh orang lain dan menganggapnya sebagai hal yang tak ada gunanya.

Misal saja kisah bagaimana awal mula taksi burung biru berdiri. Kamu tahu? Gak? Googling yah! Atau, sepak terjang Om Bob Sadino dalam memulai bisnisnya dengan aneka pemikiran out of the box itu. Seorang pemilik perusahaan kosmetik memulai bisnisnya di garasi (hayooo, siapa? 😉 ) sama seperti apa yang dilakukan Steve Jobs di garasi bapaknya. Orang yang bukan visioner tentu tidak menemukan korelasi bisnis yang dijalankan dengan kebutuhan pasar saat itu. Sekarang? 🙂

traveling is investment

via pinterest

Seorang traveler juga demikian.

Banyak, sangat banyak perjalanan dilakukan oleh orang di dunia ini setiap harinya. Tetapi tujuannya apa? Mengapa mereka melakukannya? Berapa banyak yang berjalan dan melakukannya semata demi investasi kenangan di masa depan?

 

Traveling Is Investment

No kidding.

Kamu bisa menemukan banyak hal selama perjalanan. Pengalaman berharga akan kamu dapatkan ketika berjalan dan menemukan banyak hal baru. Ibarat sebuah buku, petualangan itu ditentukan dengan seberapa jauh kamu berani melangkah membuka halaman berikutnya. Apakah kamu tidak penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya? Atau cukup puas di halaman pertama?

 

“The world is a book, and those who do not travel read only one page.” – Saint Augustine

 

Aku ingat kata-kata dalam sebuah adegan film  3 Idiots (2009) saat Farhan kaget bahwa suratnya untuk fotografer idolanya dikirim diam-diam oleh Rancho. “In the future when you think of just giving up on life, remember that the letter was in your hands, the cab was at the gate, only if you had thought about it once more, your entire life would have been better,” demikian kata Rancho membesarkan hati Farhan untuk menghadapi ayahnya.

Penyesalan selalu datang terlambat. Karena kita tahu, kalau datang duluan namanya book your seat. Gitu, kan? Aku termasuk menyesal karena saat memiliki impian berjalan-jalan sendirian dengan ransel di punggung, aku menghentikan langkah bahkan sejak dalam pikiran. Ada ketakutan yang tak beralasan. Semua berawal dari larangan pergi jauh dari almarhum Bapak. Beliau khawatir tak bisa mengawasi sepak terjangku. Aku manut. Tetapi batinku gelisah. Ingin pergi dan takut. Sekarang menyesal. Harusnya dulu aku membuktikan kepada Bapak bahwa aku akan baik-baik saja. Meski ada selintas pikiran, jika tanpa restu orangtua, hidupmu tak akan mulus. Dilema, kan?

 

Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do.” – Mark Twain

 

Kalau mau menjadi pejalan, gak usah rempong. Bawa secukupnya saja. Baju paling tiga stel. Alas kaki disesuaikan dengan rute yang akan ditempuh. Aku banyak belajar dari hasil membaca pengalaman orang lain saat berjalan-jalan dan juga mencoba sendiri. Biasanya aku ribet dengan membawa banyak barang. Akhirnya kelelahan karena beratnya beban di pundak, punggung, dan tangan. Yha, beban hidup aja sudah berat, jangan ditambah lah! Berjalan itu harus menikmati pemandangan, bukan melewatkannya dengan menggerutu panjang kali lebar kali tinggi. Betul?

 

“He who would travel happily must travel light.” – Antoine de St. Exupery

 

Akhir kata, dari segala ceracau gak karuan di atas, angkat bokongmu dan seret langkahmu. Beranikan diri.

 

“Life begins at the end of your comfort zone.” – Neale Donald Walsch

 

Salam.

The Life of First Jobber

Travel-writing

Tadi pagi iseng browsing-browsing internet dan menemukan satu artikel yang “ngena” banget buat gue!

Ini link nya: http://www.tempo.co/read/news/2013/04/23/215475244/Menabung-Berlibur-atau-Gadget/1/0

Kalau males klik link nya, ini gue tampilin screen capturenya.

artikel

Ini om Aidil (berasa kenal) bener banget deh. Gue sekarang itu demen banget nyari tiket pesawat murah, jalan-jalan, atau nabung buat beli iphone 5S yang harganya selangit. Padahal dengan gaji gue yang gak seberapa ini, duit gue pasti abis terus kalo ngikutin semua keinginan gue. Kemarin gue udah menyisihkan sedikit gaji untuk ditabung, dan diinvestasikan.

Tapi tetep yang namanya godaan promo tiket pesawat nggak bisa ditolak. Barusan aja gue beli tiket ke Bangkok taun depan. Bayangin PP Cuma 800 ribu. Gila nggak tuh? Again, kartu kredit yang bicara. Trus, 800 ribu itu gue ubah pembayarannya jadi cicilan 3 kali. Lumayan kan, nggak terlalu berasa (selalu ada pembenaran deh kalo urusan ini). Tapi om Aidil bener. Gue harus membatasi kegiatan traveling gue. Walaupun…

View original post 102 more words

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.