Posts Tagged With: Kids

Tibera Hotel Cibeunying Bandung, Keheningan di Tengah Kota

Petualangan sederhana dimulai ketika sahabat saya mendadak memberitahukan bahwa ada sejumlah tenggat artikel yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam. Berhubung dia juga ingin meeting dengan saya di hari Ahad pagi, akhirnya dia memutuskan untuk memberi akomodasi agar saya bisa fokus menulis.

Menyenangkan adalah ketika saya diminta memilih sendiri akan menginap di mana. Bagian menyebalkannya adalah pada akhir pekan, awal bulan, di Bandung adalah perpaduan sempurna sulitnya menemukan budget hotel di tengah kota. Terutama di daerah Jalan L.L.R.E Martadinata alias Jalan Riau.

Mencari Penginapan Last Minutes

Tibera Hotel Cibeunying

Semua kamar Tibera Hotel menghadap taman

Dari sekian banyak tawaran penyedia informasi penginapan di ranah maya seperti Agoda, booking.com, pegipegi, airyrooms, dan Traveloka, akhirnya yang terakhir menjadi pilihan. Saya pilih bertransaksi dari situsnya melaluo laptop, bukan aplikasi supaya lebih cepat mencari.

Banyak diskon bertebaran. Tetapi karena dana tak banyak, pilihan penginapan di harga 600 ribuan ke atas tentu tak masuk incaran. Apalagi yang harganya sejutaan. Bukan gaya saya pun kalau mencari hotel mewah.

Saya tidak terpikirkan untuk mencari lokasi khusus. Sahabat saya hanya bilang, “Cari aja daerah Riau.”

Tibera Hotel Cibeunying

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Pemandangan dari teras kamar pojok

Pencarian berhenti di Tibera Hotel. Lokasinya di Cibeunying Selatan. Saya pikir, mungkin dekat Selaras Guest House dan Taman Cibeunying Selatan, ternyata ada di sisi dekat Jalan Bengawan. Jauh aja. Dari depan, hotel bintang dua ini tampak tidak mencolok, tetapi kesan teduh langsung terasa.

Oh ya, selain di Cibeunying Selatan, Tibera Hotel juga ada di Ciumbuleuit. Bisa jadi pilihan bagi yang ingin berwisata ke arah Punclut atau Setiabudhi.

Pada tanggal 4 November 2017, saya mendapatkan harga satu kamar Deluxe Twin dengan sarapan untuk dua orang seharga kurang dari Rp500.000,- Lumayan untuk penawaran last minutes yang tak banyak pilihan. Awalnya saya rada bete dapat kamar di belakang. Ternyata itu keuntungan untuk saya…

Satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah, lokasinya dekat pembuangan sampah. Sehingga, ketika saya datang dan melakukan check-in, aroma semerbak itu lumayan mengganggu. Untungnya, kamar saya ada di belakang, sehingga gangguan itu bisa berkurang.

Malam hari setelah saya dan anak-anak bermalam mingguan (hasek, ceritanya gituh!), saya menikmati suguhan teh di meja dekat front desk. Sayangnya sudah dingin. Tetapi rasanya seperti ada herbal, entah apa. Wangi.

Kamar Tibera Hotel

Tibera Hotel Cibeunying

Kamar Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Mari masuk ke kamar. Dua tempat tidur standard ini mengapit satu nakas di tengah. Ada pintu yang bisa dibuka untuk menikmati suasana taman. Ada AC split yang akhirnya tidak saya gunakan karena udara juga sudah cukup dingin.

Di meja yang luas untuk bekerja ada lampu baca dan daftar menu. Di lemari ada dua gantungan baju. Ternyata hanya disediakan dua botol air mineral ukuran @ 330ml. Tanpa termos, kopi, dan teh yang sempat saya bayangkan. Euh, baiklah. Tapi mereka menyediakan dua bungkus kecil camilan (yang tak sempat saya lihat itu apa karena langsung diembat oleh anak-anak).

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Wastafel Kamar Tibera Hotel Cibeunying

Kamar mandinya standard. Perlengkapan mandi ada dua handuk, pasta gigi, sikat gigi, sabun, dan sampo. Aliran air dari shower air panas cukup lancar.

Disediakan dua slippers yang ada di bawah tempat penyimpanan tas.

Sumber listrik disediakan di dua tempat: dinding dekat pintu menghadap taman dan di kaca lemari. Di dekat kasur malah tidak tersedia.

Fasilitas Tibera Hotel

Tibera Hotel Bandung

Sudut bermain dan santai Tibera Hotel Cibeunying

Bagaimana dengan hotel secara keseluruhan? Ada pojok bermain untuk anak, ternyata. Di tempat yang sama, lumayan lah ya, bisa buat selfie dan pamer di Instagram. Meski menurut saya sih gak terlalu Instagrammable amat.

Disediakan beberapa mainan untuk tamu yang membawa bayi dan balita. Ada tempat nongkrong buat merokok, karena dilarang keras merokok di dalam kamar atau bahkan di teras kamar. Dendanya lumayan lho. Tetapi saat pagi hari, saya mendapati ada satu tamu di lantai 2 sedang merokok di teras. Ah, sudahlah ya.

Ada coffee corner. Nggak sempat nyobain kopinya. Lain kali, mungkin.

Tibera Hotel Bandung

Restoran Tibera Hotel Cibeunying

Menu di restorannya? Oke, ketika saya mencoba sarapan di sini, saya mau kasih nilai 8/10 deh. Lumayan enak nasi kuning dan tempe kuningnya. Sayangnya, untuk semur ayam agak terlalu keasinan untuk lidah saya. Bubur sumsumnya enak, gurihnya pas. Tersedia roti tawar dan corn flakes juga. Jus jeruknya terlalu manis. Buahnya tersedia semangka saat saya sarapan. Tidak saya ambil karena bukan buah favorit keluarga. Saya dan anak-anak lebih suka melon dan pepaya, if any.

Omong-omong soal kecepatan WiFi di sini… Hmmmm… 6/10. Saya tes untuk unduh film (ups…), dari pukul 8 malam hingga 11 malam hanya berhasil unduh 1 film kartun sebesar 600 MB. Paginya, saya baru berhasil unduh 1 film kartun lagi dari pukul 6 hingga 8 sebesar 700 MB. Dibandingkan dengan WiFi di hotel lain yang pernah saya singgahi, dalam 4 jam bisa unduh 5 film, rasanya cukup bikin manyun.

Pekerjaan saya pun sempat sulit disimpan karena loading lumayan. Saya akan berpikir dua kali untuk menginap kembali di sini jika tujuannya untuk bekerja. Hahahahaha…

Untuk “melarikan diri” dari kesibukan sepanjang minggu, menghabiskan waktu sendirian atau berdua pasangan di sini bolehlah direkomendasikan. Hening, sepi, tenang, dan nyaman. Serius. (*lirik #MyA)

Sebagai salah satu penginapan murah di Bandung, Tibera Hotel ini bisa menjadi surga kecil bagi mereka yang tidak memusingkan kecepatan internet dan pilihan saluran hiburan televisi. Pilih kamar, ambil buku favorit, matikan koneksi internet, dan nikmati akhir pekan.

Sekitar Tibera Hotel Cibeunying

Kalau senang berjalan kaki, di sekitar Tibera Hotel Cibeunying, Anda bisa sampai ke tempat gaulnya anak muda Bandung dengan mudah. Bisa pilih Kopi Anjis di Jalan Bengawan yang jaraknya tidak sampai 1 kilometer. Anda bisa juga ke Warunk Upnormal Jalan Riau mau masuk ke Jalan Aceh, memintas dari Jalan Serayu. Di sini ada Bakso Tahu dan Cuankie Serayu yang beken itu lho. Keluar Jalan Riau, seberang sebelah kanan ada Nasi Kalong. Sebelum sampai ke Upnormal, Anda menemukan Marugame Udon. Dekat Upnormal, ada Pizza Hut. Masa iya, jauh-jauh ke Bandung hanya mampir di Pizza Hut?

Masih tak jauh dari Kopi Anjis, ada tenda sate ayam di pinggir jalan, dekat lampu merah. Etapi lupa di jalan apa ya itu, soalnya lihatnya pas malam, gerimis pula. Nggak ngeh di mana. Pecinta kuliner sejati pasti bakalan nemu, kok.

Mau ke taman? Ada Pet Park, bagi yang suka membawa hewan peliharaannya bermain di ruang publik.

Mampirlah ke Masjid Al-Lathiif di Jalan Saninten, bisa tembus dari Jalan Bengawan. Masjid tempat lahirnya komunitas Pemuda Hijrah (SHIFT) dengan Ustaz Hanan Attaki sebagai komandannya. Tak jauh dari masjid, ada tempat nongkrong ngopi asyik, namanya KOPWEH. Coba ya.
TIBERA HOTEL CIBEUNYING
Alamat: Jl. Taman Cibeunying Selatan No.7, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114
Telepon: +62 22 7100236
Instagram: TiberaHotel

Advertisements
Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , | Leave a comment

Biaya Perjalanan Bandung –Β Cirebon 3 HariΒ 

Rencanakan sebuah perjalanan dari jauh hari. Ini benar. Meski pada akhirnya, saat hari H tiba dan sepanjang perjalanan, selalu ada biaya tak terduga yang membengkak tidak karuan.

Meski saya tipe pejalan gimana-nanti-yang-penting-jalan-aja-dulu, harus selalu melakukan penyusunan jadwal dan penghitungan alokasi dana Β awal. Seperti saat ke Cirebon.

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Wisata Kuliner Cirebon – Sesuap Kenangan Masa Kecil

Kembali ke Cirebon, artinya memuaskan rindu pada aneka makanan lezat, yang justru didapatkan di pinggir jalan atau kedai sederhana, bukan restoran atau masuk mall. Setidaknya untukku.

Tanggal 29 – 31 Juli 2016 lalu, saya pulang ke Cirebon dan kali ini bersama anak-anak. Janjian dengan sahabat tercinta Vei dan anaknya Air, berharap perjalanan kali ini akan penuh kenangan manis. Meski cuaca sangat terik dan suhu Kota Udang itu berkisar 30Β° Celsius, pantang istirahat tanpa makan. Hihi πŸ˜„

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Backpacking Bandung – Cirebon : 29 – 31 Juli 2016Β 

Perjalanan pertama terjauh saya bersama anak-anak dengan kereta api menuju ujung timur Jawa Barat, tepatnya ke kota tempat saya dibesarkan sepenuh cinta oleh orangtua. Tsaaahhh…

Berawal dari rumpi geje bersama Vei, sahabat tercinta di Telegram pada bulan Juni. “Ke Cirebon, yuk?” berakhir dengan pemesanan tiket kereta api beda jurusan. Dia dari Stasiun Gambir Jakarta, sementara saya dari Stasiun Kebon Kawung Bandung. Itu pun sempat disertai drama kalau saya galau antara naik bus atau kereta api. Kemudian ganti lagi, apakah saya naik dari Gambir juga, atau tetap dari Bandung. Bisa ditebak, Vei esmosi escendol membaca jawaban plin plan saya.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

Tiga Hari Dua Malam di Jakarta

Entah apa yang harus ditulis di sini. Sebenarnya sih biasa saja ketika kami ke Jakarta dan menginap di rumah sepupuku.

Tanggal 12 September kami berangkat dari rumah pukul 8 pagi. Dengan drama tak ada bus Damri dan angkot yang ngetem, akhirnya naik Trans Metro Bandung setelah menunggu sejam. Sampai di terminal Leuwi Panjang, mendapati bus Bandung – Lebak Bulus hanya berisi 10 penumpang. Sepi. Asyik buat tidur. :mrgreen:

Macet di daerah Cikarang ya dinikmati sajalah. Sampai di terminal Lebak Bulus pukul 2 siang, dilanjutkan oleh Trans Jakarta ke Harmoni dan tiba pukul 3.30 sore. Yaelah, kacau deh!

Capeknya pol. Anak-anak langsung meleleh karena gerahnya udara Harmoni saat itu. Mandi di bathup sepertinya melegakan πŸ˜€

Tanggal 13 September, aku ada janji dengan klien di Plaza Senayan dan core team di Blok M Plaza. Selesai semuanya, kembali ke Harmoni. Sinyal AHA d-max di Harmoni sangat kacau. Disconnect setelah tersambung 10 menit. Puih! Gerahnya Harmoni membuat emosi sampai gak fokus kerja. Ya sudah, menikmati aneka sajian hiburan Korea karena keponakanku tergila-gila Korea. Yang ada sih aku bengong. Gak ngerti. Hihihi…

Tanggal 14, kami bertiga bersiap untuk pulang ke Bandung. Sebelumnya, krucilku ikut ke kantor Oriflame Sudirman dan melihat banyak yang seru di sana. Termasuk menemani uwak mereka ikutan beauty class. Aku? Jangan tanyaaaaaa…. aku gak bisa ikutan laaahh… Setelah makan siang, terjebak macet di sekitar Radio Dalam dan Pondok Indah hingga menyebabkan banjir keringat, masuk bus Primajasa tujuan Bandung rasanya nikmat sekali! πŸ˜›

Apa istimewanya? Nyaris gak ada sih πŸ˜€ Tapi bertemu sepupu dan menikmati macet itu tetap sesuatu banget kalau ada di Jakarta. Hehehe…

Hm, selanjutnya ke mana ya?

Categories: Journey | Tags: , , | Leave a comment

Jakarta In 30 Hours

Sebenarnya sih perjalanan ke Jakarta gak bisa dibilang sebagai rencana backpacking karena emang bukan itu tujuan datang ke sana. Dalam rangka bertemu dengan seorang ekspatriat di Plaza Senayan dan dilanjutkan bertemu dengan Angie, teman online-ku.

Dimulai dengan pergi dari rumah pukul sembilan pagi dan sampai Lebak Bulus pukul satu siang. Lama? Ember! Sudahlah, anak-anak menikmati perjalanan kok πŸ™‚ Tapi, dahsyatnya suhu di Harmoni, Jakarta Pusat membuat anak-anak meleleh. Sama, aku juga. *peras keringat*

Tadinya mau diajak makan seafood dalam rangka ultah kakak sepupu, tapi gak jadi karena hujan deras dan membuat banjir datang ke rumah. Ya sudahlah, kita makan mie rebus dan lanjut kwaci sajaaaaaa…. Hihihihi…. Ditambah lagi pengalaman pertamaku melihat serial Korea di Indovision. Asli katrok banget πŸ˜† Maklum ya faktor U. *muka datar*

Tidur di malam hari pun rasanya tersiksa. Geraaaaaaaaahhhhh…. Umar dan Salman baru tenang pukul tiga pagi. Bahkan Umar sampai mengigau, “Bun, aku mau es teh manis.” Hadooooohhh…

Kemudian, tibalah hari Senin yang membuatku senewen. Kenapa? Pemandangan macet yang kupikir akan terjadi pada pukul delapan pagi ternyata hanya ketakutanku saja. Buktinya lancar banget sampai di tempat tujuan yaitu Plaza Senayan. Dari halte busway Polda Metro, aku menuju Plaza Senayan dengan berjalan kaki, sesuatu yang sudah lama tak kulakukan. Jauh? Ah, segitu sih cetek banget πŸ˜†

Setelah aku selesai berdiskusi dengan ekspatriat (tidak lebih dari 30 menit tapi rasanya 2 jam ituh!) aku melanjutkan pertemuan dengan Angie sambil berniat mengunduh beberapa konten dari free WiFi area tapi ternyata gatot 50% 😦

Menjemput anak-anak di Harmoni dan langsung ke Sarinah untuk pulang ke Bandung. Mereka sudah sering naik busway, tapi naik ketika jam pulang kerja? Perjuangan setengah mati ya boooooo…..

Yang paling menakutkan adalah menggunakan travel pada malam hari, hujan deras, supir mengantuk, dan aku membawa anak-anak. Asli, semalam itu rasanya aku berjuang agar bisa selamat semua isi mobil travel. Kadang ngebut dan kadang melaju sangat pelan. Takuuuuutttt…. Iya, aku benar-benar pening karena menahan kantuk yang amat sangat. Kapok deh pakai travel itu lagi. Semalam pilih itu karena travel langgananku full booked 😦

Baiklah, sekarang kembali ke alam nyata dulu. Kerja lagi!

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Selalu Ada Hikmahnya

Harusnya tanggal 10-13 Maret kemarin kami bertiga ke Bogor untuk menyaksikan pagelaran Cap Go Meh. Pun untuk bertemu dengan tim Buitenzorg Historian Lover (BHL). Rencana sudah dari Januari. Tapi apa daya harus dibatalkan. Alasannya? Duo krucil sakit. Umar muntah-muntah dan batuk sementara Salman gondongan dan pilek. Jadi, semuanya istirahat di rumah πŸ™‚

Entah kapan lagi ke Bogor karena rencana April adalah Cirebon dan Kuningan. *mumet ngatur jadwal* Lagian belum menghubungi yang ada di Cirebon untuk bisa ditebengin. *hihihi, teteup ya bo?*Β Di Kuningan nanti rencana sih mau ke tempat Ambu Tuti, insya Allah. Mau lihat panti asuhannya yang pernah diceritakan padaku Februari lalu.

Ada hikmah lain sih gak jadi ke Bogor. Ada kesempatan untuk menyelesaikan 3 artikel utang. Hihihi…

Baiklah, nanti kita pikirkan lagi gimana kelanjutan perjalanan ini. Okay, troops? πŸ™‚

~ An, Umar, Salman ~

Categories: Plan To Go | Tags: | Leave a comment

The First, The Unpredictable

Perjalanan pertama aku, Umar, dan Salman adalah ke Sukabumi sama sekali tidak diprediksikan maju secepat ini. Tadinya rencana tanggal 8/9 Maret, lah malah maju tanggal 2 Maret. πŸ˜€

Diawali tanggal 1 Maret pagi, aku nyeletuk pada Umar dan Salman, “Kita ke Sukabumi yuk? Jalan-jalan, mau gak?” Mereka antusias banget! Dan aku mulai menghubungi Teh Lela Herlambang dan Popi “Ojon” Gunawan untuk janjian bertemu.

Tanggal 2, kami pergi ke Riau Junction dulu karena ada acara Wacoal ReShape hingga pukul empat sore. Kemudian ke terminal Leuwi Panjang dan menunggu sekitar 10 menit bus MGI jurusan Bandung-Sukabumi. Beuh itu yang rebutan tempat duduk! Kami bertiga menempati baris terakhir paling belakang dekat smoking area. Bus berangkat pukul enam sore. Pokoknya keangkut deh! πŸ˜†

stiker ini ada di jendela tempat duduk paling belakang +_+

stiker ini ada di jendela tempat duduk paling belakang +_+

Dengan harga tiket yang murah ( @Rp21.000,00 ), kami menikmati perjalanan. Macet total. Sepanjang jalan, asli deh aku norak banget. Celingukan kanan kiri dan bertanya dalam hati, “Sudah sampai mana sih ini?” Karena kalau ke Sukabumi selalu jalur dari Bogor-Ciawi, dan sama sekali belum pernah lewat jalur Padalarang – Cianjur. Iye dah ah, aku turis lokal πŸ˜€

Sampai di terminal Sukabumi pukul 10 malam, menunggu si Ojon hampir 30 menit karena BlackBerry aku modyar keabisan baterai dan Android pun tak bisa menerima telepon karena jaringan CDMA tak berfungsi. Hanya bisa menangkap 3G dan akhirnya komunikasi via DM twitter. Baterai Android pun sudah sekarat πŸ˜€ Kacau deh!

Ojon tiba dan menemukan Umar & Salman yang nyengir sebal karena kelelahan. Akhirnya kami ke arah jalan Ahmad Yani untuk makan (ke)malam(an). Ojon juga membeli 2 kotak besar martabak rasa keju dan cokelat. Hyah, dia dipalak krucil πŸ˜† Hanya saja sebelnya, aku belum benar-benar beranjak dari meja nomor 3, itu para karyawan tempat makannya udah beresin mejaku dengan santainya. Bahkan air jeruk yang belum habis kuminum sudah berpindah ke nampan. Koplak!

ayam bakarnya gak sempet difoto, jadi nota kosong aja :D

ayam bakarnya gak sempet difoto, jadi nota kosong aja πŸ˜€

martabak yang gurih dan enak ini namanya BANDUNG :D

martabak yang gurih dan enak ini namanya BANDUNG πŸ˜€

Awalnya rencana kami akan menginap di Sukabumi Indah, tapi ternyata penuh. Lah ya aku kaget, kirain Ojon sudah pesan tempat. Dodol kan? Keliling Sukabumi, menemukan 4 penginapan lain yang juga penuh. Aku dan krucil sudah mulai kelelahan sangat. Aku sendiri seperti mau pingsan nih duduk di motornya Ojon.

Akhirnya melewati daerah Cisaat kemudian Cibadak. Menemukan Hotel Rafflesia dan mendapatkan kamar TERAKHIR. Alhamdulillah banget sih. Sudah tak peduli berapa harga kamar, yang ternyata 2x lipat dari prediksi awal. Bujetku 50-100rb, malam itu mendapatkan kamar seharga Rp197,500. Tjakeup dah! Ya sudah gak papa deh! Yang penting anak-anak istirahat. Karena pikiran awalku, kalau sampai gak dapat juga, ya cari masjid terdekat. Hanya saja ironisnya, beberapa masjid yang kami lewati, tak satu pun yang gerbangnya dibuka. Pintu masjidnya sendiri ditutup rapat. Heran deh. Kalau ada yang mau shalat tahajud, gimana? Kalau ada musafir, gimana? Pengurus masjidnya aneh.

rafflesia plang

ini lho hotelnya. padahal di sebelahnya juga ada hotel lain. tapi full…. 😦

Sebenarnya sih kalau mau mengkritisi masjid yang digembok rapat itu, ternyata alasannya hanya satu: takut kemalingan. Lah? Maling apaan? Mukena? Sajadah? Sarung? Quran? So what gitu lho? Pernah gak sih kepikiran kalau yang dikatakan “maling” itu sebenarnya butuh alat shalat tapi gak punya uang? Atau ada hak dhuafa yang belum tersalurkan oleh pihak masjid hingga akhirnya diminta oleh Allah dengan cara demikian? Malam itu aku sama sekali geregetan pada masjid-masjid angkuh itu. Sorry to say...

Di kamar nomer 10 Hotel Rafflesia, banyak sekali yang kurang dan harus dikritik. Untuk ukuran kelas ekonomi dengan harga segitu mahal , aku menemukan hal-hal yang mengejutkan:

1. 5 ekor kecoa!!

2. Stop kontak listrik & telepon yang kendur.

serem gak sih?

serem gak sih?

gak yakin berfungsi. gak kucobain juga sih.

gak yakin berfungsi. gak kucobain juga sih.

3. Toilet yang gak berfungsi dengan baik.

4. Bau apek seisi ruangan.

5. Tidak ada keset.

6. Selimut yang baunya seperti tidak diganti tiga bulan.

7. Β Sarapan dengan rasa yang biasa banget.

sarapan rafflesia

ini sarapannya. standar banget. dan ketika dihidangkan sampe kamar dalam keadaan sudah dingin >_<

Asal tau aja, untuk standar rasa makanan itu enak, aku percaya pada lidah Salman. Kalau makanan itu dia bilang enak. kenyataannya memang demikian. Kalau dia hanya mau 5 sendok dan gak dihabiskan, well… nuff said πŸ™‚ Jadi, tau dong ya, makanan gak dihabiskan Salman, jadi gimana rasanya? πŸ˜›

Tapi…. Meski kecewa dengan kamar nomer 10 itu, at least kolam renangnya bisa membuat Umar dan Salman heboh berenang selama…. 1 jam >_< Ampun deh! Pemandangan sekitar hotel juga termasuk indah dan menyenangkan. Terbayar lah rasa sedih dan jengkelnya.

pemandangan dari kamar, ketika buka pintu. segarnya menenangkan ^_^

pemandangan dari kamar, ketika buka pintu. segarnya menenangkan ^_^

ini kolam renangnya sedang dibersihkan sebelum dimanfaatkan oleh Umar dan Salman. :)

ini kolam renangnya sedang dibersihkan sebelum dimanfaatkan oleh Umar dan Salman. πŸ™‚

peringatan renang yang terdapat tak jauh dari kolam.

peringatan renang yang terdapat tak jauh dari kolam.

Seharusnya sih hari Minggu tuh kami ketemu dengan Teh Lela Herlambang (@thesali4) tapi karena beliau dan anak-anak masih dalam perjalanan dan aku juga harus ke Depok untuk melayat, jadilah dengan tergesa kami harus balik arah. Benar-benar unpredictable kan kalau begini urusannya?

Gagal kuliner dan keliling kota Sukabumi agak bikin kecewa juga. Tapi ya karena gak ada yang bisa diprediksi, mungkin akan diulang lain waktu. Semoga saja kan?

Akhirnya aku dan anak-anak diantar oleh Ojon mencegat miniarta MGI jurusan Sukabumi – Depok. Mencegat? Yes! Gak salah baca kok! Karena miniarta itu cukup ditunggu di seberang hotel. Tapi karena teriknya sinar matahari pukul sepuluh itu agak menyebalkan, terpaksa mencari sampai agak jauh (sekitar 10 kilometer dari hotel ke arah Sukabumi kota).

Dan, dapatlah kami miniarta yang masih lumayan kosong. Iya, mencegatnya setelah mengejar sekitar 10 meter. Seru amat! πŸ˜€ Alhamdulillah mendapat kursi di belakang supir. Girangnya anak-anak πŸ™‚ Kami pun melanjutkan perjalanan ke Depok. Sepanjang jalan, banyak juga lho yang naik sampai penuh. Di Ciawi, supirnya istirahat untuk merokok. πŸ˜€ Yeah, ada peraturan dalam stiker bahwa supir, kenek, atau penumpang gak boleh merokok dalam bus. Jadi, supirnya turun dulu buat “bernafas”. Hehehe… Juga untuk mengangkut penumpang.

Di daerah Cibinong kami disambut hujan deras sampai ke terminal Depok. Hadeeeeeeehhhhhhhh…… Itu sekitar pukul tiga sore. Umar dan Salman langsung napak tilas ke Masjid tempat mereka ikutan TPA setahun lalu πŸ™‚ Kemudian mereka bertemu Raffa dan Rasyad. Senangnya bermain bersama.

Kami terpaksa tidak pamit lagi pada keluarga Sagala (kami melayat anak sulungnya yang meninggal: Arnold Posma Sagala) karena mengejar bus ke Bandung yang berangkat pukul enam sore. Karena kemacetan luar biasa, kami tiba di terminal bus pukul 18.10 WIB dan artinya kami terlambat!!! Terpaksa menunggu hampir 90 menit untuk bus terakhir (jadwal pukul 19.00 WIB berangkat tapi nyatanya 19.20 WIB baru start.) Badanku yang super ringsek (halah banget) tapi melihat anak-anak masih semangat meski mata mereka pada merah, yaaaa menemani mereka lah dulu untuk ngobrol. Oia, kami dapat duduk di belakang supir. Sampai di Lenteng Agung, banyak yang terpaksa duduk di pintu atau berdiri karena kepenuhan. Sementara itu adalah bus terakhir.

Saking lelahnya, aku mengaktifkan nada getar tanpa suara pada kedua ponsel dan tidur dengan sukses bersama kedua krucil. Aku terbangun ketika plang di jalan tol sudah menunjukkan “Pasir Koja – Leuwi Panjang.” GUBRAK!!! Sepanjang 3 jam perjalanan kami tertidur kayak pingsan πŸ˜†

Akhir perjalanan yang cukup seru dan melelahkan. Tapi anak-anak puas. Sempat batuk-batuk sih. Yaaa, itu karena sebanyakan menghirup polusi udara sih. Well, at least aku bisa melatih fisik mereka perlahan untuk melakukan perjalanan jauh berikutnya. Gak boleh manja!

Caiyoooo!!!

~ An, Umar, Salman ~

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Direncanakan Atau Tidak? Sama Repotnya!

Ahahaha, aku adalah tipe orang yang sama sekali tidak terorganisir. Bukan pula tipe konseptor. Tau terima beres. Eksekutor lapangan. Nah, itu aku! Pun untuk segala rencana perjalanan bersama duo krucil nan heboh nanti, aku malah belum merencanakan dengan detail harus ngapain, tidur di mana, bawa apa aja, dan printilan lainnya.

bakalan kayak gini ntar… mungkin. mbuh. πŸ˜›

Aku hanya merencanakan tanggal dan lokasi. Misal, tanggal 1 April ke Surabaya dan menginap di losmen X. Yaaaa, itu pun masih ngasal tempat menginapnya. Aku masih mencari kota-kota yang ditempati oleh teman-temanku. So far, di semua pulau besar di Indonesia, aku punya teman. Cuman di Maluku dan Nusa Tenggara yang belum ada.

Umar dan Salman sih mau ke banyak tempat. Dan yang menjadi fokus minat mereka adalah lokasi bermain alat musik atau kesenian daerah. Menarik, kan? Rasanya harus mulai observasi dan riset, di kota-kota kunjungan nanti, ada tempat latihan kesenian tradisionalnya gak?

Nah, sekali lagi, aku gak merencanakan harus ke mana dan ngapain sebenarnya. Semua ngalir aja. Ke mana kek gitu. Nemu apa kek gitu. Tapi ya tetap ada garis besar rencana awal yang bisa berubah sesuai kondisi di lapangan. Contoh, mana kutau kalau tanggal 13 Maret akan ada perayaan Cap Go Meh di Bogor? Pokoknya aku cuman mau ke Bogor sekitar tanggal segitu. Ternyata teman ngasih tau acara seru. Itu yang kubilang tanpa rencana. πŸ™‚

Tunggu kisah kami selanjutnya ya! Entah nanti mau cerita apa. Ikutin aja. Semoga gak nyasar. πŸ˜›

Categories: Plan To Go | Tags: , | Leave a comment

We Are Ready… Bismillah!

Do the difficult things while they are easy and do the great things while they are small. A journey of a thousand miles must begin with a single step. ~ Lao Tzu

dunno how but will try. *smirk*

Well, entah kapan perjalanan ini dimulai. Tapi yang pasti kami siap. Doakan saja. πŸ˜‰

~ An, Umar, Salman ~

Categories: Journey | Tags: , , , , | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.