Posts Tagged With: Komunitas

SIGAP (AKSI GEMAS PEDULI) di Bayan Lombok Utara

Saya belum pernah ke Pulau Lombok. Kebayang ke sana sih sering. Apalagi cerita tentang Gili Trawangan yang romantis, Pantai Senggigi yang eksotis, dan nikmatnya seporsi ayam taliwang. Bikin mupeng, memang. Tapi Allah menakdirkan saya ke Lombok bukan ke daerah terkenal. Saya berjalan jauh ke utara. Ke daerah yang masih tradisional dengan teknologi yang sangat minim.

huntara dan pos SIGAP di antara reruntuhan rumah warga dengan latar Gunung Rinjani

Kecamatan Bayan, Lombok Utara

Saya bersama Ibu Andini (salah satu anggota Komite Yayasan Gema Masjid) mendapat amanah dari Gemas untuk bertugas menjadi sukarelawan SIGAP (Aksi Gemas Peduli) di Kecamatan Bayan, Lombok Utara pada tanggal 17 – 22 September 2018. Lombok Utara merupakan kabupaten termuda di NTB yang memiliki luas 776,25 Km², dan secara geografis berada di kaki utara Gunung Rinjani. Mari intip sejenak tentang lokasi pos relawan Gemas di Bayan.

sekolah darurat

Perjalanan normal dari Bandara Internasional Lombok ke Kecamatan Bayan sekitar 4 jam normal menggunakan mobil. Rute dari bandara adalah ke arah Kota Mataram, kemudian ikuti jalur pesisir pantai bagian barat, masuk ke Kecamatan Tanjung (sebagai ibukota kabupaten), lurus lagi ke Kecamatan Pemenang, lanjut ke Kecamatan Gangga, kemudian Kecamatan Kayangan, barulah tiba di Kecamatan Bayan.

Pusat pemerintahan Kecamatan Bayan ada di Desa Anyar. Sementara saya diamanahkan di Desa Senaru, Dusun Pawang Karya. Lokasinya terletak di Jalan Pariwisata Lintas Bayan yang memang menjadi jalur pendakian menuju Pos 2 Gunung Rinjani.

pos koordinasi Gemas

Dusun Pawang Karya

Sebuah lokasi yang mungkin akan membuat orang di luar NTB mengerutkan kening. Daerah itu adanya di mana? Tetapi bagi sebagian pendaki gunung, akan hafal dan mengenal dusun ini dengan baik. Di sinilah lokasi pos koordinasi Gemas berada yaitu Dusun Pawang Karya, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Tenda didirikan di atas bekas rumah yang hancur karena gempa akhir Agustus 2018 lalu.

Musala Nurul Hikmah di Dusun Pawang Karya pun terkena imbas dari gempa. Silakan cek liputan dari Pakde Romadi, founder Gemas di video ini. Saat saya tiba di sana, kegiatan salat dan mengaji sudah bisa dilakukan secara normal dan aktif kembali.

Anak-anak Suku Sasak Bayan

Dusun Pawang Karya dihuni oleh warga yang sebagian besar adalah penduduk asli Lombok dan khususnya Suku Sasak Bayan. Pekerjaan utama penduduknya adalah berladang dan beternak. Sementara untuk anak-anak, bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Baiturrahmah dan Nurul Hikmah. Naik ke arah Senaru, anak-anak di sekitarnya bersekolah di SDN 04 Senaru.

Aktivitas Sukarelawan Gemas di Bayan

Standardnya, seorang sukarelawan mendapat jatah sebulan / 30 hari untuk bertugas di Lombok dan kemudian bergantian dengan sukarelawan lain yang akan bertugas juga selama sebulan. Meski demikian, ada keringanan untuk akhwat yang sudah berkeluarga, bertugas hanya 14 hari / 2 minggu.

Saya hanya bisa menjalankan amanah 5 hari karena ada tugas negara menanti di Bandung sehingga tidak bisa tinggal lebih lama di Pawang Karya.

SDN 4 Senaru yang terdampak gempa

Aktivitas yang dilakukan para sukarelawan Gemas selama berada di lokasi terdampak gempa Lombok adalah koordinasi untuk mendapatkan air dengan assessment pipanisasi dan saluran irigasi, koordinasi rencana pembuatan hunian baru untuk warga setempat, pembangunan musala dan sekolah darurat, serta program trauma healing. Gemas berkoordinasi dan bersinergi dengan lembaga bantuan lain.

Program ke depannya, Gema Masjid akan fokus pada pendidikan berbasis masjid seperti pendirian Rumah Tahfidz Lombok di Kecamatan Bayan.

Selama lima hari bertugas, saya mengajak bermain anak-anak madrasah dan sedikit membantu guru untuk memberikan materi ajar sederhana.

kegiatan siswa dengan fasilitas seadanya

Berinteraksi dengan alam Lombok dan penduduknya yang ramah membuat saya betah. Mereka mengajarkan kepada saya tentang arti berterima kasih pada Allah yang telah memberikan alam indah dan sumber kehidupan alaminya. Makanan yang sehat, minum dari mata air gunung, tidak bergantung pada gawai yang melenakan, jalan kaki ke tempat aktivitas dan menyapa warga sekitar, berbincang dan tertawa sambil ngopi tanpa harus sedikit-sedikit melihat gawai, serta memanjakan mata dengan pemandangan alam yang indah.

jalan sehat ala anak-anak Bayan

Ada PR untuk warga yaitu kebersihan diri dan lingkungan. Bagaimana menjaga kebersihan sebagai manifestasi iman. Penduduk asli di sana jarang atau bahkan tidak pernah tahu sehatnya mandi untuk membersihkan tubuh. Sebagian penduduk yang lain sudah melakukan kebiasaan mandi setiap hari.

Sementara itu… Membuang sampah sembarangan seolah menjadi hal biasa bagi penduduk. Sekali waktu, saya mengajak anak-anak madrasah untuk latihan menyimpan sampah pada tempatnya. Dikumpulkan agar menjadi lebih bersih dan rapi. Tetapi masalah tidak berhenti sampai di situ.

Saya cukup terpana melihat pembakaran sampah (terutama plastik!) yang dilakukan di sana. Setelah pengumpulan sampah, ternyata dibakar. Saya sudah melarang mereka untuk membakar plastik, tetapi apa jawaban yang saya terima? “Biar lebih gampang.” Belum banyak disadar bahaya dari pembakaran sampah plastik oleh masyarakat (bahkan oleh orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan sekali pun). Salah satu jenis zat yang sangat berbahaya dalam kandungan gas sisa pembakaran plastik adalah dioksin yang bersifat karsinogen atau menimbulkan kanker. Bahaya lain dari pembakaran sampah adalah pencemaran udara. Pasalnya, emisi karbondioksida yang dihasilkan akan menipiskan lapisan ozon (sumber: Kompas).

mencontohkan kepada siswa untuk membuang sampah pada tempatnya

Mudah-mudahan, seiring hadirnya Gemas untuk memakmurkan masjid dan musala Lombok Utara seperti sedia kala, kesadaran menjaga kesehatan diri dan lingkungan pun semakin meningkat.

Pembaruan Kondisi di Kecamatan Bayan

Silakan cek tautan Gemas TV untuk menerima informasi terbaru terkait dengan amanah yang dilakukan selama berada di Lombok, khususnya Kecamatan Bayan.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Bapak Dadang di nomor +62 813-8173-9692 dan ikuti Instagram Gemas.

Terkait donasi, Gemas menerima bentuk bantuan untuk kemudian disalurkan ke Desa Senaru Kecamatan Bayan. Silakan untuk transfer ke rekening BSM 7122277857 atas nama Yayasan Gerakan Memakmurkan Masjid.

SIGAP

Sekian dari saya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam penyampaian informasi. Untuk ralat silakan hubungi saya untuk diperbaiki. Terima kasih atas perhatiannya.

Salam.

 

Advertisements
Categories: Journey | Tags: , , , , , | 1 Comment

Perjalanan Bandung – Surakarta 1- 4 September 2016

Not coincidence when I used the hashtag #SoloTrip. Pertama, ini memang perjalanan ke Solo atau Surakarta. Kedua, kali ini saya sendirian pergi jauh dan lama juga meninggalkan krucil.

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Kedua, saya bingung mau mulai cerita dari mana, selain rasa excited karena ke Solo sebagai wakil dari Bandung CLEΛNΛCT. Hadiah dari Allah yang luar biasa. Tahu ada acara #JamboreDiSolo #BebasSampah2020 sudah lama. Saya sempat hening lama. Ingin sekali ke Solo. 16 tahun memimpikan hal ini dan baru terwujud. Kesabaran berbuah manis.
Ketiga, pikiran dan perasaan saya penuh dengan kecemasan. Khas kelemahan saya ketika hendak berangkat ke tempat baru. Membayangkan aneka pengalaman baru di sana.

Continue reading

Categories: Journey, Money and Budget | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Finding My Own Path

Yah, gayanya sih berniat untuk menentukan perjalanan selanjutnya. Tiga tahun terjebak dalam keadaan yang tak mengenakkan.

Jadi, rencananya adalah aku pergi keliling sendirian dulu buat “ngamen” (apalah istilah tepatnya). Ngegembel ke luar negeri seperti rencana awal setelah keliling Indonesia. Atau keluar dulu baru balik ke Indonesia. Mana yang lebih mungkin kesempatannya nanti. Rencana manusia terlalu indah dan terlihat mudah. Nyatanya sampai detik ini, aku tak kunjung berjalan selangkah pun.

Kata temanku, “Mbak, jangan kebanyakan rencana. Setiap yang direncanakan pastinya gagal tuh.” Sotoy gak sih? Minta dikeplak gak sih? Tetapi ternyata benar. Dari tahun 2011 aku rencana ke Jogja, sampai detik aku menulis postingan ini ternyata masih duduk manis di teras. I am too pathetic. 

Mungkin bagi para pejalan atau backpacker, aku ini banyak omongnya doang. Jogja tinggal naik bus dari dekat rumahku. Pool busnya hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer. Mungkin harus nekat. Yodah, akhirnya aku mengumpulkan uang. Setiap ada kesempatan, sudah siap pergi. Tapi… Ada saja halangannya. Kalau bukan anak yang sakit, akunya sakit, atau kendala lain.

Makanya untuk menghibur diri, aku bergabung ke Komunitas Jalan2 Indonesia. Awalnya bagaimana? Mbuh 😀 Aku mendapat surel yang entah dari siapa dan bagaimana mereka mendapatkan alamat surelku, ya sudahlah aku melihat isi jeroannya forum itu. Seru dan bikin sirik. Mengapa mereka bisa jalan-jalan ke mana saja dengan semudah itu? Mbuh (lagi).

Di forum tersebut aku kenalan secara virtual dengan beberapa anggota (dan lupa lagi 😛 sementara anggotanya banyak dan aku hanya hapal Deffa Utama *jder!* ) dan lebih sering sebagai silent reader saking gemesnya karena hanya bisa sirik dengan foto jalan-jalan mereka.

Aku paling suka bagian tulisan teman-teman di sana seputar kuliner, perjalanan pertama kali ke sebuah daerah, dan update tentang aturan ke luar negeri yang biasanya seperti visa, paspor, nemu tempat menginap yang asyik, dan lainnya.

Karena aku termasuk orang yang suka ribet kalau mau jalan (apalagi dengan dua bocah yang super rempong dan bertenaga alkaline di rumah), jadinya aku baru bisa mencatat hal-hal yang kubutuhkan dari pengalaman perjalanan teman-teman di KJJI itu.

Kalau melihat contoh tulisan yang ada di KJJI, malah bikin aku gak merasa minder. Hal-hal sederhana bisa ditulis sebagai pengalaman yang unik dan seru. Meski hanya sekadar makan di warung kecil atau jalan ke pantai.

Senangnya aku, mereka semua ramah dan gokil. Gak pelit pengalaman. Cihuy gitu deh. Padahal belum pernah ketemu. Rasanya udah kayak temen lama. (si gue lagi norak ya?) Jadi apa yang mereka lalui selama melakukan perjalanan dan apa saja yang harus dipersiapkan atau mereka menemui kendala apa, jadinya kan bisa dicatat.

Lagipula, aku sedang menyusun sebuah rencana (ya Tuhan! lagi-lagi rencana!) menulis buku tentang serial perjalanan nusantara. Terlalu idealis, mungkin. Setidaknya, aku ingin menulisnya. Makanya, bahan tulisan dari hasil blusukan di forum KJJI lumayan lah bisa dijadikan referensi. Tapi emang sih, menulis tentang sebuah daerah gak cukup hanya dibayangkan tanpa datang ke lokasi aslinya. *lagi-lagi manyun.

Doain yaaaaa, Allah beneran kasih jalan agar aku bisa menuliskan novel (roman, my favorite genre ) berlatar daerah nusantara. Berharap, suatu saat benar-benar bisa mewujudkannya, demi kau dan si buah hati. *eh, kok? 😛 Just because I do wanna find my own journey… Mine. 

Gabung di KJJI yuk! 😉

-di pojok kamar, pojok kota bandung-

Categories: Plan To Go | Tags: , , , | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.