Posts Tagged With: Penginapan

Cirebon 24 Jam, Musim Mudik 2018

Mendadak ke Cirebon. Again.

Gak niat. Apalagi mikir mudik persis hari lebaran. Duh, udah berapa abad rasanya gak mudik ke / dari Cirebon. Jadi, serius gak kebayang juga akan kembali ke Cirebon di kondisi tak terduga: Hari kedua Idul Fitri. Itulah yang terjadi. Pukul 9 pagi tanggal 16 Juni 2018 dapat kabar duka, pukul 10 galau memutuskan pergi atau gak, pukul 11 mandi, pukul 12 baru pesan kursi travel, pukul 13.30 sudah duduk manis di mobil menuju Cirebon lewat Tol Cipali.

Izin ke #MyA, izin ke tetangga titip rumah, dan nulis catatan untuk krucil, langsung berangkat. Sampe gak sempet mikir harus bawa apaan lagi. Seadanya di daypack pindahin ke carrier, dah.

Sampai pool Sangkuriang Bhinneka di Jalan Pilang Raya, napas bentar sambil ngecas ponsel karena power bank ketinggalan. Iye, namanya juga rusuh pas berangkat.

Pukul 5 sore sampai di rumah duka, stay sampai sekitar pukul 9 malam. Kemudian, inilah bagian yang lumayan horor. Eh, lebay itu mah. Seru, tegang, dan bikin sedikit senewen tapi tetap harus tertawa. Apa coba?

Berdua Bayu, teman saya dari Purwakarta yang sedang mudik ke Indramayu (mbulet), keliling Cirebon (almost literally) mencari penginapan. Hey, hari lebaran kedua, malam Minggu pula. Sudah cukup ngeri ya, salah waktunya? Iya.

Dimulai dari Jalan Rajawali, kemudian menyusuri jalanan sampai ke Cipto, Tentara Pelajar, belok ke mana lagi entah. Gak inget. Pastinya sampai ke Jalan Moh Toha (sambil ngarep kedai bubur lejen di sana sudah buka­čśé), Samadikun, Jalan Bahagia, kemudian daerah Pecinan yang tak banyak berubah dari dulu, lanjut ke Kesambi, Pangeran Drajat, Ahmad Yani… Serius, ini keliling Cirebon sampai nyaris tengah malam.

Bahkan lewat Jalan Cipto sampai balik tiga atau empat kali. Luar biasa ya senewennya mencari penginapan buat seorang backpacker? Mulai hotel bintang 3 sampai losmen dan guest house. Semuanya menempelkan kertas pengumuman ala kadarnya: KAMAR PENUH / KAMAR FULL / FULL BOOKED. Saya dan Bayu tertawa perih. ­čśů

Berhubung memang rasanya nyaris mustahil, sambil kami berdua nyeletuk, “Kalau lagi dicari, pasti gak ketemu. Giliran ntar dapet kamar, taunya ada yang better. Ngeselin. Iya.” Ya, benar. It happened. Saya bilang pada Bayu, “Kalau yang terakhir ini gak nemu, aku ngemper aja di Masjid Agung lah. Kagok.” Bayu tertawa.

Akhirnya jalan ke Tentara Pelajar sekali lagi dan belok di sebuah jalan kecil di seberang Grage Mall. Kami menemukan Hotel Nusantara. Saat itu pukul 23.25 WIB. Pikiran sudah letih. Tersisa 1 kamar ekonomi dan 1 kamar standard. Berhubung keesokan paginya juga sudah check out, saya memutuskan ambil kamar ekonomi itu. Letaknya di ujung lorong.

Saya mengiyakan karena sudah lelah mencari. Gak juga. Karena gak enak sama Bayu, tepatnya. Bayar di muka dan simpan KTP, kemudian masuk ke kamar. Saya membereskan tas dan langsung keluar kamar lagi untuk cari makan malam yang kemalaman. Whoah.

Baru saja masuk Jalan K.S. Tubun, kami menemukan satu penginapan lucu yang tampaknya masih kosong. Kami berdua tertawa. “Tuh, kan? Apa dibilang? Giliran gak dicariin, keluar semua deh.” ­čśćYa sudahlah ya.

Menu tengah malam

Sega jamblang never fails me.

.

Akhirnya kami istirahat di seberang Pasar Pagi, Jalan Siliwangi. Malam hari, sepanjang emperan toko terdapat beberapa pedagang sega / nasi jamblang. Kami memilih salah satu tongkrongan yang mendapat lampu paling terang. Makan malam seharga Rp23,000.00 berdua itu belum usai.

Pingin ngopi. Tapi di mana, malam mingguan dan hari kedua lebaran? Sulit. Apalagi jelang tengah malam. “Teh, cuman ada di Upnormal ini,” kata Bayu. Saya jawab, “Jauh-jauh dari Bandung, mentoknya ke Upnormal? Di Ujungberung juga ada.” Kami tertawa, tapi akhirnya mencoba ke sana, setelah kedai Ningkene di Tentara Pelajar sudah tutup persis ketika kami ke sana pukul 23.00 WIB.

Energi dan nyawa tinggal 5%. Mari ngopi midnite.

.

Di Upnormal Jalan Cipto, saya bertanya pada petugasnya, tutup jam berapa? Dijawab, “Last order jam 12, tutupnya jam 1, Mbak.” Baiklah, masih ada waktu sekitar 1.5 jam. Sayangnya, kami hanya bisa memesan kopi tanpa makan (padahal masih lapar) karena semua menu makanan sudah dicoret oleh waiter. Pedih.

Tak mengapa. Kami memesan es kopi, ngobrol sebentar. Sementara saya memindahkan media ke GDrive (terima kasih kepada Wi-Fi haratisan ­čśé) dan keluar dari Upnormal pukul 12.45 WIB. Saatnya kembali ke penginapan.

Gerahnya udara di Cirebon membuat saya tidak bisa tidur dengan baik. Pukul dua dini hari baru bisa memejam dan itu pun hanya tidur ayam karena tak nyaman. Lepek. Bangun pukul 04.30 menjelang subuh. Menunggu bak mandi terisi kembali, kepala saya berdenyut karena kurang tidur. Ditambah dengan kulit yang gatal karena keringat.

Hotel Nusantara tampaknya sedang direnovasi.

Kamar tidur selama 10 jam.

.

Selepas mandi, merapat ke seberang Grage yang lain, yaitu mencari sarapan empal gentong! Yay! Berhubung yagn diincar sudah mengantri panjang, saya memutuskan ke tempat yang tidak penuh. Saya butuh khusyuk sarapan setelah semalaman energi habis tak karuan. Pembenaran, emang.

Empal gentong non kolesterol. Katanya.

.

Bertemu salah satu kawan lama di Pasar Gunung Sari, ngobrol sebentar, kemudian kembali ke penginapan untuk bersiap check out. Lanjutkan perjalanan kembali ke rumah duka di perumnas burung. Di sana saya menghabiskan waktu sampai menjelang asar. Bertemu teman-teman SMA, guru SMA, teman kantor almarhum Mama, dan menikmati sega jamblang lagi.

Persis asar, saya dijemput Bayu lagi untuk merapat ke Jatiwangi Majalengka. Sekalian jalan. Di Plered, kami makan siang kesorean dan saya membeli kerupuk mlarat untuk dibawa ke Bandung.

Kerupuk melarat, camilan hakiki.

.

Di Jatiwangi, silaturrahim sambil ngobrolin pemancingan. Seru juga. Sekalian magrib di sana. Sekitar pukul 7 malam, kami pamit. Bayu mengantarkan saya pulang sampai dapat bus. Tapi nyasar dulu ke Majalengka dan ujungnya ke Kadipaten juga. Yha, pegimane dah.

Sekitar pukul 21.00 WIB, bus Sangkuriang-Bhinneka jurusan Cirebon – Bandung lewat Kadipaten juga. AlhamduliLlah, bisa pulang. Saya pamit pada Bayu yang akan kembali ke Indramayu. Luar biasa perjalanan kali ini.

Tiba di Bunderan Cibiru persis pukul 12.05 WIB. What a journey.

Advertisements
Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , | Leave a comment

Tibera Hotel Cibeunying Bandung, Keheningan di Tengah Kota

Petualangan sederhana dimulai ketika sahabat saya mendadak memberitahukan bahwa ada sejumlah tenggat artikel yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam. Berhubung dia juga ingin meeting dengan saya di hari Ahad pagi, akhirnya dia memutuskan untuk memberi akomodasi agar saya bisa fokus menulis.

Menyenangkan adalah ketika saya diminta memilih sendiri akan menginap di mana. Bagian menyebalkannya adalah pada akhir pekan, awal bulan, di Bandung adalah perpaduan sempurna sulitnya menemukan budget hotel di tengah kota. Terutama di daerah Jalan L.L.R.E Martadinata alias Jalan Riau.

Mencari Penginapan Last Minutes

Tibera Hotel Cibeunying

Semua kamar Tibera Hotel menghadap taman

Dari sekian banyak tawaran penyedia informasi penginapan di ranah maya seperti Agoda, booking.com, pegipegi, airyrooms, dan Traveloka, akhirnya yang terakhir menjadi pilihan. Saya pilih bertransaksi dari situsnya melaluo laptop, bukan aplikasi supaya lebih cepat mencari.

Banyak diskon bertebaran. Tetapi karena dana tak banyak, pilihan penginapan di harga 600 ribuan ke atas tentu tak masuk incaran. Apalagi yang harganya sejutaan. Bukan gaya saya pun kalau mencari hotel mewah.

Saya tidak terpikirkan untuk mencari lokasi khusus. Sahabat saya hanya bilang, “Cari aja daerah Riau.”

Tibera Hotel Cibeunying

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Pemandangan dari teras kamar pojok

Pencarian berhenti di Tibera Hotel. Lokasinya di Cibeunying Selatan. Saya pikir, mungkin dekat Selaras Guest House dan Taman Cibeunying Selatan, ternyata ada di sisi dekat Jalan Bengawan. Jauh aja. Dari depan, hotel bintang dua ini tampak tidak mencolok, tetapi kesan teduh langsung terasa.

Oh ya, selain di Cibeunying Selatan, Tibera Hotel juga ada di Ciumbuleuit. Bisa jadi pilihan bagi yang ingin berwisata ke arah Punclut atau Setiabudhi.

Pada tanggal 4 November 2017, saya mendapatkan harga satu kamar Deluxe Twin dengan sarapan untuk dua orang seharga kurang dari Rp500.000,- Lumayan untuk penawaran last minutes yang tak banyak pilihan. Awalnya saya rada bete dapat kamar di belakang. Ternyata itu keuntungan untuk saya…

Satu hal yang membuat saya cukup terkejut adalah, lokasinya dekat pembuangan sampah. Sehingga, ketika saya datang dan melakukan check-in, aroma semerbak itu lumayan mengganggu. Untungnya, kamar saya ada di belakang, sehingga gangguan itu bisa berkurang.

Malam hari setelah saya dan anak-anak bermalam mingguan (hasek, ceritanya gituh!), saya menikmati suguhan teh di meja dekat front desk. Sayangnya sudah dingin. Tetapi rasanya seperti ada herbal, entah apa. Wangi.

Kamar Tibera Hotel

Tibera Hotel Cibeunying

Kamar Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Mari masuk ke kamar. Dua tempat tidur standard ini mengapit satu nakas di tengah. Ada pintu yang bisa dibuka untuk menikmati suasana taman. Ada AC split yang akhirnya tidak saya gunakan karena udara juga sudah cukup dingin.

Di meja yang luas untuk bekerja ada lampu baca dan daftar menu. Di lemari ada dua gantungan baju. Ternyata hanya disediakan dua botol air mineral ukuran @ 330ml. Tanpa termos, kopi, dan teh yang sempat saya bayangkan. Euh, baiklah. Tapi mereka menyediakan dua bungkus kecil camilan (yang tak sempat saya lihat itu apa karena langsung diembat oleh anak-anak).

Tibera Hotel Cibeunying Bandung

Wastafel Kamar Tibera Hotel Cibeunying

Kamar mandinya standard. Perlengkapan mandi ada dua handuk, pasta gigi, sikat gigi, sabun, dan sampo. Aliran air dari shower air panas cukup lancar.

Disediakan dua slippers yang ada di bawah tempat penyimpanan tas.

Sumber listrik disediakan di dua tempat: dinding dekat pintu menghadap taman dan di kaca lemari. Di dekat kasur malah tidak tersedia.

Fasilitas Tibera Hotel

Tibera Hotel Bandung

Sudut bermain dan santai Tibera Hotel Cibeunying

Bagaimana dengan hotel secara keseluruhan? Ada pojok bermain untuk anak, ternyata. Di tempat yang sama, lumayan lah ya, bisa buat selfie dan pamer di Instagram. Meski menurut saya sih gak terlalu Instagrammable amat.

Disediakan beberapa mainan untuk tamu yang membawa bayi dan balita. Ada tempat nongkrong buat merokok, karena dilarang keras merokok di dalam kamar atau bahkan di teras kamar. Dendanya lumayan lho. Tetapi saat pagi hari, saya mendapati ada satu tamu di lantai 2 sedang merokok di teras. Ah, sudahlah ya.

Ada coffee corner. Nggak sempat nyobain kopinya. Lain kali, mungkin.

Tibera Hotel Bandung

Restoran Tibera Hotel Cibeunying

Menu di restorannya? Oke, ketika saya mencoba sarapan di sini, saya mau kasih nilai 8/10 deh. Lumayan enak nasi kuning dan tempe kuningnya. Sayangnya, untuk semur ayam agak terlalu keasinan untuk lidah saya. Bubur sumsumnya enak, gurihnya pas. Tersedia roti tawar dan corn flakes juga. Jus jeruknya terlalu manis. Buahnya tersedia semangka saat saya sarapan. Tidak saya ambil karena bukan buah favorit keluarga. Saya dan anak-anak lebih suka melon dan pepaya, if any.

Omong-omong soal kecepatan WiFi di sini… Hmmmm… 6/10. Saya tes untuk unduh film (ups…), dari pukul 8 malam hingga 11 malam hanya berhasil unduh 1 film kartun sebesar 600 MB. Paginya, saya baru berhasil unduh 1 film kartun lagi dari pukul 6 hingga 8 sebesar 700 MB. Dibandingkan dengan WiFi di hotel lain yang pernah saya singgahi, dalam 4 jam bisa unduh 5 film, rasanya cukup bikin manyun.

Pekerjaan saya pun sempat sulit disimpan karena loading lumayan. Saya akan berpikir dua kali untuk menginap kembali di sini jika tujuannya untuk bekerja. Hahahahaha…

Untuk “melarikan diri” dari kesibukan sepanjang minggu, menghabiskan waktu sendirian atau berdua pasangan di sini bolehlah direkomendasikan. Hening, sepi, tenang, dan nyaman. Serius. (*lirik #MyA)

Sebagai salah satu penginapan murah di Bandung, Tibera Hotel ini bisa menjadi surga kecil bagi mereka yang tidak memusingkan kecepatan internet dan pilihan saluran hiburan televisi. Pilih kamar, ambil buku favorit, matikan koneksi internet, dan nikmati akhir pekan.

Sekitar Tibera Hotel Cibeunying

Kalau senang berjalan kaki, di sekitar Tibera Hotel Cibeunying, Anda bisa sampai ke tempat gaulnya anak muda Bandung dengan mudah. Bisa pilih Kopi Anjis di Jalan Bengawan yang jaraknya tidak sampai 1 kilometer. Anda bisa juga ke Warunk Upnormal Jalan Riau mau masuk ke Jalan Aceh, memintas dari Jalan Serayu. Di sini ada Bakso Tahu dan Cuankie Serayu yang beken itu lho. Keluar Jalan Riau, seberang sebelah kanan ada Nasi Kalong. Sebelum sampai ke Upnormal, Anda menemukan Marugame Udon. Dekat Upnormal, ada Pizza Hut. Masa iya, jauh-jauh ke Bandung hanya mampir di Pizza Hut?

Masih tak jauh dari Kopi Anjis, ada tenda sate ayam di pinggir jalan, dekat lampu merah. Etapi lupa di jalan apa ya itu, soalnya lihatnya pas malam, gerimis pula. Nggak ngeh di mana. Pecinta kuliner sejati pasti bakalan nemu, kok.

Mau ke taman? Ada Pet Park, bagi yang suka membawa hewan peliharaannya bermain di ruang publik.

Mampirlah ke Masjid Al-Lathiif di Jalan Saninten, bisa tembus dari Jalan Bengawan. Masjid tempat lahirnya komunitas Pemuda Hijrah (SHIFT) dengan Ustaz Hanan Attaki sebagai komandannya. Tak jauh dari masjid, ada tempat nongkrong ngopi asyik, namanya KOPWEH. Coba ya.
TIBERA HOTEL CIBEUNYING
Alamat: Jl. Taman Cibeunying Selatan No.7, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114
Telepon: +62 22 7100236
Instagram: TiberaHotel

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , | Leave a comment

Rencana Traveling? Booking Melalui Tiket.com Aja!

Apa yang kamu butuhkan saat merencanakan sebuah perjalanan? Tiket pesawat? Tiket keretaapi? Pesan kamar hotel? Butuh mobil sewaan saat di tempat liburan atau dinas luar kota? Berburu tiket konser artis idola? Pilihan saya selalu jatuh ke tiket.com. Bebas rasa khawatirnya beneran terasa. Ngalahin rasa khawatir ditinggal gebetan. *eh

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Gaya Minimalis Tebu Hotel Bandung

Kamu suka jalan-jalan ke Bandung? Apa sih yang gak ada di Bandung? Oke, pantai. Lupakan pantai. Kamu bisa menikmati indahnya setiap sudut kota dengan berjalan kaki atau angkot atau bus. Lumayan, semuanya terhitung serba dekat kok.

Hotel Tebu Bandung

Batang tebu di lobby hotel

Nah, urusan penginapan, Tebu Hotel Bandung bisa menjadi pilihan, di antara puluhan budget hotels yang ada  di kota Bandung. Lokasinya sangat strategis. Terletak di jalan L. L. R. E. Martadinata atau dikenal dengan sebutan Jalan Riau, Tebu Hotel persis berada  di sebelah de Pavillion, gak jauh dari KFC. Kalo laper, boleh jalan sekitar 150 meter lah dari hotel.

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Semalam Penuh Pesona Di Tune Hotel / Red Planet Hotel Surakarta

Keren adalah kata pertama yang muncul dalam benak saat menjejakkan kaki di depan halaman Red Planet Hotel Surakarta tanggal 1 September 2016 lalu. Sebelumnya, saya melakukan pengecekan ulasan dari pengunjung lain di laman Google. Tampaknya menarik. Apalagi dengan semangat minimalis yang diusung oleh Red Planet Hotel ini menggoda para backpacker macam saya untuk menjajalnya.

Red planet hotel

Red Planet Hotel Solo

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.