Posts Tagged With: Unforgettable

Rindu yang Tertinggal di Bayan Lombok

Berkunjung ke daerah lain selalu menyisakan kenangan. Iya, pastinya. Terutama yang berurusan dengan perut.¬†ūüėā¬†Ojelaassss….

Jadi, perjalanan kali ini menuju daerah tengahnya Indonesia, tetangganya Bali. Tepatnya ke Lombok. Uwow, akhirnya nyampe juga ke Lombok. Apa yang ada di bayangan orang? Pantai Senggigi yang eksotis, Gili Trawangan yang romantis, Gunung Rinjani yang magis, atau ayam taliwang yang pedas manis? Saya gak punya semua bayangan itu.

Meski sering memikirkan akan pergi ke Lombok suatu saat, tapi karena mintanya ke Allah kurang spesifik alias, “Bagian mana aja yang penting Lombok.” membuat saya akhirnya mengikuti garis takdir ke daerah Desa Senaru Kecamatan Bayan di Kabupaten Lombok Utara. (Tuh, makanya kalo doa yang jelas dan detil supaya hasilnya juga sesuai harapan, An!)

Etapi… Etapi… Takdir kali ini berbuah manis loh. Asli gak nyesel. Iya, emang gak Gili Trawangan, tapi dapatnya pemandangan yang membuat saya tersadar tentang makna bersyukur yang sesungguhnya. Iya, emang gak ke Pantai Senggigi, tapi tetap sampe juga ke sebuah pantai indah nan sepi dan cakep. Deburan ombaknya mistis dan syahdu.

Kuliner sih jangan ditanya, hampir setiap hari mendapat makanan khas Lombok yang… pedaaaassss… Sampe bibir jontor. (oke, ini lebay).

ngajak Cleo berkelana

Ngapain di Lombok?

Pastinya bukan jalan-jalan ala-ala deh. Ini amanah dari Yayasan Gema Masjid. Jadi, saya pergi ke Lombok dalam rangka jadi sukarelawan, gak jadi turis. Inshaa Allah pankapan jadi turis deh ke sananya. Yah? Iya. Sama siapa? Sama trio hensem kesayangan saya dong.

Berhubung mood  sohib gokil saya, Bune Vei, lagi ilang di planet lain dan belum dikembalikan ke planet Bekasi, yodah, mungkin bakalan lama nungguinnya. Padahal kangen cekikikan di sepanjang jalan backpacking bareng.

Selama 5 hari di Lombok, saya banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Seru!

Akhirnya merasakan juga September ceria seperti lagunya Tante Vina. (Tua lo, An!) Keriaan bersama anak-anak penduduk asli Suku Sasak Bayan dan beberapa pendatang itu ternyata membekas dalam hati saya.

Menikmati Rute Perjalanan

Perjalanan Datang

Saya yang norak karena sama sekali belum pernah ke Lombok, benar-benar terpana sepanjang jalan dari pintu keluar Bandara Internasional Lombok sampai ke lokasi Pos Koordinasi GEMAS.

Begitu kaki menjejak di pintu keluar bandara, disambut oleh ustaz Alif, salah satu pengurus GEMAS yang sudah bertugas sejak tanggal 1 September 2018. Bawa mobil apa? Tronton! Eh, salah. Mobil bak terbuka, pemirsah! Wow, saya sih senang. Dengan suka cita naik mobil bagian baknya langsung semangat. Duduk duluan, cari posisi enak. Hahahaha.

sudah siap lansung naik baknya ituh.

Pemberhentian pertama, di sebuah money changer. Gaya, salah satu penduduk yang ikut bersama tim Gemas ternyata seorang pemandu para pendaki gunung, terutama bule. Dia cerita, tamu terakhirnya adalah orang berkebangsaan Prancis. Uwow. Pantes fee-nya dolar.

makan siang dulu gaes

Pemberhentian berikutnya tentu saja ke rumah makan. Kudu lunch supaya waras lah dikit. Heuheu. Ayam taliwang lah pastinya. Itu mah wajib, keleus. Jadinya, semua tim makan menu internesyenel itu. Saya sebenarnya pingin makan bebalung, tapi gak bisa. Dimasaknya lama. Oh, berarti gak ada ready stock nih. Yowes.

Lanjutkan perjalanan ke Kota Mataram. Sepanjang perjalanan, sempat hujan dan harus mengintip dari balik terpal. Hujan reda, muncul pelangi. Indah banget! Mashaa Allah, dikasih sambutan hujan dan pelangi itu sesuatu. Rahmat Allah cantik banget yaaaa…

under the rainbow

Selesai belanja di Cakranegara beberapa kebutuhan selama di tenda relawan, lanjut lagi jalan. Menemukan banyak monyet di pinggir jalan di daerah Baun Pusuk itu sesuatu. Saya kaget. Wah, menjelang magrib dikasih pemandangan unik lagi. Pun begitu ketika melewati jalur sepanjang pantai di daerah Tanjung. Ya Allah, sudah gelap, pantai dan lautnya gak keliatan. Debur ombaknya aja yang kedengeran…

Tiba di Kayangan, tim Gemas diundang istirahat dan salat di posko komunitas Wahana Muda Indonesia. AlhamduliLlah, kesempatan pertama ngopi khas Lombok. Yay! Senangnya. Lanjut lagi mampir sebentar beli sate ayam untuk makan malam.

Sampai di Desa Senaru sekitar pukul 10 malam. Lumayan perjalanan lebih dari 8 jam (karena kepotong belanja dan silaturrahim plus istirahat) tapi alhamduliLlah selamat. Sudah ditunggu makan malam khas Lombok.

Perjalanan Pulang

Waktu pulang, mobilnya beda. Pakai Avanza. Saya berharap baik-baik saja. Ternyata rada kliyengan pusing sepanjang jalan. Maulana berbisik, “Mendingan naik bak terbuka deh, Bun.” Saya mengamini. Anak kampung banget ya kami berdua? Hahahaha.

Ketika melewati daerah Tanjung lagi, kami menyempatkan diri ke pantai. Sebentaaaaarrrr aja. Entah pantai apa namanya, sepi banget. Ombaknya kecil. Pasirnya hitam mengilat. Seperti biasa, saya mengukir grafiti. Hehehe.

rindu terukir di Lombok

Tiba di Kota Mataram, setelah ikut survei mencari alat dan bahan untuk digunakan di Senaru, kami makan siang dulu. Lagi-lagi saya kurang beruntung. Tidak mendapatkan menu bebalung. Sebagai gantinya, saya menikmati kelaq kelor.

Setelah itu lanjut ke pusat oleh-oleh. Bu Andini ngeborong banyak banget. Saya cukup beli gantungan kunci. Menyesal tidak beli langsung dari pengrajin di Senaru. Alif sih, gak ngasih tau. (trus nyalahin orang.ūüėÖūüėā)

Di bandara, lagi-lagi Bu Andini belanja. Saya dan Maulana duduk manis menunggu transaksi selesai. Udeng harganya mahal ya? Tapi emang bagus. Makanya Maulana mau jadi modelnya.

slayer yang dipakai Maulana beli langsung di desa.

Akhirnya saya kembali ke Bandung bersama Maulana. Naik pesawat yang delay sekitar 20 menitan. Perjalanan sempat terganggu dan kami diminta menggunakan seat belt ketika pesawat berada kira-kira di langit Jawa Timur. Hadeh, padahal baru terbang. Maul langsung tilawah sementara saya tak henti berzikir. Kepasrahan kepada Allah itu nomor satu dan satu-satunya.

Landed at Husein. Alhamdulillah. Safe and sound. Meski sempat dihantui drama ketakutan ojek daring, akhirnya diterima setelah ditolak 3x. Ampun dije!

Kuliner Lombok

Nah ini bagian enaknya. Emang!

ayam taliwang

Menikmati ayam taliwang tentunya menjadi tujuan hampir semua turis yang datang ke Lombok ya? Bahkan Maul pun memohon dibawakan menu femes ini ke posko.

Siapa doyan kangkung? Siapa belum pernah makan pelecing kangkung? Tumis kangkung mah sering di Bandung juga. Tapi kan beda bumbunya, malih. Makanya justru yang diincar adalah bumbu pedas merah moronyoy itu, pemirsah. (maafkan fotonya buram, keburu laper. iyes)

pelecing kangkung

Jukut komak atau sayur bening seperti sayur asem itu terhidang saat malam sudah pekat. Saya menyantapnya dengan suka cita. Sayangnya, lupa difotoin. Udah kelaperan. Hihihi.

Ada lagi jangan, yaitu sayur tempe berkuah santai encer dan agak pedas. Tidak ikut difoto, karena pas makan malam, batere hape saya habis.

nah ini penampakan sayur daging itu. kalo udah dingin, lemaknya membeku semua

Nah, ada satu bentuk sayur daging tapi saya gak tau namanya apaan. Enak lah pokoknya mah. Manis gitu, gak pedas.

Tidak lupa dengan beberuq terong, lalapan khas Lombok yang ternyata endeus pisan. Potongan terongnya seperti korek api dengan potongan kacang panjang dan sambal pedas tentu saja. (penampakannya ada di mangkuk kecil di piring ayam taliwang)

kelaq kelor di mangkuk kecil hijau itu

Satu lagi adalah kelaq kelor, sayur bening seperti sayur bayam tapi menggunakan kelor itu bikin adem tenggorokan. Potongan jagung manisnya menambah selera. Nyam!

kopi hitam lombok nan femes

Naaaahh… Minumnya sudah pasti kopi! Hahaha. Kalau bisa sih jangan pakai gula lah. Kecuali es kelapa mudanya, boleh deh pake sirop dikit. Mending petik langsung dari pohonnya. Yekan? Yeeeee… Hihihi… Penampakan¬†green beans¬†yang menggoda hati itu terbayang-bayang di mata. Betapa nikmat kalau sudah¬†roasted¬†dan siap¬†grinding¬†kemudian… seduh!

Jadi, begitulah cerita singkat tugas ke Lombok Utara. Sejenak saja, tapi berkesan dan terkenang hingga akhir usia. Syukur itu bentuknya beragam. Termasuk kisah tawa canda bersama naga-naga di perut yang girang dapet kuliner Lombok. Heuheu.

 

Salam!

Advertisements
Categories: Journey | Tags: , , , , , , | Leave a comment

SIGAP (AKSI GEMAS PEDULI) di Bayan Lombok Utara

Saya belum pernah ke Pulau Lombok. Kebayang ke sana sih sering. Apalagi cerita tentang Gili Trawangan yang romantis, Pantai Senggigi yang eksotis, dan nikmatnya seporsi ayam taliwang. Bikin mupeng, memang. Tapi Allah menakdirkan saya ke Lombok bukan ke daerah terkenal. Saya berjalan jauh ke utara. Ke daerah yang masih tradisional dengan teknologi yang sangat minim.

huntara dan pos SIGAP di antara reruntuhan rumah warga dengan latar Gunung Rinjani

Kecamatan Bayan, Lombok Utara

Saya bersama Ibu Andini (salah satu anggota Komite Yayasan Gema Masjid) mendapat amanah dari Gemas untuk bertugas menjadi sukarelawan SIGAP (Aksi Gemas Peduli) di Kecamatan Bayan, Lombok Utara pada tanggal 17 Р22 September 2018. Lombok Utara merupakan kabupaten termuda di NTB yang memiliki luas 776,25 Km², dan secara geografis berada di kaki utara Gunung Rinjani. Mari intip sejenak tentang lokasi pos relawan Gemas di Bayan.

sekolah darurat

Perjalanan normal dari Bandara Internasional Lombok ke Kecamatan Bayan sekitar 4 jam normal menggunakan mobil. Rute dari bandara adalah ke arah Kota Mataram, kemudian ikuti jalur pesisir pantai bagian barat, masuk ke Kecamatan Tanjung (sebagai ibukota kabupaten), lurus lagi ke Kecamatan Pemenang, lanjut ke Kecamatan Gangga, kemudian Kecamatan Kayangan, barulah tiba di Kecamatan Bayan.

Pusat pemerintahan Kecamatan Bayan ada di Desa Anyar. Sementara saya diamanahkan di Desa Senaru, Dusun Pawang Karya. Lokasinya terletak di Jalan Pariwisata Lintas Bayan yang memang menjadi jalur pendakian menuju Pos 2 Gunung Rinjani.

pos koordinasi Gemas

Dusun Pawang Karya

Sebuah lokasi yang mungkin akan membuat orang di luar NTB mengerutkan kening. Daerah itu adanya di mana? Tetapi bagi sebagian pendaki gunung, akan hafal dan mengenal dusun ini dengan baik. Di sinilah lokasi pos koordinasi Gemas berada yaitu Dusun Pawang Karya, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Tenda didirikan di atas bekas rumah yang hancur karena gempa akhir Agustus 2018 lalu.

Musala Nurul Hikmah di Dusun Pawang Karya pun terkena imbas dari gempa. Silakan cek liputan dari Pakde Romadi, founder Gemas di video ini. Saat saya tiba di sana, kegiatan salat dan mengaji sudah bisa dilakukan secara normal dan aktif kembali.

Anak-anak Suku Sasak Bayan

Dusun Pawang Karya dihuni oleh warga yang sebagian besar adalah penduduk asli Lombok dan khususnya Suku Sasak Bayan. Pekerjaan utama penduduknya adalah berladang dan beternak. Sementara untuk anak-anak, bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Baiturrahmah dan Nurul Hikmah. Naik ke arah Senaru, anak-anak di sekitarnya bersekolah di SDN 04 Senaru.

Aktivitas Sukarelawan Gemas di Bayan

Standardnya, seorang sukarelawan mendapat jatah sebulan / 30 hari untuk bertugas di Lombok dan kemudian bergantian dengan sukarelawan lain yang akan bertugas juga selama sebulan. Meski demikian, ada keringanan untuk akhwat yang sudah berkeluarga, bertugas hanya 14 hari / 2 minggu.

Saya hanya bisa menjalankan amanah 5 hari karena ada tugas negara menanti di Bandung sehingga tidak bisa tinggal lebih lama di Pawang Karya.

SDN 4 Senaru yang terdampak gempa

Aktivitas yang dilakukan para sukarelawan Gemas selama berada di lokasi terdampak gempa Lombok adalah koordinasi untuk mendapatkan air dengan assessment pipanisasi dan saluran irigasi, koordinasi rencana pembuatan hunian baru untuk warga setempat, pembangunan musala dan sekolah darurat, serta program trauma healing. Gemas berkoordinasi dan bersinergi dengan lembaga bantuan lain.

Program ke depannya, Gema Masjid akan fokus pada pendidikan berbasis masjid seperti pendirian Rumah Tahfidz Lombok di Kecamatan Bayan.

Selama lima hari bertugas, saya mengajak bermain anak-anak madrasah dan sedikit membantu guru untuk memberikan materi ajar sederhana.

kegiatan siswa dengan fasilitas seadanya

Berinteraksi dengan alam Lombok dan penduduknya yang ramah membuat saya betah. Mereka mengajarkan kepada saya tentang arti berterima kasih pada Allah yang telah memberikan alam indah dan sumber kehidupan alaminya. Makanan yang sehat, minum dari mata air gunung, tidak bergantung pada gawai yang melenakan, jalan kaki ke tempat aktivitas dan menyapa warga sekitar, berbincang dan tertawa sambil ngopi tanpa harus sedikit-sedikit melihat gawai, serta memanjakan mata dengan pemandangan alam yang indah.

jalan sehat ala anak-anak Bayan

Ada PR untuk warga yaitu kebersihan diri dan lingkungan. Bagaimana menjaga kebersihan sebagai manifestasi iman. Penduduk asli di sana jarang atau bahkan tidak pernah tahu sehatnya mandi untuk membersihkan tubuh. Sebagian penduduk yang lain sudah melakukan kebiasaan mandi setiap hari.

Sementara itu… Membuang sampah sembarangan seolah menjadi hal biasa bagi penduduk. Sekali waktu, saya mengajak anak-anak madrasah untuk latihan menyimpan sampah pada tempatnya. Dikumpulkan agar menjadi lebih bersih dan rapi. Tetapi masalah tidak berhenti sampai di situ.

Saya cukup terpana melihat pembakaran sampah (terutama plastik!) yang dilakukan di sana. Setelah pengumpulan sampah, ternyata dibakar. Saya sudah melarang mereka untuk membakar plastik, tetapi apa jawaban yang saya terima? “Biar lebih gampang.” Belum banyak disadar bahaya dari pembakaran sampah plastik oleh masyarakat (bahkan oleh orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan sekali pun).¬†Salah satu jenis zat yang sangat berbahaya dalam kandungan gas sisa pembakaran plastik adalah dioksin yang bersifat karsinogen atau menimbulkan kanker.¬†Bahaya lain dari pembakaran sampah adalah pencemaran udara. Pasalnya, emisi karbondioksida yang dihasilkan akan menipiskan lapisan ozon (sumber:¬†Kompas).

mencontohkan kepada siswa untuk membuang sampah pada tempatnya

Mudah-mudahan, seiring hadirnya Gemas untuk memakmurkan masjid dan musala Lombok Utara seperti sedia kala, kesadaran menjaga kesehatan diri dan lingkungan pun semakin meningkat.

Pembaruan Kondisi di Kecamatan Bayan

Silakan cek tautan Gemas TV untuk menerima informasi terbaru terkait dengan amanah yang dilakukan selama berada di Lombok, khususnya Kecamatan Bayan.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Bapak Dadang di nomor +62 813-8173-9692 dan ikuti Instagram Gemas.

Terkait donasi, Gemas menerima bentuk bantuan untuk kemudian disalurkan ke Desa Senaru Kecamatan Bayan. Silakan untuk transfer ke rekening BSM 7122277857 atas nama Yayasan Gerakan Memakmurkan Masjid.

SIGAP

Sekian dari saya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam penyampaian informasi. Untuk ralat silakan hubungi saya untuk diperbaiki. Terima kasih atas perhatiannya.

Salam.

 

Categories: Journey | Tags: , , , , , | 1 Comment

Wanitaku

(Tulisan Adis / Takdos )

Journey and adventure

Via IG @mindsetofgreatness

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih suka ngeribetin beli tiket ke mana, daripada beli baju kayak gimana. 

Wanitaku nanti, harus dia yang galauin ketinggalan sale tiket pesawat daripada sale sepatu branded.

Wanitaku nanti, harus dia yang matanya sering kelilipan debu pas hiking, daripada kelilipan gara-gara kecolok pensil alis. 

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih senang menghabiskan waktu di pantai, daripada buang waktu di mall. 

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih suka ngegendong ranselnya, daripada ngejinjing tas bermerknya. 

Wanitaku nanti, harus dia yang seneng pamer fotonya lagi traveling, daripada foto selfienya di kamar mandi, bangun tidur, mau tidur, abis make up, mau makan, selesai makan, disolatin, dikafanin. 

Wanitaku nanti, harus dia yang berani coba makan makanan baru, daripada ngeribetin urusan dietnya. 

Wanitaku nanti, harus dia yang lebih seneng ngabisin uangnya buat beli perlengkapan traveling, daripada buat beli kosmetik. Anyway, kamu akan terlihat cantik dari personality-mu, bukan dandananmu. 

Wanitaku nanti, mungkin kamu?

————–

Bagian “disolatin, dikafanin” emang khas Adis banget lah itu.ūüėā Harap maklum.

Jadi, wahai cewek traveler, mau jadi pasangannya Adis? Sampe tulisan ini aku copas, desye masih single fighter.

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Traveling Bareng Pasangan Sebelum Menikah

Sudah baca tentang pasangan hobi¬†traveling lebih bahagia? Nah, kalau belum menikah, kayaknya hal paling mudah untuk ‘uji nyali’ ketangguhan hubungan kalian adalah dengan¬†traveling deh. Gak percaya? Mengintip artikel tentang keharusan¬†traveling¬†sebelum menikah, gak ada salahnya direncanakan lho. Serius!

Nih, saya salin ulang tulisan dari artikel aslinya di sini yah, dengan sedikit suntingan tanpa mengubah isinya.

1. Dengan traveling bersama kalian dapat mengenali kekurangan dan kelebihan masing-masing

Bermain-main di pantai bersama

Bermain-main di Pantai bersama (source photo)

Mengenali kekurangan dan kelebihan masing-masing adalah hal yang sangat penting diketahui jika ingin hubungan berlabuh di pelaminan. Karena hal ini akan sangat berpengaruh di dalam kehidupan berumah tangga nantinya. Oleh sebab itu, menciptakan rencana perjalanan bersama merupakan cara yang sangat jitu untuk dapat mengetahui sifat pasangat secara jujur.

Jika selama ini kalian dan pasangan hanya saling mengenal hal-hal baiknya saja, dengan traveling bersama kalian akan melihat seluruh sifat baik kekurangan maupun kelebihan pasanganmu. Apakah si dia bisa menjadi pemimpin yang baik? Atau apakah ada yang ditakuti pasanganmu? Semua tentu akan terlihat jelas jika kalian melakukan perjalanan bersama.

2. Dengan traveling kalian akan dilatih untuk saling bermusyawarah bersama

Memilih keputusan secara bersama, adalah hal yang akan sering ditemui dalam kehidupan berumah tangga nantinya. Sebagai pasangan suami istri, kalian dituntut untuk dapat membuat keputusan berdua secara adil dan solutif. Tidak boleh lagi ada keegoisan dari salah satu pasangan, kalian harus kompak dan mau menghadapi resikonya berdua. Ketika kalian melakukan perjalanan, tentu dapat melatih hal penting semacam ini.

Seperti pemilihan tujuan yang ingin dikunjungi, menggunakan kendaraan apa hingga perhitungan budget yang dikeluarkan. Sehingga keputusan yang dipilih bukan hanya dari satu kepala saja melainkan hasil dari keputusan bersama, berlatih kompak sebelum menikah tentu penting dong?

3. Dengan traveling bersama, kalian akan tahu komitmen si dia dalam menjaga kehormatan

Menikmati waktu bersama

Menikmati waktu bersama (source photo)

Dengan melakukan traveling bersama kalian tentu akan banyak memiliki waktu bersama, dan dari situasi tersebut tentu dapat menimbulkan risiko yang harus dihindari. Misalnya karena terus bersama kalian berdua menjadi terbawa suasana. Namun disinilah saatnya kalian untuk menilai pasanganmu, kalian dapat mengecek sejauh apa kamu dan pasangan bisa menjaga komitmen untuk berpegang pada nilai yang kalian punya.

Jika selama perjalanan pasanganmu tetap menjaga dan setia pada kesepakatan untuk tidak berbuat kotor, itu adalah salah satu pertanda bahwa si dia adalah pasangan yang bisa dipercaya. Sebaliknya, Jika pasanganmu justu berusaha merayu dan mencari-cari kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak kalian mau, mungkin kalian harus memikirkan ulang apakah si dia adalah orang yang tepat untuk menjadi teman seumur hidup.

4. Dengan traveling bersama kalian akan tahu, seberapa protektifkah ia dalam menjagamu

Jika dalam hubungan berpacaran pasanganmu terlihat begitu perhatian dan menjagamu lewat telepon genggam, itu belum bisa dibuktikan sebelum kalian melakukan perjalanan bersama. Karena sikap itu akan dapat terlihat jelas ketika kalian sedang traveling bersama.

Misalnya tidak mengizinkan pasangan perempuannya untuk mengendarai sepeda motor, meskipun pasangan lelaki sudah cukup lelah berkendara, atau memberikan bantuan ketika pasangan membutuhkan uluran tangan ketika mendaki. Jika kepedulian pasanganmu sangat tinggi, itu artinya pasangan kalian dapat menjagamu secara nyata.

5. Dengan traveling bersama kalian akan tahu, bisakah ia hidup susah dan melepas zona nyamannya

menjadi pasangan romantis

menjadi pasangan romantis (source photo)

Meski traveling masih sering dianggap sebagai kegiatan bersenang-senang, nyatanya tidak semua orang berani keluar dari zona nyamannya untuk pergi berpetualang. Banyak orang yang masih memiliki ketakutan seperti takut ditipu ataupun tersasar, berbeda dengan sosok seorang petualang yang berani dalam menghadapi risiko apapun di depannya.

Dengan traveling bersama pasanganmu, kalian tentu dapat melihat dengan jelas, seberapa beranikah pasanganmu untuk menantang diri sendiri dan pergi mencari pengalaman dengan melepas zona nyaman yang sudah dimilikinya. Jika pasanganmu berani melakukannya itu adalah sebuah pertanda bahwa dia layak untuk dipertahankan. Kemauan dan kemampuannya berpetualang menjadi bukti ketangguhan sikapnya. Karena sikap tangguh seperti ini akan sangat diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga nantinya.

6. Mengetahui kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dan tantangan

Menghadapi berbagai tantangan dalam sebuah perjalanan adalah hal yang biasa terjadi. Seperti misalnya dipertemukan dengan orang yang berniat jahat dan hendak melakukan penipuan. Atau mungkin halangan dalam hal cuaca yang buruk, sehingga tempat yang kalian ingin kunjungi tidak dapat dilewati.

Dari sana kalian akan dapat melihat, bagaimanakah insting pasanganmu dalam menghadapi masalah tersebut. Karakter pasanganmu akan terlihat jelas dan dapat kamu kenali lebih dalam. Keputusan seperti apa yang diambil dalam saat mengatasi kesulitan adalah gambaran bagaimana dia akan bersikap di kehidupan pernikahan nantinya.

7. Dengan traveling bersama kalian akan memiliki kenangan tak terlupakan

Jika selama ini momen kencan kalian dengan si dia se-mainstream di kafe, bioskop, atau kampus saja, itu pertanda bahwa kalian harus segera menciptakan kenangan bersama yang tidak terlupakan. Menjelajah pantai-pantai tersembunyi, gunung-gunung nan indah, atau pergi ke museum kota bisa jadi membuat hubungan semakin langgeng.

Memori-memori indah tersebut bisa menjadi kenangan yang nantinya dapat diingat ketika kalian berdua menikah nantinya. Momen-momen yang diabadikan pun dapat menjadi koleksi menarik di hari tua. Mungkin saja ketika sudah berstatus suami istri nantinya kalian dapat mengulang perjalanan tersebut dengan semangat yang berbeda.

Jadi, sudahkah si dia layak untuk diajak melangkah bersama seumur hidupmu? Coba ajak traveling bareng dulu deh!¬†ūüėÜ

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Wisata Pantai Kejawanan Cirebon

Ini harusnya ditulis tahun lalu. Gapapa ya? Namanya cerita, apalagi soal¬†traveling, gak akan pernah basi untuk dibagikan. Apalagi, kalau kamu ngaku tukang jalan, menjelajah tempat yang gak biasa itu sesuatu. Termasuk wisata pantai di Cirebon. Sebagai kota pinggir laut, pantai di Cirebon cukup membuat Air, keponakan saya yang super aktif itu bertanya, “Where’s the white sand?” Karena bingung, menjejak di pantai yang justru berlumpur.

Mari menjelajah Pantai Kejawanan Cirebon, yang mulai terkenal dan ramai dikunjungi oleh pelancong dengan biaya murah meriah. Masuk pantainya GRATIS, tetapi parkir ada biayanya. Gak mahal kok. Rp5000 (eh, apa Rp3000 ya? lupita) cukup untuk satu motor sepuasnya, tanpa hitungan jam.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , | Leave a comment

Gaya Minimalis Tebu Hotel Bandung

Kamu suka jalan-jalan ke Bandung? Apa sih yang gak ada di Bandung? Oke, pantai. Lupakan pantai. Kamu bisa menikmati indahnya setiap sudut kota dengan berjalan kaki atau angkot atau bus. Lumayan, semuanya terhitung serba dekat kok.

Hotel Tebu Bandung

Batang tebu di lobby hotel

Nah, urusan penginapan, Tebu Hotel Bandung bisa menjadi pilihan, di antara puluhan budget hotels yang ada  di kota Bandung. Lokasinya sangat strategis. Terletak di jalan L. L. R. E. Martadinata atau dikenal dengan sebutan Jalan Riau, Tebu Hotel persis berada  di sebelah de Pavillion, gak jauh dari KFC. Kalo laper, boleh jalan sekitar 150 meter lah dari hotel.

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Semalam Penuh Pesona Di Tune Hotel / Red Planet Hotel Surakarta

Keren adalah kata pertama yang muncul dalam benak saat menjejakkan kaki di depan halaman Red Planet Hotel Surakarta tanggal 1 September 2016 lalu. Sebelumnya, saya melakukan pengecekan ulasan dari pengunjung lain di laman Google. Tampaknya menarik. Apalagi dengan semangat minimalis yang diusung oleh Red Planet Hotel ini menggoda para backpacker macam saya untuk menjajalnya.

Red planet hotel

Red Planet Hotel Solo

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Perjalanan Bandung – Surakarta 1- 4 September 2016

Not coincidence when I used the hashtag #SoloTrip. Pertama, ini memang perjalanan ke Solo atau Surakarta. Kedua, kali ini saya sendirian pergi jauh dan lama juga meninggalkan krucil.

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Kedua, saya bingung mau mulai cerita dari mana, selain rasa excited karena ke Solo sebagai wakil dari Bandung CLEőõNőõCT. Hadiah dari Allah yang luar biasa. Tahu ada acara #JamboreDiSolo #BebasSampah2020 sudah lama. Saya sempat hening lama. Ingin sekali ke Solo. 16 tahun memimpikan hal ini dan baru terwujud. Kesabaran berbuah manis.
Ketiga, pikiran dan perasaan saya penuh dengan kecemasan. Khas kelemahan saya ketika hendak berangkat ke tempat baru. Membayangkan aneka pengalaman baru di sana.

Continue reading

Categories: Journey, Money and Budget | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Biaya Perjalanan Bandung –¬†Cirebon 3 Hari¬†

Rencanakan sebuah perjalanan dari jauh hari. Ini benar. Meski pada akhirnya, saat hari H tiba dan sepanjang perjalanan, selalu ada biaya tak terduga yang membengkak tidak karuan.

Meski saya tipe pejalan gimana-nanti-yang-penting-jalan-aja-dulu, harus selalu melakukan penyusunan jadwal dan penghitungan alokasi dana  awal. Seperti saat ke Cirebon.

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Backpacking Bandung РCirebon : 29 Р31 Juli 2016 

Perjalanan pertama terjauh saya bersama anak-anak dengan kereta api menuju ujung timur Jawa Barat, tepatnya ke kota tempat saya dibesarkan sepenuh cinta oleh orangtua. Tsaaahhh…

Berawal dari rumpi geje bersama Vei, sahabat tercinta di Telegram pada bulan Juni. “Ke Cirebon, yuk?” berakhir dengan pemesanan tiket kereta api beda jurusan. Dia dari Stasiun Gambir Jakarta, sementara saya dari Stasiun Kebon Kawung Bandung. Itu pun sempat disertai drama kalau saya galau antara naik bus atau kereta api. Kemudian ganti lagi, apakah saya naik dari Gambir juga, atau tetap dari Bandung. Bisa ditebak, Vei esmosi escendol membaca jawaban plin plan saya.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.