Posts Tagged With: Unforgettable

Traveling Bareng Pasangan Sebelum Menikah

Sudah baca tentang pasangan hobi traveling lebih bahagia? Nah, kalau belum menikah, kayaknya hal paling mudah untuk ‘uji nyali’ ketangguhan hubungan kalian adalah dengan traveling deh. Gak percaya? Mengintip artikel tentang keharusan traveling sebelum menikah, gak ada salahnya direncanakan lho. Serius!

Nih, saya salin ulang tulisan dari artikel aslinya di sini yah, dengan sedikit suntingan tanpa mengubah isinya.

1. Dengan traveling bersama kalian dapat mengenali kekurangan dan kelebihan masing-masing

Bermain-main di pantai bersama

Bermain-main di Pantai bersama (source photo)

Mengenali kekurangan dan kelebihan masing-masing adalah hal yang sangat penting diketahui jika ingin hubungan berlabuh di pelaminan. Karena hal ini akan sangat berpengaruh di dalam kehidupan berumah tangga nantinya. Oleh sebab itu, menciptakan rencana perjalanan bersama merupakan cara yang sangat jitu untuk dapat mengetahui sifat pasangat secara jujur.

Jika selama ini kalian dan pasangan hanya saling mengenal hal-hal baiknya saja, dengan traveling bersama kalian akan melihat seluruh sifat baik kekurangan maupun kelebihan pasanganmu. Apakah si dia bisa menjadi pemimpin yang baik? Atau apakah ada yang ditakuti pasanganmu? Semua tentu akan terlihat jelas jika kalian melakukan perjalanan bersama.

2. Dengan traveling kalian akan dilatih untuk saling bermusyawarah bersama

Memilih keputusan secara bersama, adalah hal yang akan sering ditemui dalam kehidupan berumah tangga nantinya. Sebagai pasangan suami istri, kalian dituntut untuk dapat membuat keputusan berdua secara adil dan solutif. Tidak boleh lagi ada keegoisan dari salah satu pasangan, kalian harus kompak dan mau menghadapi resikonya berdua. Ketika kalian melakukan perjalanan, tentu dapat melatih hal penting semacam ini.

Seperti pemilihan tujuan yang ingin dikunjungi, menggunakan kendaraan apa hingga perhitungan budget yang dikeluarkan. Sehingga keputusan yang dipilih bukan hanya dari satu kepala saja melainkan hasil dari keputusan bersama, berlatih kompak sebelum menikah tentu penting dong?

3. Dengan traveling bersama, kalian akan tahu komitmen si dia dalam menjaga kehormatan

Menikmati waktu bersama

Menikmati waktu bersama (source photo)

Dengan melakukan traveling bersama kalian tentu akan banyak memiliki waktu bersama, dan dari situasi tersebut tentu dapat menimbulkan risiko yang harus dihindari. Misalnya karena terus bersama kalian berdua menjadi terbawa suasana. Namun disinilah saatnya kalian untuk menilai pasanganmu, kalian dapat mengecek sejauh apa kamu dan pasangan bisa menjaga komitmen untuk berpegang pada nilai yang kalian punya.

Jika selama perjalanan pasanganmu tetap menjaga dan setia pada kesepakatan untuk tidak berbuat kotor, itu adalah salah satu pertanda bahwa si dia adalah pasangan yang bisa dipercaya. Sebaliknya, Jika pasanganmu justu berusaha merayu dan mencari-cari kesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak kalian mau, mungkin kalian harus memikirkan ulang apakah si dia adalah orang yang tepat untuk menjadi teman seumur hidup.

4. Dengan traveling bersama kalian akan tahu, seberapa protektifkah ia dalam menjagamu

Jika dalam hubungan berpacaran pasanganmu terlihat begitu perhatian dan menjagamu lewat telepon genggam, itu belum bisa dibuktikan sebelum kalian melakukan perjalanan bersama. Karena sikap itu akan dapat terlihat jelas ketika kalian sedang traveling bersama.

Misalnya tidak mengizinkan pasangan perempuannya untuk mengendarai sepeda motor, meskipun pasangan lelaki sudah cukup lelah berkendara, atau memberikan bantuan ketika pasangan membutuhkan uluran tangan ketika mendaki. Jika kepedulian pasanganmu sangat tinggi, itu artinya pasangan kalian dapat menjagamu secara nyata.

5. Dengan traveling bersama kalian akan tahu, bisakah ia hidup susah dan melepas zona nyamannya

menjadi pasangan romantis

menjadi pasangan romantis (source photo)

Meski traveling masih sering dianggap sebagai kegiatan bersenang-senang, nyatanya tidak semua orang berani keluar dari zona nyamannya untuk pergi berpetualang. Banyak orang yang masih memiliki ketakutan seperti takut ditipu ataupun tersasar, berbeda dengan sosok seorang petualang yang berani dalam menghadapi risiko apapun di depannya.

Dengan traveling bersama pasanganmu, kalian tentu dapat melihat dengan jelas, seberapa beranikah pasanganmu untuk menantang diri sendiri dan pergi mencari pengalaman dengan melepas zona nyaman yang sudah dimilikinya. Jika pasanganmu berani melakukannya itu adalah sebuah pertanda bahwa dia layak untuk dipertahankan. Kemauan dan kemampuannya berpetualang menjadi bukti ketangguhan sikapnya. Karena sikap tangguh seperti ini akan sangat diperlukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga nantinya.

6. Mengetahui kemampuannya dalam menyelesaikan masalah dan tantangan

Menghadapi berbagai tantangan dalam sebuah perjalanan adalah hal yang biasa terjadi. Seperti misalnya dipertemukan dengan orang yang berniat jahat dan hendak melakukan penipuan. Atau mungkin halangan dalam hal cuaca yang buruk, sehingga tempat yang kalian ingin kunjungi tidak dapat dilewati.

Dari sana kalian akan dapat melihat, bagaimanakah insting pasanganmu dalam menghadapi masalah tersebut. Karakter pasanganmu akan terlihat jelas dan dapat kamu kenali lebih dalam. Keputusan seperti apa yang diambil dalam saat mengatasi kesulitan adalah gambaran bagaimana dia akan bersikap di kehidupan pernikahan nantinya.

7. Dengan traveling bersama kalian akan memiliki kenangan tak terlupakan

Jika selama ini momen kencan kalian dengan si dia se-mainstream di kafe, bioskop, atau kampus saja, itu pertanda bahwa kalian harus segera menciptakan kenangan bersama yang tidak terlupakan. Menjelajah pantai-pantai tersembunyi, gunung-gunung nan indah, atau pergi ke museum kota bisa jadi membuat hubungan semakin langgeng.

Memori-memori indah tersebut bisa menjadi kenangan yang nantinya dapat diingat ketika kalian berdua menikah nantinya. Momen-momen yang diabadikan pun dapat menjadi koleksi menarik di hari tua. Mungkin saja ketika sudah berstatus suami istri nantinya kalian dapat mengulang perjalanan tersebut dengan semangat yang berbeda.

Jadi, sudahkah si dia layak untuk diajak melangkah bersama seumur hidupmu? Coba ajak traveling bareng dulu deh! 😆

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Wisata Pantai Kejawanan Cirebon

Ini harusnya ditulis tahun lalu. Gapapa ya? Namanya cerita, apalagi soal traveling, gak akan pernah basi untuk dibagikan. Apalagi, kalau kamu ngaku tukang jalan, menjelajah tempat yang gak biasa itu sesuatu. Termasuk wisata pantai di Cirebon. Sebagai kota pinggir laut, pantai di Cirebon cukup membuat Air, keponakan saya yang super aktif itu bertanya, “Where’s the white sand?” Karena bingung, menjejak di pantai yang justru berlumpur.

Mari menjelajah Pantai Kejawanan Cirebon, yang mulai terkenal dan ramai dikunjungi oleh pelancong dengan biaya murah meriah. Masuk pantainya GRATIS, tetapi parkir ada biayanya. Gak mahal kok. Rp5000 (eh, apa Rp3000 ya? lupita) cukup untuk satu motor sepuasnya, tanpa hitungan jam.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , | Leave a comment

Gaya Minimalis Tebu Hotel Bandung

Kamu suka jalan-jalan ke Bandung? Apa sih yang gak ada di Bandung? Oke, pantai. Lupakan pantai. Kamu bisa menikmati indahnya setiap sudut kota dengan berjalan kaki atau angkot atau bus. Lumayan, semuanya terhitung serba dekat kok.

Hotel Tebu Bandung

Batang tebu di lobby hotel

Nah, urusan penginapan, Tebu Hotel Bandung bisa menjadi pilihan, di antara puluhan budget hotels yang ada  di kota Bandung. Lokasinya sangat strategis. Terletak di jalan L. L. R. E. Martadinata atau dikenal dengan sebutan Jalan Riau, Tebu Hotel persis berada  di sebelah de Pavillion, gak jauh dari KFC. Kalo laper, boleh jalan sekitar 150 meter lah dari hotel.

Continue reading

Categories: Money and Budget, Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Semalam Penuh Pesona Di Tune Hotel / Red Planet Hotel Surakarta

Keren adalah kata pertama yang muncul dalam benak saat menjejakkan kaki di depan halaman Red Planet Hotel Surakarta tanggal 1 September 2016 lalu. Sebelumnya, saya melakukan pengecekan ulasan dari pengunjung lain di laman Google. Tampaknya menarik. Apalagi dengan semangat minimalis yang diusung oleh Red Planet Hotel ini menggoda para backpacker macam saya untuk menjajalnya.

Red planet hotel

Red Planet Hotel Solo

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Perjalanan Bandung – Surakarta 1- 4 September 2016

Not coincidence when I used the hashtag #SoloTrip. Pertama, ini memang perjalanan ke Solo atau Surakarta. Kedua, kali ini saya sendirian pergi jauh dan lama juga meninggalkan krucil.

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Kedua, saya bingung mau mulai cerita dari mana, selain rasa excited karena ke Solo sebagai wakil dari Bandung CLEΛNΛCT. Hadiah dari Allah yang luar biasa. Tahu ada acara #JamboreDiSolo #BebasSampah2020 sudah lama. Saya sempat hening lama. Ingin sekali ke Solo. 16 tahun memimpikan hal ini dan baru terwujud. Kesabaran berbuah manis.
Ketiga, pikiran dan perasaan saya penuh dengan kecemasan. Khas kelemahan saya ketika hendak berangkat ke tempat baru. Membayangkan aneka pengalaman baru di sana.

Continue reading

Categories: Journey, Money and Budget | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Biaya Perjalanan Bandung – Cirebon 3 Hari 

Rencanakan sebuah perjalanan dari jauh hari. Ini benar. Meski pada akhirnya, saat hari H tiba dan sepanjang perjalanan, selalu ada biaya tak terduga yang membengkak tidak karuan.

Meski saya tipe pejalan gimana-nanti-yang-penting-jalan-aja-dulu, harus selalu melakukan penyusunan jadwal dan penghitungan alokasi dana  awal. Seperti saat ke Cirebon.

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Alun-alun Kejaksan Cirebon

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Backpacking Bandung – Cirebon : 29 – 31 Juli 2016 

Perjalanan pertama terjauh saya bersama anak-anak dengan kereta api menuju ujung timur Jawa Barat, tepatnya ke kota tempat saya dibesarkan sepenuh cinta oleh orangtua. Tsaaahhh…

Berawal dari rumpi geje bersama Vei, sahabat tercinta di Telegram pada bulan Juni. “Ke Cirebon, yuk?” berakhir dengan pemesanan tiket kereta api beda jurusan. Dia dari Stasiun Gambir Jakarta, sementara saya dari Stasiun Kebon Kawung Bandung. Itu pun sempat disertai drama kalau saya galau antara naik bus atau kereta api. Kemudian ganti lagi, apakah saya naik dari Gambir juga, atau tetap dari Bandung. Bisa ditebak, Vei esmosi escendol membaca jawaban plin plan saya.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

Jangan Menunggu, Lakukan Saja!

Saya penakut. Serius. Bahkan untuk mencoba hal baru yang sebenarnya biasa saja. Makanya, menjalani hidup yang tampak lempeng itu membosankan. Meski ada tantangan setiap hari hingga dengkul lemas, tangan gemetar, dan otak sering kesemutan, ada hal-hal yang ingin  dilakukan tetapi saya bergeming.

Saya penakut.

plan to travel

via onlinedatahub

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Plan To Go | Tags: , | Leave a comment

Bandung, Tempat Cinta Kembali

Tak terlalu berlebihan bila saya mengatakan bahwa Bandung memang diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Mengutip dari M. A. W Brouwer yang diabadikan pada dinding jembatan dekat alun-alun Bandung.

Saya mencintai Bandung, karena di sana lahir seorang perempuan tangguh yang menjadikan saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Kembali ke Bandung adalah niscaya. Mama dan saya dulu tinggal di Cirebon. Setiap mau pulang kampung, Mama pasti pesan jasa travel yang disebutnya suburban (dan perusahaan itu dulu namanya 4848, era  80-90 terkenal lho). Nah, dulu itu kalau mau pesan tempat duduk, caranya bisa telepon atau datang langsung ke kantornya. Kalau sekarang kan pilihan pergi dari Cirebon ke Bandung banyak banget ya?

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Unplanned Journey Yet Unforgettable

Perjalanan yang ke situ-situ lagi, sebenarnya. Depok – Bogor – Jakarta. Tetapi seperti biasa, setiap episodenya selalu istimewa dan menyisakan kenangan manis. Perjalanan menutup tahun masehi 2014 tanpa rencana sama sekali. Perjalanan kali ini lebih membekas untuk ruhani. Lumayan, aku menikmatinya dengan perbanyak istighfar.

Kita mulai dengan rute Bandung – Depok pada tanggal 30 Desember 2014, yuk? Pukul delapan pagi, sudah duduk manis di dalam bus dan siap berangkat. Sebelum ponsel tewas dengan sukses, sebuah pesan masuk mendarat di Facebook. Ada undangan dari teman-teman HITS 8090 Regional Bogor untuk malam hari. Aku terpana. Rencana ke Jagakarsa sepertinya dibatalkan. Baiklah, aku menyetujuinya.

Sampai di jembatan UI (tak jauh dari flyover UI) bus MGI mogok dengan cakepnya. Menunggu 30 menit tak kunjung ada tanda mesin bus berfungsi lagi, aku dan krucil memutuskan turun dan melanjutkannya dengan angkot. Sampai di jalan Nusantara Depok I pukul 11.30 siang. Krucil minta makan siang. Akhirnya memesan mie ayam yang dahulu menjadi langganan kami.

Berkah silaturrahim pertama pun merekah. Tukang mie ayam yang sudah lama tak kujumpai, menyiapkan 3 porsi untuk kami dan semuanya gratis! Allah!♥ “Serius, No?” (nama penjual mie ayamnya adalah Yono). “Iya, Mbak. Serius. Kayak sama orang lain aja. Beneran.” Kalau aku menangis kan norak ya jadinya? Akhirnya aku bilang, “Berkah daganganmu ya, No. Sukses. Lancar. Mudah-mudahan makin laris, bisa nambah gerobak. Salam buat anak istrimu.” Yono mengamini.

Sementara krucil bersama opungnya, aku segera berangkat ke lokasi silaturrahim kedua. Studio 21 Depok Town Square. Ini pun mendadak. Aku mengetahui dari linimasa mbak Asma Nadia bahwa ada nonton bareng film Assalamu’alaikum Beijing di 21 Detos pada tanggal 30 Desember itu justru pada tanggal 29 Desember malam hari! Kelabakan, menghitung jarak dan waktu sampai di lokasi yang rasanya mustahil. Tetapi bismillah, aku nekat. Nyatanya, aku baru hadir pukul 14.00 WIB di Detos.

Aku menemui bunda Helvy, menyapanya, dan mengatakan bahwa aku kehabisan tiket. 10 menit kemudian, sebuah tiket pun sampai dalam genggaman. Keajaiban dan berkah kedua. Dzikir syukur itu membuncah dari jiwa. Allah, indahnya mengeratkan kembali hubungan antara penulis senior dan penulis pemula. 😉

Pukul lima sore, aku meluncur ke Cilebut, menuju rumah kang Kemal. Yes, lokasi untuk kopdar dadakan akan diadakan di Bukit Cimanggu City. Meski aku harus merogoh ongkos 2x dari yang seharusnya (dari ceban normalnya, aku membayar 20rb), toh tergantikan dengan lebih dari 15 teman baru yang kudapatkan dan makanan lezat tumpah ruah di sana. Alhamdulillah yaa Allah, berkah dan rezeki ketiga dalam sehari.

Belum cukup cinta Allah, aku diundang untuk menginap di rumah teh Anne. Suatu kehormatan berikutnya. Ada yang aneh. Laptopku tak berfungsi sama sekali. Mungkin pertanda dari Allah, aku harus istirahat. Bukannya malah kerja tengah malam dalam kondisi tubuh dan pikiran sudab di titik nadir. Hihihi…

31 Desember 2014. Depok pada pukul 09.15 WIB. Aku sudah sampai di Detos (LAGI) untuk bertemu dengan teman-teman dari Gerakan Nasional Anti Miras Chapter Depok. Baiklah. Kepagian. Aku bertemu kembali dengan uda Aslim yang sudah 4 tahun tidak berjumpa. Alhamdulillah, melihat beliau masih sehat, senang sekali rasanya.

Kemudian bertemu dengan Topson dan Yessy setelah sekian lama (padahal baru 1 tahunan 😛 ) juga menyenangkan. Diajak sarapan oleh Topson adalah rezeki berikutnya. Kemudian, bertemu dengan uni Fahira adalah puncak dari jadwal di Detos. Selesai shalat Dzuhur, aku segera ke masjid Baitul Ihsan yang berada di kompleks Bank Indonesia Jakarta Pusat.

Tiba di stasiun Gondangdia tepat ketika azan ashar berkumandang. Disambut hujan. Sepertinya, aku harus bersiap dengan segala kemungkinan. Aku merasa, inilah saat ujian itu tiba. Pertama, nyaris sulit mendapatkan bajaj yang bisa sepakat ongkosnya. Setelah mendapatkannya, masih harus terjebak memutar arah dari Kebon Sirih ke Tanah Abang. Sampai aku berpikir, “Bego banget tadi gak turun aja di pintu Kebon Sirih, ya?” Sampai di masjid BI, badan yang mulai terasa gak enak pun tak kupedulikan. Aku terlalu senang bertemu dengan teman-teman lama.

Akhirnya benar tak mengenakkan. Aku tumbang sejak selesai isya. Hingga tengah malam, sakit perut luar biasa. Sekitar pukul sebelas, jackpot dua kali. Luar biasa rasanya. Gemetar. Hasilnya, aku tak bisa khusyuk untuk qiyamul lail yang dimulai pada pukul dua dini hari. 3x absen hanya untuk ke WC. Nyeri seluruh sendi. Menghabiskan empat saset jamu Tolak Angin dalam enam jam. Mantaplah.

1 Januari 2015.

Puncak tujuanku ke masjid BI adalah doa setelah shalat witir. Doa yang sudah kubungkus rapi dalam ingatan dan hendak kulangitkan pada-Nya, nyaris berujung sia-sia. Sebelum akhirnya setengah sadar seperti mau pingsan, aku ingat bahwa aku masih sempat memanggil satu nama. Setelah itu semuanya gelap.

Aku tersadar persis ketika azan subuh terdengar, “Ashsholatu khoirum minannaum…” Dengan tenaga yang sudah tersisa, aku menyempurnakan mabit seadanya. Menangis di akhir doa. Apakah segalanya akan sia-sia hanya karena aku sakit mendadak? Entah.

Sakit fisik ternyata masih bisa kutahan. Ketika aku bertemu dengan seorang ustadz yang sudah enam tahun tak bertemu, hancur lebur semua pertahanan jiwaku. Beliau menanyakan hal yang sangat kuhindari selama ini. Akhirnya aku menyadari satu hal, suatu saat memang harus kuhadapi kenyataan. Pertanyaan itu harus kudengar dan beliau menunggu jawaban. Memaksa dalam pandangan matanya. Aku menjawabnya nyaris tanpa suara. Tercekat. Habis sudah semua kekuatanku.

Aku mencoba beristirahat. Pukul delapan pagi, aku meninggalkan masjid. Kesadaranku hanya setengah. Sambil beristighfar tiada lepas, aku memilih naik TransJakarta dari halte BI ke…Dukuh Atas! Bukannya ke Harmoni untuk langsung ke Lebak Bulus, aku malah berkeliling kota. Dari Lebak Bulus, aku ke Matraman, lanjut ke Kampung Melayu, dan berakhir di Pasar Rebo.

Kebodohanku masih berlanjut. Menunggu bus jurusan Jakarta – Bandung selama sejam tak menunjukkan hasil. Tubuh sudah tinggal ambruknya. Oke, aku memutuskan untuk bergerak ke terminal Kampung Rambutan. Itu pun tak langsung dapat bus. Menunggu sekitar 15 menit, baru bus membuka pintunya. Menunggu lagi 15 menit, akhirnya bus meninggalkan terminal.

Tak sempat kucatat apa nama busnya dan nopolnya. Begitu dapat tempat duduk, aku langsung tertidur. Bangun hanya untuk membayar tiket, tertidur kembali, dan bangun lagi di pintu tol Pasir Koja pukul tiga sore. Selesai? Belum. Aku turun di halte Trans Metro Bandung depan terminal Leuwipanjang, menunggu bus Damri selama… Sejam! Nikmat kan?

Sesampainya di rumah, setelah membereskan tas dan mandi, lalu shalat ashar, kemudian membuka laptop. Gila, emang! Mencoba mengerjakan beberapa tugas yang tertinggal sambil mendengarkan murottal. Selesai isya, aku terkapar dengan kondisi laptop menyala. Aku sudah tak peduli lagi.

———————

Sungguh bukan perjalanan yang mudah untukku. Oh, bukan tentang fisik yang terkuras. Ini tentang jiwaku yang merasakan ada sesuatu. Tetapi, di luar semua itu, aku tetap bersyukur kepada Allah atas satu hari lagi yang Dia berikan padaku. Setiap hari.

Categories: Journey | Tags: , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.