Posts Tagged With: Walk Alone

Semalam Penuh Pesona Di Tune Hotel / Red Planet Hotel Surakarta

Keren adalah kata pertama yang muncul dalam benak saat menjejakkan kaki di depan halaman Red Planet Hotel Surakarta tanggal 1 September 2016 lalu. Sebelumnya, saya melakukan pengecekan ulasan dari pengunjung lain di laman Google. Tampaknya menarik. Apalagi dengan semangat minimalis yang diusung oleh Red Planet Hotel ini menggoda para backpacker macam saya untuk menjajalnya.

Red planet hotel

Red Planet Hotel Solo

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Perjalanan Bandung – Surakarta 1- 4 September 2016

Not coincidence when I used the hashtag #SoloTrip. Pertama, ini memang perjalanan ke Solo atau Surakarta. Kedua, kali ini saya sendirian pergi jauh dan lama juga meninggalkan krucil.

Balaikota Surakarta

Balaikota Surakarta

Kedua, saya bingung mau mulai cerita dari mana, selain rasa excited karena ke Solo sebagai wakil dari Bandung CLEΛNΛCT. Hadiah dari Allah yang luar biasa. Tahu ada acara #JamboreDiSolo #BebasSampah2020 sudah lama. Saya sempat hening lama. Ingin sekali ke Solo. 16 tahun memimpikan hal ini dan baru terwujud. Kesabaran berbuah manis.
Ketiga, pikiran dan perasaan saya penuh dengan kecemasan. Khas kelemahan saya ketika hendak berangkat ke tempat baru. Membayangkan aneka pengalaman baru di sana.

Continue reading

Categories: Journey, Money and Budget | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Bandung – Cirebon Dalam 12 Jam

Tak banyak yang bisa dilakukan dalam perjalanan dari Bandung ke Cirebon dan kembali ke Bandung dalam waktu sekitar 12 jam. Ini tulisan harusnya jadi pada bulan April, tetapi sempat berpikir tak perlu. Bahkan beberapa foto pun terhapus dari ponsel. Yha 😦

Tanggal 13 April, saya pergi ke Cirebon sendirian untuk melayat ke rumah sahabat. Ibunya wafat tanggal 12 April, tetapi saya baru mengetahui kabarnya pada sore hari, sehingga saya memutuskan langsung ke Cirebon pada tanggal 13 di pagi hari.

kota cirebon

Kota Cirebon via flickr

Continue reading

Categories: Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Bandung, Tempat Cinta Kembali

Tak terlalu berlebihan bila saya mengatakan bahwa Bandung memang diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Mengutip dari M. A. W Brouwer yang diabadikan pada dinding jembatan dekat alun-alun Bandung.

Saya mencintai Bandung, karena di sana lahir seorang perempuan tangguh yang menjadikan saya belajar tentang cinta tanpa syarat. Kembali ke Bandung adalah niscaya. Mama dan saya dulu tinggal di Cirebon. Setiap mau pulang kampung, Mama pasti pesan jasa travel yang disebutnya suburban (dan perusahaan itu dulu namanya 4848, era  80-90 terkenal lho). Nah, dulu itu kalau mau pesan tempat duduk, caranya bisa telepon atau datang langsung ke kantornya. Kalau sekarang kan pilihan pergi dari Cirebon ke Bandung banyak banget ya?

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Kekuatan Wanita Traveler

Artikel asli dari Vemale

Coba deh jawab pertanyaan ini: di usia Anda yang sekarang ini, sudah berapa tempat yang Anda jelajahi? Berapa tempat yang sudah Anda rekam keindahannya? Berapa banyak pengalaman hidup yang Anda dapat dengan menjadi seorang traveler?

Ladies, seorang wanita yang hobi bertualang atau traveling memang memiliki sejumlah karakter yang berbeda dari wanita yang jarang traveling. Saat sudah mereguk banyak pengalaman dalam sebuah perjalanan, seseorang bisa mengalami sejumlah perubahan dalam dirinya, termasuk karakter-karakter pribadi yang dimiliki.

“To move, to breathe, to fly, to float,
To gain all while you give,
To roam the roads of lands remote,
To travel is to live.”
― Hans Christian Andersen

The Fairy Tale of My Life: An Autobiography

Berikut ini lima karakter super yang umumnya dimiliki oleh seorang wanita petualang. Apakah Anda juga memiliki karakter ini dalam diri Anda? Let’s check this out!

  • Berwawasan Luas

    Belajar tak melulu hanya di dalam ruang kelas atau saat sedang kuliah saja. Saat traveling, ada banyak pengalaman yang bisa didapat dari pertemuan dengan orang baru atau mempelajari kebudayaan tertentu. Hal-hal seperti itu pun kemudian bisa membuat Anda makin berwawasan luas. Pemikiran Anda pun jauh lebih terbuka.

  • Tak Mudah Stres

    Saat traveling, kita ditantang untuk menyelesaikan semua masalah dan tantangan yang terjadi selama di perjalanan. Awalnya memang terasa sulit, tapi lama kelamaan akan membentuk kepribadian Anda jadi lebih luwes dan tak mudah stres saat menghadapi kesulitan atau masalah.

  • Punya Daya Kreativitas Tinggi

    Traveling membuat kita belajar melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang berbeda. Kita tak terjebak dalam satu pola pikir saja. Melihat sesuatu dari sudut yang baru. Memicu berbagai imajinasi baru dan daya kreativitas bisa semakin tinggi.

  • Mudah Bahagia dengan Cara Sederhana

    Untuk bahagia, Anda tak perlu melakukan hal-hal rumit. Dengan hal-hal sederhana saja, Anda bisa langsung bahagia. Anda tak perlu susah-susah berpikir untuk bisa bahagia. Terbiasa menikmati perjalanan atau menjadi traveler, setiap perjalanan hidup yang Anda lewati pun tak lagi menjadi sebuah beban.

  • Percaya Diri dan Tetap Rendah Hati

    Bertemu banyak orang baru, menimba pengetahuan baru dari pengalaman traveling, serta bisa merasakan susah payahnya sebuah perjalanan, semua hal itu bisa membentuk karakter Anda jadi lebih percaya diri dengan tetap rendah hati. Ada makna hidup yang bisa Anda petik di setiap perjalanan. Dan, itu terbawa dalam keseharian Anda.

Ladies, apakah Anda juga hobi traveling dan memiliki kelima karakter tersebut? Dunia ini begitu luas, sangat rugi rasanya bila Anda hanya terjebak dalam satu tempat dengan rutinitas yang monoton. Pack your backpack and let’s travel!

Categories: About Traveling / Backpacking | Tags: , | Leave a comment

Finding My Own Path

Yah, gayanya sih berniat untuk menentukan perjalanan selanjutnya. Tiga tahun terjebak dalam keadaan yang tak mengenakkan.

Jadi, rencananya adalah aku pergi keliling sendirian dulu buat “ngamen” (apalah istilah tepatnya). Ngegembel ke luar negeri seperti rencana awal setelah keliling Indonesia. Atau keluar dulu baru balik ke Indonesia. Mana yang lebih mungkin kesempatannya nanti. Rencana manusia terlalu indah dan terlihat mudah. Nyatanya sampai detik ini, aku tak kunjung berjalan selangkah pun.

Kata temanku, “Mbak, jangan kebanyakan rencana. Setiap yang direncanakan pastinya gagal tuh.” Sotoy gak sih? Minta dikeplak gak sih? Tetapi ternyata benar. Dari tahun 2011 aku rencana ke Jogja, sampai detik aku menulis postingan ini ternyata masih duduk manis di teras. I am too pathetic. 

Mungkin bagi para pejalan atau backpacker, aku ini banyak omongnya doang. Jogja tinggal naik bus dari dekat rumahku. Pool busnya hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer. Mungkin harus nekat. Yodah, akhirnya aku mengumpulkan uang. Setiap ada kesempatan, sudah siap pergi. Tapi… Ada saja halangannya. Kalau bukan anak yang sakit, akunya sakit, atau kendala lain.

Makanya untuk menghibur diri, aku bergabung ke Komunitas Jalan2 Indonesia. Awalnya bagaimana? Mbuh 😀 Aku mendapat surel yang entah dari siapa dan bagaimana mereka mendapatkan alamat surelku, ya sudahlah aku melihat isi jeroannya forum itu. Seru dan bikin sirik. Mengapa mereka bisa jalan-jalan ke mana saja dengan semudah itu? Mbuh (lagi).

Di forum tersebut aku kenalan secara virtual dengan beberapa anggota (dan lupa lagi 😛 sementara anggotanya banyak dan aku hanya hapal Deffa Utama *jder!* ) dan lebih sering sebagai silent reader saking gemesnya karena hanya bisa sirik dengan foto jalan-jalan mereka.

Aku paling suka bagian tulisan teman-teman di sana seputar kuliner, perjalanan pertama kali ke sebuah daerah, dan update tentang aturan ke luar negeri yang biasanya seperti visa, paspor, nemu tempat menginap yang asyik, dan lainnya.

Karena aku termasuk orang yang suka ribet kalau mau jalan (apalagi dengan dua bocah yang super rempong dan bertenaga alkaline di rumah), jadinya aku baru bisa mencatat hal-hal yang kubutuhkan dari pengalaman perjalanan teman-teman di KJJI itu.

Kalau melihat contoh tulisan yang ada di KJJI, malah bikin aku gak merasa minder. Hal-hal sederhana bisa ditulis sebagai pengalaman yang unik dan seru. Meski hanya sekadar makan di warung kecil atau jalan ke pantai.

Senangnya aku, mereka semua ramah dan gokil. Gak pelit pengalaman. Cihuy gitu deh. Padahal belum pernah ketemu. Rasanya udah kayak temen lama. (si gue lagi norak ya?) Jadi apa yang mereka lalui selama melakukan perjalanan dan apa saja yang harus dipersiapkan atau mereka menemui kendala apa, jadinya kan bisa dicatat.

Lagipula, aku sedang menyusun sebuah rencana (ya Tuhan! lagi-lagi rencana!) menulis buku tentang serial perjalanan nusantara. Terlalu idealis, mungkin. Setidaknya, aku ingin menulisnya. Makanya, bahan tulisan dari hasil blusukan di forum KJJI lumayan lah bisa dijadikan referensi. Tapi emang sih, menulis tentang sebuah daerah gak cukup hanya dibayangkan tanpa datang ke lokasi aslinya. *lagi-lagi manyun.

Doain yaaaaa, Allah beneran kasih jalan agar aku bisa menuliskan novel (roman, my favorite genre ) berlatar daerah nusantara. Berharap, suatu saat benar-benar bisa mewujudkannya, demi kau dan si buah hati. *eh, kok? 😛 Just because I do wanna find my own journey… Mine. 

Gabung di KJJI yuk! 😉

-di pojok kamar, pojok kota bandung-

Categories: Plan To Go | Tags: , , , | 2 Comments

Serial Perjalanan Nusantara

Mungkin, bagi banyak travel blogger, jalan-jalan ke mana saja dan kapan saja tak jadi masalah. Mereka mencintai profesinya, menikmati perjalanannya, dan membaginya dalam blog. Bahkan beberapa membuat catatan perjalanannya menjadi sebuah buku. Modal mereka awalnya ada yang karena merogoh tabungan, menodong teman, bonus dari kantor, menjual barang, sampai mendapatkan donatur baik hati. Have fun go mad yang bisa membuat mereka bisa memiliki personal branding yang kece itu tadi.

want to travel

Ada juga pejalan yang memang dibayar untuk melakukan sebuah petualangan dan menuliskan sesuai dengan kontrak yang sudah disepakati. Melakukan perjalanan karena bisnis. Bagian yang seperti ini asyik juga. Dikasih modal dana, ya tinggal jalan. Banyak yang keren lho, hasil reportasenya. Cakep.

Aku ingin melakukan sebuah perjalanan. Dibukukan. Keliling Nusantara. Mungkin pertema. Misalnya saja, sebuah buku tentang perjalanan ke Sabang, Bukittinggi, Garut, Cirebon, Solo, Banyuwangi, Sangatta, Enrekang, Abepura. Inginnya semua tujuan itu bukan tentang kota besar. Ingin menuliskannya dalam bentuk novel, pastinya fiksi.

Namun aku tahu, aku masih harus menelan keinginan itu karena ya…. MODAL bukan hanya soal NYALI dan KEMAUAN. Satu hal penting pun harus tersedia: DANA. 😀 Aku bukan orang yang kreatifnya sampai harus nekat jual barang sih. (Setidaknya untuk saat ini…) Masalahnya bingung mau menjual apa? 😛 Ternyata ketakutanku masih berkutat di seputar rupiah. Miris banget. 😦

Aku memendam keinginan ini sudah sekitar 7-8 tahun. Semua idenya sudah duduk manis di sudut ruang bernama mimpi. Berputar terus di kepala tanpa berani mengungkapkannya pada Tuhan. Aku hanya malumalu berbisik pada malaikat, siapa tahu ada yang berbaik hati menyampaikannya kepada Sang Pemilik Peta Dunia…

Ternyata aku belum bisa senekat itu, sementara waktu terus berjalan dan usiaku tak lagi muda. *deep breath* Jika memang tak diizinkan ke beberapa tujuan impianku, setidaknya ada TIGA tempat yang ingin kubukukan: Bukittinggi, Cirebon, dan Enrekang. Entah mengapa, tapi aku ingin sekali menulis novel berlatar tiga kota di tiga propinsi dan tiga pulau tersebut. (Meski itu berarti gak sesuai dengan judul postingan ini, sih… ) Sebelum aku kembali ‘pulang’…

Donatur ada yang mau gak, yah? 😉

Categories: Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Unplanned Journey Yet Unforgettable

Perjalanan yang ke situ-situ lagi, sebenarnya. Depok – Bogor – Jakarta. Tetapi seperti biasa, setiap episodenya selalu istimewa dan menyisakan kenangan manis. Perjalanan menutup tahun masehi 2014 tanpa rencana sama sekali. Perjalanan kali ini lebih membekas untuk ruhani. Lumayan, aku menikmatinya dengan perbanyak istighfar.

Kita mulai dengan rute Bandung – Depok pada tanggal 30 Desember 2014, yuk? Pukul delapan pagi, sudah duduk manis di dalam bus dan siap berangkat. Sebelum ponsel tewas dengan sukses, sebuah pesan masuk mendarat di Facebook. Ada undangan dari teman-teman HITS 8090 Regional Bogor untuk malam hari. Aku terpana. Rencana ke Jagakarsa sepertinya dibatalkan. Baiklah, aku menyetujuinya.

Sampai di jembatan UI (tak jauh dari flyover UI) bus MGI mogok dengan cakepnya. Menunggu 30 menit tak kunjung ada tanda mesin bus berfungsi lagi, aku dan krucil memutuskan turun dan melanjutkannya dengan angkot. Sampai di jalan Nusantara Depok I pukul 11.30 siang. Krucil minta makan siang. Akhirnya memesan mie ayam yang dahulu menjadi langganan kami.

Berkah silaturrahim pertama pun merekah. Tukang mie ayam yang sudah lama tak kujumpai, menyiapkan 3 porsi untuk kami dan semuanya gratis! Allah!♥ “Serius, No?” (nama penjual mie ayamnya adalah Yono). “Iya, Mbak. Serius. Kayak sama orang lain aja. Beneran.” Kalau aku menangis kan norak ya jadinya? Akhirnya aku bilang, “Berkah daganganmu ya, No. Sukses. Lancar. Mudah-mudahan makin laris, bisa nambah gerobak. Salam buat anak istrimu.” Yono mengamini.

Sementara krucil bersama opungnya, aku segera berangkat ke lokasi silaturrahim kedua. Studio 21 Depok Town Square. Ini pun mendadak. Aku mengetahui dari linimasa mbak Asma Nadia bahwa ada nonton bareng film Assalamu’alaikum Beijing di 21 Detos pada tanggal 30 Desember itu justru pada tanggal 29 Desember malam hari! Kelabakan, menghitung jarak dan waktu sampai di lokasi yang rasanya mustahil. Tetapi bismillah, aku nekat. Nyatanya, aku baru hadir pukul 14.00 WIB di Detos.

Aku menemui bunda Helvy, menyapanya, dan mengatakan bahwa aku kehabisan tiket. 10 menit kemudian, sebuah tiket pun sampai dalam genggaman. Keajaiban dan berkah kedua. Dzikir syukur itu membuncah dari jiwa. Allah, indahnya mengeratkan kembali hubungan antara penulis senior dan penulis pemula. 😉

Pukul lima sore, aku meluncur ke Cilebut, menuju rumah kang Kemal. Yes, lokasi untuk kopdar dadakan akan diadakan di Bukit Cimanggu City. Meski aku harus merogoh ongkos 2x dari yang seharusnya (dari ceban normalnya, aku membayar 20rb), toh tergantikan dengan lebih dari 15 teman baru yang kudapatkan dan makanan lezat tumpah ruah di sana. Alhamdulillah yaa Allah, berkah dan rezeki ketiga dalam sehari.

Belum cukup cinta Allah, aku diundang untuk menginap di rumah teh Anne. Suatu kehormatan berikutnya. Ada yang aneh. Laptopku tak berfungsi sama sekali. Mungkin pertanda dari Allah, aku harus istirahat. Bukannya malah kerja tengah malam dalam kondisi tubuh dan pikiran sudab di titik nadir. Hihihi…

31 Desember 2014. Depok pada pukul 09.15 WIB. Aku sudah sampai di Detos (LAGI) untuk bertemu dengan teman-teman dari Gerakan Nasional Anti Miras Chapter Depok. Baiklah. Kepagian. Aku bertemu kembali dengan uda Aslim yang sudah 4 tahun tidak berjumpa. Alhamdulillah, melihat beliau masih sehat, senang sekali rasanya.

Kemudian bertemu dengan Topson dan Yessy setelah sekian lama (padahal baru 1 tahunan 😛 ) juga menyenangkan. Diajak sarapan oleh Topson adalah rezeki berikutnya. Kemudian, bertemu dengan uni Fahira adalah puncak dari jadwal di Detos. Selesai shalat Dzuhur, aku segera ke masjid Baitul Ihsan yang berada di kompleks Bank Indonesia Jakarta Pusat.

Tiba di stasiun Gondangdia tepat ketika azan ashar berkumandang. Disambut hujan. Sepertinya, aku harus bersiap dengan segala kemungkinan. Aku merasa, inilah saat ujian itu tiba. Pertama, nyaris sulit mendapatkan bajaj yang bisa sepakat ongkosnya. Setelah mendapatkannya, masih harus terjebak memutar arah dari Kebon Sirih ke Tanah Abang. Sampai aku berpikir, “Bego banget tadi gak turun aja di pintu Kebon Sirih, ya?” Sampai di masjid BI, badan yang mulai terasa gak enak pun tak kupedulikan. Aku terlalu senang bertemu dengan teman-teman lama.

Akhirnya benar tak mengenakkan. Aku tumbang sejak selesai isya. Hingga tengah malam, sakit perut luar biasa. Sekitar pukul sebelas, jackpot dua kali. Luar biasa rasanya. Gemetar. Hasilnya, aku tak bisa khusyuk untuk qiyamul lail yang dimulai pada pukul dua dini hari. 3x absen hanya untuk ke WC. Nyeri seluruh sendi. Menghabiskan empat saset jamu Tolak Angin dalam enam jam. Mantaplah.

1 Januari 2015.

Puncak tujuanku ke masjid BI adalah doa setelah shalat witir. Doa yang sudah kubungkus rapi dalam ingatan dan hendak kulangitkan pada-Nya, nyaris berujung sia-sia. Sebelum akhirnya setengah sadar seperti mau pingsan, aku ingat bahwa aku masih sempat memanggil satu nama. Setelah itu semuanya gelap.

Aku tersadar persis ketika azan subuh terdengar, “Ashsholatu khoirum minannaum…” Dengan tenaga yang sudah tersisa, aku menyempurnakan mabit seadanya. Menangis di akhir doa. Apakah segalanya akan sia-sia hanya karena aku sakit mendadak? Entah.

Sakit fisik ternyata masih bisa kutahan. Ketika aku bertemu dengan seorang ustadz yang sudah enam tahun tak bertemu, hancur lebur semua pertahanan jiwaku. Beliau menanyakan hal yang sangat kuhindari selama ini. Akhirnya aku menyadari satu hal, suatu saat memang harus kuhadapi kenyataan. Pertanyaan itu harus kudengar dan beliau menunggu jawaban. Memaksa dalam pandangan matanya. Aku menjawabnya nyaris tanpa suara. Tercekat. Habis sudah semua kekuatanku.

Aku mencoba beristirahat. Pukul delapan pagi, aku meninggalkan masjid. Kesadaranku hanya setengah. Sambil beristighfar tiada lepas, aku memilih naik TransJakarta dari halte BI ke…Dukuh Atas! Bukannya ke Harmoni untuk langsung ke Lebak Bulus, aku malah berkeliling kota. Dari Lebak Bulus, aku ke Matraman, lanjut ke Kampung Melayu, dan berakhir di Pasar Rebo.

Kebodohanku masih berlanjut. Menunggu bus jurusan Jakarta – Bandung selama sejam tak menunjukkan hasil. Tubuh sudah tinggal ambruknya. Oke, aku memutuskan untuk bergerak ke terminal Kampung Rambutan. Itu pun tak langsung dapat bus. Menunggu sekitar 15 menit, baru bus membuka pintunya. Menunggu lagi 15 menit, akhirnya bus meninggalkan terminal.

Tak sempat kucatat apa nama busnya dan nopolnya. Begitu dapat tempat duduk, aku langsung tertidur. Bangun hanya untuk membayar tiket, tertidur kembali, dan bangun lagi di pintu tol Pasir Koja pukul tiga sore. Selesai? Belum. Aku turun di halte Trans Metro Bandung depan terminal Leuwipanjang, menunggu bus Damri selama… Sejam! Nikmat kan?

Sesampainya di rumah, setelah membereskan tas dan mandi, lalu shalat ashar, kemudian membuka laptop. Gila, emang! Mencoba mengerjakan beberapa tugas yang tertinggal sambil mendengarkan murottal. Selesai isya, aku terkapar dengan kondisi laptop menyala. Aku sudah tak peduli lagi.

———————

Sungguh bukan perjalanan yang mudah untukku. Oh, bukan tentang fisik yang terkuras. Ini tentang jiwaku yang merasakan ada sesuatu. Tetapi, di luar semua itu, aku tetap bersyukur kepada Allah atas satu hari lagi yang Dia berikan padaku. Setiap hari.

Categories: Journey | Tags: , , | Leave a comment

3 Days, 3 Big Cities, Lot of Stories

Benar-benar luar biasa. Semua nyaris keluar dari rencana semula, namun berakhir bahagia dan semua senang 😉

Festival Pembaca Indonesia, Museum Nasional Jakarta, 6-7 Desember 2014.

Festival Pembaca Indonesia, Museum Nasional Jakarta, 6-7 Desember 2014.

Bermula dari niat ingin mensyukuri usia Umar yang baru pada tanggal 7 Desember dan aku harus menghadiri workshop mendongeng dari sahabatku (meski bete banget karena sesi reuninya hanya berlangsung 15 menit, padahal gak ketemunya udah 14 tahun! 😦 ), kemudian aku menjadwalkan HANYA akan pergi pada tanggal 6 Desember sore dan pulang 7 Desember sore. Selesai. Begitu? Gak juga ternyata.

Tanggal 5 Desember sore hari, aku dikabari oleh Esmony bahwa akun Facebook dia bermasalah. Akhirnya, semalaman (selesai pukul dua dini hari tanggal 6 Desember) aku mencoba membantunya menyelesaikan perlindungan ganda untuk akunnya.

Tanggal 6 Desember, seharian aku ada di Museum Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta untuk menemani teman-teman dari Buku Berkaki menjelaskan kepada pengunjung Festival Pembaca Indonesia tentang apa yang disebut BuKi tersebut.

Pulang dari museum pukul empat sore menuju Harmoni dengan berjalan kaki. Baru sampai pengkolan ke arah Jalan Abdul Muis, rasanya sudah setengah mampus. Pegal dan lelah. Hastagah, sepertinya aku sudah renta. Muehehehe….

Tanggal 7 Desember, hari milad jagoan sulungku ♥ nih! Sementara aku harus mengikuti workshop mendongeng, makanya pagi hari aku kembali melanjutkan jadwal di Museum Nasional. Selesai shalat zuhur, aku bergegas menjemput krucil yang nota bene anak-anakku di Depok, dan melanjutkan perjalanan ke Bekasi. Jadi, dalam sehari tiga kota. 😀

Capek? Banget. Seneng? Pastinya! Bertemu sahabat lama, berkenalan dengan teman baru, mendapat buku gratisan, dan semakin dekat dengan Esmony dengan cara yang luar biasa tak terduga dari Allah.

Belum berakhir perjalananku. Catatan ringan lainnya akan terus ada. Sampai tiba saat aku akan menuliskan tentang perjalanan penting lainnya.

Thanked to Allah for everything. So wonderful!

Categories: Journey | Tags: , , , , | Leave a comment

I Am That Diana. Got It?

Ini judulnya rada kepedean sih. Tapi gak masalah. Demi. Demikian. *halah* Sebentar… Aku lagi sedang menyusun mimpi tentang satu tempat.
    London Bridge is falling down
   Falling Down
   Falling Down
   London Bridge is falling down
   My fair lady…

Lagu itu kutahu pertama kali dari kelas beginner les bahasa Inggris 😀 Lagunya asyik banget. Tentunya karena faktor “London” dan “bridge” itu. Seperti apa sih bentuknya? Adanya di mana? Penasaran.

Ini berawal dari pertanyaan sederhanaku ke almarhum Bapak bertahun silam, saat aku masih polos, lugu, dan imut-imut. 😆

“Pak, kenapa nama Teteh bule begini?” Tetapi Bapak hanya diam, tersenyum, dan melirik Mama. Akhirnya, setelah kudesak sambil merengek penasaran, Mama menjawab begini, “Bapakmu itu nge-fans banget sama Lady Diana. Kamu lahir ketika Pangeran Charles mulai dekat dan berencana bertunangan dengan ibu guru itu. Jauh sebelumnya, Bapakmu memang sudah berharap jika anak yang lahir berjenis kelamin perempuan, akan diberi nama Diana.”

ngebayangin saat Diana Spencer menikah di sini...

ngebayangin saat Diana Spencer menikah di sini…

Aku nyengir. Berat bener itu nama. Harapan Bapak adalah seperti ini: aku menyukai anak kecil seperti Diana Spencer yang pernah menjadi guru. Kemudian, ramah dan mudah bergaul. Lalu, hidup bahagia selamanya.

Oh, crap! Bagian itu bikin aku terkekeh. “Pak, tinggal di istana itu kayak dongeng aja deh,” aku menggeleng. Tapi Bapak buru-buru menyanggah. “Hus! Maksudnya gini lho, Teh. Kamu hidupnya yang lurus aja, gak usah pake macem-macem lah. Dinikmati, ya. Sekolah yang bener, kuliah lulusnya tepat waktu, kerjanya juga yang rajin biar naik jabatannya juga mudah.” *glek* Aku kecil hanya bisa nyengir. Tapi kemudian, satu hal yang pasti, aku jadinya NGEBET SETENGAH MAMPUS UNTUK BISA KE BUCKINGHAM PALACE. *catat dalam wishlist*

ada menu sate ayam madura gak saat dinner?

ada menu sate ayam madura gak saat dinner?

Ketika tahun 1997 Lady Di tewas kecelakaan, lumayan sedih juga. Sampe sempet mikir, “Waduh, kakak kembar gue meninggal nih. Gak bisa liat dia wara wiri di tivi lagi dong? Etapi ada anaknya yang ganteng itu yaks?” 😆 Dan hal itu semakin menguatkan impian untuk datang ke ke Inggris. Demi apa? Demi merasakan kesempurnaan menjadi seorang Diana. (oke, ngigo ya? 😛 ) Pengin banget nginjek London trus dengan noraknya bilang, “Aku sudah sempurna menjadi seorang Diana.” *ngakak koprol sepuluh kali lapangan bola Old Trafford*

Oke, apa sih yang bikin aku makin tergila-gila dengan Inggris dan kenapa aku harus pergi ke Inggris??? MANCHESTER UNITED!!! Sejak tahun 1990, tepatnya. Itu saat pertama kali ngerti kenapa 22 orang lumayan bodoh berebutan satu bola yang menggelinding di lapangan segitu luas selama 90 menit dan yang capek sebenernya penontonnya 😆 Kenapa harus MU? Kenapa bukan Chelsea atau Liverpool atau Arsenal? Jujur aja, dulu sih pertama kali alasannya cukup naif: David Beckham! Moahahahahaha… Etapi setelah mempelajari tentang sejarah MU, oke, memang layak didukung lahir batin! Glory Glory Manchester United! \m/

GLORY!!

GLORY!!

Nah, apa lagi?

I got arms that long to hold you
And keep you by my side.
I got lips that long to kiss you
And keep you satisfied, oooh.

Ahahahaha, YEAH! BEATLES!!! Entah karena apa aku bisa suka banget sama Beatles. Faktor Lennon? Faktor McCartney? Faktor lagu-lagunya yang emang bikin aku selalu merasa nyaman? Yang pasti, ini karena Bapak dan Mama dulu suka ngajak aku ngobrol soal kwartet Inggris ini, terutama faktor Yoko Ono itu lho, dan akhirnya bikin aku penasaran untuk muterin lagu Beatles pertama kali…. Lagu “Yellow Submarine.” Salah lagu deh. Aku gak begitu klik ketika pertama kali mendengarnya. Ah, tapi sutralah. Oh ya, aku ingat di kelas les bahasa Inggris, ada sesi menghapal lagu “Yesterday”. Entah kenapa lagi, lagu ini yang bikin aku makin penasaran dengan Inggris. Lagu mellow yang bikin aku gak berhenti berkhayal… Kapan ya ke Inggris?

ngimpi ngerasain nyeberang di sini :D

ngimpi ngerasain nyeberang di sini 😀

Robin Hood (oh, he should be my real hero, then), Thames River, Big Ben, Sherlock Holmes, Harry Potter (ehm, aku gak harus nyungsep nyasar di Platform 9¾, kan?),  daaaaaaaaaaaaaaaannn…. Pangeran William! Eh, aku punya kesempatan bertemu “anakku” gak? *ditimpuk pakai mahkota ratu* 😛 Hey, because am that Diana. Rite? No! 😛

Kenapa aku harus ke Inggris? Karena ingin belajar berbahasa Inggris sesuai aksen aslinya yang seksi itu. Selama ini kan aku ngoceh dengan gaya Paman Sam. *sok iye* Dan tentu saja sekali lagi, demi penyempurnaan jati diri. Oke, ini memang sotoy. Ini pasti dibilang gila dan lebay. Tapi karena ada “sesuatu” di sana yang membuatku harus ke sana. Namaku berasal dari seseorang yang pernah hidup di London. Seperti harus menuntaskan satu keping puzzle yang tersisa, eh? *drama dimulai!* Well, am a full time dreamer, for sure.

Tulisan ini sangat singkat dan semua bagiannya hanya menampilkan satu titik dari setiap tempat yang ingin aku satronin. Gak bakalan kutulis lengkap dengan amat sangat detail seolah pernah ke sana. Itu sih tinggal colek om Gugel ajah. Nanti, setelah aku benar telah menginjakkan kaki di Inggris, baru kutulis dengan rinci dan sepenuh cinta. *halah banget* Loooohh.. Iya dong, kalau menulis langsung dari lokasinya, akan terasa berbeda tulisannya.

Hidup itu dimulai dari sebuah impian. Untuk bisa lebih menikmatinya, coba ambil sebungkus camilan. Sensasi kriuknya bikin ketagihan, kan? Iya, begitu pula dengan satu mimpiku. GO TO ENGLAND TO FEEL BEING THAT DIANA EVEN FOR A MOMENT. 😉

Categories: Plan To Go | Tags: , , | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.