Posts Tagged With: Wisata Kuliner

Rindu yang Tertinggal di Bayan Lombok

Berkunjung ke daerah lain selalu menyisakan kenangan. Iya, pastinya. Terutama yang berurusan dengan perut.Ā šŸ˜‚Ā Ojelaassss….

Jadi, perjalanan kali ini menuju daerah tengahnya Indonesia, tetangganya Bali. Tepatnya ke Lombok. Uwow, akhirnya nyampe juga ke Lombok. Apa yang ada di bayangan orang? Pantai Senggigi yang eksotis, Gili Trawangan yang romantis, Gunung Rinjani yang magis, atau ayam taliwang yang pedas manis? Saya gak punya semua bayangan itu.

Meski sering memikirkan akan pergi ke Lombok suatu saat, tapi karena mintanya ke Allah kurang spesifik alias, “Bagian mana aja yang penting Lombok.” membuat saya akhirnya mengikuti garis takdir ke daerah Desa Senaru Kecamatan Bayan di Kabupaten Lombok Utara. (Tuh, makanya kalo doa yang jelas dan detil supaya hasilnya juga sesuai harapan, An!)

Etapi… Etapi… Takdir kali ini berbuah manis loh. Asli gak nyesel. Iya, emang gak Gili Trawangan, tapi dapatnya pemandangan yang membuat saya tersadar tentang makna bersyukur yang sesungguhnya. Iya, emang gak ke Pantai Senggigi, tapi tetap sampe juga ke sebuah pantai indah nan sepi dan cakep. Deburan ombaknya mistis dan syahdu.

Kuliner sih jangan ditanya, hampir setiap hari mendapat makanan khas Lombok yang… pedaaaassss… Sampe bibir jontor. (oke, ini lebay).

ngajak Cleo berkelana

Ngapain di Lombok?

Pastinya bukan jalan-jalan ala-ala deh. Ini amanah dari Yayasan Gema Masjid. Jadi, saya pergi ke Lombok dalam rangka jadi sukarelawan, gak jadi turis. Inshaa Allah pankapan jadi turis deh ke sananya. Yah? Iya. Sama siapa? Sama trio hensem kesayangan saya dong.

BerhubungĀ moodĀ  sohib gokil saya, Bune Vei, lagi ilang di planet lain dan belum dikembalikan ke planet Bekasi, yodah, mungkin bakalan lama nungguinnya. Padahal kangen cekikikan di sepanjang jalanĀ backpackingĀ bareng.

Selama 5 hari di Lombok, saya banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Seru!

Akhirnya merasakan juga September ceria seperti lagunya Tante Vina. (Tua lo, An!) Keriaan bersama anak-anak penduduk asli Suku Sasak Bayan dan beberapa pendatang itu ternyata membekas dalam hati saya.

Menikmati Rute Perjalanan

Perjalanan Datang

Saya yang norak karena sama sekali belum pernah ke Lombok, benar-benar terpana sepanjang jalan dari pintu keluar Bandara Internasional Lombok sampai ke lokasi Pos Koordinasi GEMAS.

Begitu kaki menjejak di pintu keluar bandara, disambut oleh ustaz Alif, salah satu pengurus GEMAS yang sudah bertugas sejak tanggal 1 September 2018. Bawa mobil apa? Tronton! Eh, salah. Mobil bak terbuka, pemirsah! Wow, saya sih senang. Dengan suka cita naik mobil bagian baknya langsung semangat. Duduk duluan, cari posisi enak. Hahahaha.

sudah siap lansung naik baknya ituh.

Pemberhentian pertama, di sebuahĀ money changer.Ā Gaya, salah satu penduduk yang ikut bersama tim Gemas ternyata seorang pemandu para pendaki gunung, terutama bule. Dia cerita, tamu terakhirnya adalah orang berkebangsaan Prancis. Uwow. PantesĀ fee-nya dolar.

makan siang dulu gaes

Pemberhentian berikutnya tentu saja ke rumah makan. KuduĀ lunchĀ supaya waras lah dikit. Heuheu. Ayam taliwang lah pastinya. Itu mah wajib, keleus. Jadinya, semua tim makan menu internesyenel itu. Saya sebenarnya pingin makan bebalung, tapi gak bisa. Dimasaknya lama. Oh, berarti gak adaĀ ready stockĀ nih. Yowes.

Lanjutkan perjalanan ke Kota Mataram. Sepanjang perjalanan, sempat hujan dan harus mengintip dari balik terpal. Hujan reda, muncul pelangi. Indah banget! Mashaa Allah, dikasih sambutan hujan dan pelangi itu sesuatu. Rahmat Allah cantik banget yaaaa…

under the rainbow

Selesai belanja di Cakranegara beberapa kebutuhan selama di tenda relawan, lanjut lagi jalan. Menemukan banyak monyet di pinggir jalan di daerah Baun Pusuk itu sesuatu. Saya kaget. Wah, menjelang magrib dikasih pemandangan unik lagi. Pun begitu ketika melewati jalur sepanjang pantai di daerah Tanjung. Ya Allah, sudah gelap, pantai dan lautnya gak keliatan. Debur ombaknya aja yang kedengeran…

Tiba di Kayangan, tim Gemas diundang istirahat dan salat di posko komunitas Wahana Muda Indonesia. AlhamduliLlah, kesempatan pertama ngopi khas Lombok. Yay! Senangnya. Lanjut lagi mampir sebentar beli sate ayam untuk makan malam.

Sampai di Desa Senaru sekitar pukul 10 malam. Lumayan perjalanan lebih dari 8 jam (karena kepotong belanja dan silaturrahim plus istirahat) tapi alhamduliLlah selamat. Sudah ditunggu makan malam khas Lombok.

Perjalanan Pulang

Waktu pulang, mobilnya beda. Pakai Avanza. Saya berharap baik-baik saja. Ternyata rada kliyengan pusing sepanjang jalan. Maulana berbisik, “Mendingan naik bak terbuka deh, Bun.” Saya mengamini. Anak kampung banget ya kami berdua? Hahahaha.

Ketika melewati daerah Tanjung lagi, kami menyempatkan diri ke pantai. Sebentaaaaarrrr aja. Entah pantai apa namanya, sepi banget. Ombaknya kecil. Pasirnya hitam mengilat. Seperti biasa, saya mengukir grafiti. Hehehe.

rindu terukir di Lombok

Tiba di Kota Mataram, setelah ikut survei mencari alat dan bahan untuk digunakan di Senaru, kami makan siang dulu. Lagi-lagi saya kurang beruntung. Tidak mendapatkan menu bebalung. Sebagai gantinya, saya menikmati kelaq kelor.

Setelah itu lanjut ke pusat oleh-oleh. Bu Andini ngeborong banyak banget. Saya cukup beli gantungan kunci. Menyesal tidak beli langsung dari pengrajin di Senaru. Alif sih, gak ngasih tau. (trus nyalahin orang.šŸ˜…šŸ˜‚)

Di bandara, lagi-lagi Bu Andini belanja. Saya dan Maulana duduk manis menunggu transaksi selesai. Udeng harganya mahal ya? Tapi emang bagus. Makanya Maulana mau jadi modelnya.

slayer yang dipakai Maulana beli langsung di desa.

Akhirnya saya kembali ke Bandung bersama Maulana. Naik pesawat yangĀ delay sekitar 20 menitan. Perjalanan sempat terganggu dan kami diminta menggunakanĀ seat beltĀ ketika pesawat berada kira-kira di langit Jawa Timur. Hadeh, padahal baru terbang. Maul langsung tilawah sementara saya tak henti berzikir. Kepasrahan kepada Allah itu nomor satu dan satu-satunya.

Landed at Husein. Alhamdulillah. Safe and sound.Ā Meski sempat dihantui drama ketakutan ojek daring, akhirnya diterima setelah ditolak 3x. Ampun dije!

Kuliner Lombok

Nah ini bagian enaknya. Emang!

ayam taliwang

MenikmatiĀ ayam taliwang tentunya menjadi tujuan hampir semua turis yang datang ke Lombok ya? Bahkan Maul pun memohon dibawakan menu femes ini ke posko.

Siapa doyan kangkung? Siapa belum pernah makanĀ pelecing kangkung? Tumis kangkung mah sering di Bandung juga. Tapi kan beda bumbunya, malih. Makanya justru yang diincar adalah bumbu pedas merah moronyoy itu, pemirsah. (maafkan fotonya buram, keburu laper. iyes)

pelecing kangkung

Jukut komak atau sayur bening seperti sayur asem itu terhidang saat malam sudah pekat. Saya menyantapnya dengan suka cita. Sayangnya, lupa difotoin. Udah kelaperan. Hihihi.

Ada lagiĀ jangan, yaitu sayur tempe berkuah santai encer dan agak pedas. Tidak ikut difoto, karena pas makan malam, batere hape saya habis.

nah ini penampakan sayur daging itu. kalo udah dingin, lemaknya membeku semua

Nah, ada satu bentuk sayur daging tapi saya gak tau namanya apaan. Enak lah pokoknya mah. Manis gitu, gak pedas.

Tidak lupa denganĀ beberuq terong, lalapan khas Lombok yang ternyata endeus pisan. Potongan terongnya seperti korek api dengan potongan kacang panjang dan sambal pedas tentu saja. (penampakannya ada di mangkuk kecil di piring ayam taliwang)

kelaq kelor di mangkuk kecil hijau itu

Satu lagi adalahĀ kelaq kelor, sayur bening seperti sayur bayam tapi menggunakan kelor itu bikin adem tenggorokan. Potongan jagung manisnya menambah selera. Nyam!

kopi hitam lombok nan femes

Naaaahh… Minumnya sudah pasti kopi! Hahaha. Kalau bisa sih jangan pakai gula lah. Kecuali es kelapa mudanya, boleh deh pake sirop dikit. Mending petik langsung dari pohonnya. Yekan? Yeeeee… Hihihi… PenampakanĀ green beansĀ yang menggoda hati itu terbayang-bayang di mata. Betapa nikmat kalau sudahĀ roastedĀ dan siapĀ grindingĀ kemudian… seduh!

Jadi, begitulah cerita singkat tugas ke Lombok Utara. Sejenak saja, tapi berkesan dan terkenang hingga akhir usia. Syukur itu bentuknya beragam. Termasuk kisah tawa canda bersama naga-naga di perut yang girang dapet kuliner Lombok. Heuheu.

 

Salam!

Advertisements
Categories: Journey | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Cirebon 24 Jam, Musim Mudik 2018

Mendadak ke Cirebon. Again.

Gak niat. Apalagi mikir mudik persis hari lebaran. Duh, udah berapa abad rasanya gak mudik ke / dari Cirebon. Jadi, serius gak kebayang juga akan kembali ke Cirebon di kondisi tak terduga: Hari kedua Idul Fitri. Itulah yang terjadi. Pukul 9 pagi tanggal 16 Juni 2018 dapat kabar duka, pukul 10 galau memutuskan pergi atau gak, pukul 11 mandi, pukul 12 baru pesan kursi travel, pukul 13.30 sudah duduk manis di mobil menuju Cirebon lewat Tol Cipali.

Izin ke #MyA, izin ke tetangga titip rumah, dan nulis catatan untuk krucil, langsung berangkat. Sampe gak sempet mikir harus bawa apaan lagi. Seadanya di daypack pindahin ke carrier, dah.

Sampai pool Sangkuriang Bhinneka di Jalan Pilang Raya, napas bentar sambil ngecas ponsel karena power bank ketinggalan. Iye, namanya juga rusuh pas berangkat.

Pukul 5 sore sampai di rumah duka, stay sampai sekitar pukul 9 malam. Kemudian, inilah bagian yang lumayan horor. Eh, lebay itu mah. Seru, tegang, dan bikin sedikit senewen tapi tetap harus tertawa. Apa coba?

Berdua Bayu, teman saya dari Purwakarta yang sedang mudik ke Indramayu (mbulet), keliling Cirebon (almost literally) mencari penginapan. Hey, hari lebaran kedua, malam Minggu pula. Sudah cukup ngeri ya, salah waktunya? Iya.

Dimulai dari Jalan Rajawali, kemudian menyusuri jalanan sampai ke Cipto, Tentara Pelajar, belok ke mana lagi entah. Gak inget. Pastinya sampai ke Jalan Moh Toha (sambil ngarep kedai bubur lejen di sana sudah bukašŸ˜‚), Samadikun, Jalan Bahagia, kemudian daerah Pecinan yang tak banyak berubah dari dulu, lanjut ke Kesambi, Pangeran Drajat, Ahmad Yani… Serius, ini keliling Cirebon sampai nyaris tengah malam.

Bahkan lewat Jalan Cipto sampai balik tiga atau empat kali. Luar biasa ya senewennya mencari penginapan buat seorang backpacker? Mulai hotel bintang 3 sampai losmen dan guest house. Semuanya menempelkan kertas pengumuman ala kadarnya: KAMAR PENUH / KAMAR FULL / FULL BOOKED. Saya dan Bayu tertawa perih. šŸ˜…

Berhubung memang rasanya nyaris mustahil, sambil kami berdua nyeletuk, “Kalau lagi dicari, pasti gak ketemu. Giliran ntar dapet kamar, taunya ada yang better. Ngeselin. Iya.” Ya, benar. It happened. Saya bilang pada Bayu, “Kalau yang terakhir ini gak nemu, aku ngemper aja di Masjid Agung lah. Kagok.” Bayu tertawa.

Akhirnya jalan ke Tentara Pelajar sekali lagi dan belok di sebuah jalan kecil di seberang Grage Mall. Kami menemukan Hotel Nusantara. Saat itu pukul 23.25 WIB. Pikiran sudah letih. Tersisa 1 kamar ekonomi dan 1 kamar standard. Berhubung keesokan paginya juga sudah check out, saya memutuskan ambil kamar ekonomi itu. Letaknya di ujung lorong.

Saya mengiyakan karena sudah lelah mencari. Gak juga. Karena gak enak sama Bayu, tepatnya. Bayar di muka dan simpan KTP, kemudian masuk ke kamar. Saya membereskan tas dan langsung keluar kamar lagi untuk cari makan malam yang kemalaman. Whoah.

Baru saja masuk Jalan K.S. Tubun, kami menemukan satu penginapan lucu yang tampaknya masih kosong. Kami berdua tertawa. “Tuh, kan? Apa dibilang? Giliran gak dicariin, keluar semua deh.” šŸ˜†Ya sudahlah ya.

Menu tengah malam

Sega jamblang never fails me.

.

Akhirnya kami istirahat di seberang Pasar Pagi, Jalan Siliwangi. Malam hari, sepanjang emperan toko terdapat beberapa pedagang sega / nasi jamblang. Kami memilih salah satu tongkrongan yang mendapat lampu paling terang. Makan malam seharga Rp23,000.00 berdua itu belum usai.

Pingin ngopi. Tapi di mana, malam mingguan dan hari kedua lebaran? Sulit. Apalagi jelang tengah malam. “Teh, cuman ada di Upnormal ini,” kata Bayu. Saya jawab, “Jauh-jauh dari Bandung, mentoknya ke Upnormal? Di Ujungberung juga ada.” Kami tertawa, tapi akhirnya mencoba ke sana, setelah kedai Ningkene di Tentara Pelajar sudah tutup persis ketika kami ke sana pukul 23.00 WIB.

Energi dan nyawa tinggal 5%. Mari ngopi midnite.

.

Di Upnormal Jalan Cipto, saya bertanya pada petugasnya, tutup jam berapa? Dijawab, “Last order jam 12, tutupnya jam 1, Mbak.” Baiklah, masih ada waktu sekitar 1.5 jam. Sayangnya, kami hanya bisa memesan kopi tanpa makan (padahal masih lapar) karena semua menu makanan sudah dicoret oleh waiter. Pedih.

Tak mengapa. Kami memesan es kopi, ngobrol sebentar. Sementara saya memindahkan media ke GDrive (terima kasih kepada Wi-Fi haratisan šŸ˜‚) dan keluar dari Upnormal pukul 12.45 WIB. Saatnya kembali ke penginapan.

Gerahnya udara di Cirebon membuat saya tidak bisa tidur dengan baik. Pukul dua dini hari baru bisa memejam dan itu pun hanya tidur ayam karena tak nyaman. Lepek. Bangun pukul 04.30 menjelang subuh. Menunggu bak mandi terisi kembali, kepala saya berdenyut karena kurang tidur. Ditambah dengan kulit yang gatal karena keringat.

Hotel Nusantara tampaknya sedang direnovasi.

Kamar tidur selama 10 jam.

.

Selepas mandi, merapat ke seberang Grage yang lain, yaitu mencari sarapan empal gentong! Yay! Berhubung yagn diincar sudah mengantri panjang, saya memutuskan ke tempat yang tidak penuh. Saya butuh khusyuk sarapan setelah semalaman energi habis tak karuan. Pembenaran, emang.

Empal gentong non kolesterol. Katanya.

.

Bertemu salah satu kawan lama di Pasar Gunung Sari, ngobrol sebentar, kemudian kembali ke penginapan untuk bersiap check out. Lanjutkan perjalanan kembali ke rumah duka di perumnas burung. Di sana saya menghabiskan waktu sampai menjelang asar. Bertemu teman-teman SMA, guru SMA, teman kantor almarhum Mama, dan menikmati sega jamblang lagi.

Persis asar, saya dijemput Bayu lagi untuk merapat ke Jatiwangi Majalengka. Sekalian jalan. Di Plered, kami makan siang kesorean dan saya membeli kerupuk mlarat untuk dibawa ke Bandung.

Kerupuk melarat, camilan hakiki.

.

Di Jatiwangi, silaturrahim sambil ngobrolin pemancingan. Seru juga. Sekalian magrib di sana. Sekitar pukul 7 malam, kami pamit. Bayu mengantarkan saya pulang sampai dapat bus. Tapi nyasar dulu ke Majalengka dan ujungnya ke Kadipaten juga. Yha, pegimane dah.

Sekitar pukul 21.00 WIB, bus Sangkuriang-Bhinneka jurusan Cirebon – Bandung lewat Kadipaten juga. AlhamduliLlah, bisa pulang. Saya pamit pada Bayu yang akan kembali ke Indramayu. Luar biasa perjalanan kali ini.

Tiba di Bunderan Cibiru persis pukul 12.05 WIB. What a journey.

Categories: About Traveling / Backpacking, Money and Budget | Tags: , , , , | Leave a comment

Berani Mencoba Cokelat Tadulako Khas Palu?

TADULAKO COKELAT : PILIHAN TEPAT BUAT YANG BERANI

Sekilas Tentang Tadulako Cokelat

Tadulako nama seorang pahlawan dari Sulteng yang namanya diabadikan menjadi nama universitas di kota Palu.

Pertama kali buka pada tahun 2012. Tadulako Cokelat adalah Industri Kecil Menengah (IKM) yang lahir karena sang pemilik melihat peluang usaha dari bahan baku cokelat yang melimpah di Kota Palu.

Pada awalnya Tadulako Cokelat adalah produk tiruan dari produk cokelat yang sudah ada di pasaran. Meniru 100%, produk lain ganti kemasan, Tadulako Cokelat pun ikut ganti. Produk lain punya logo, tadulako ikut buat logo. Semuanya tanpa konsep dan strategi yang jelas. Hanya memikirkan yang penting punya produk dan bisa jualan.

Namun ternyata, menjadi follower atau produk me-too, itu sangat melelahkan. Tanpa diferensiasi produk maka sangat sulit untuk bersaing dengan produk sebelumnya yang sudah punya market dan pelanggan. Dari sinilah kemudian, Nadira A. Pallawa sebagai pemilik mulai mencari cara agar Tadulako Cokelat bisa memiliki keunikan tersendiri dan membedakannya dengan produk cokelat lain yang sudah ada.

Untungnya, pada bulan Maret 2017. Nadira Andi Pallawa berkesempatan untuk belajar Bisa Bikin Brand yang diadakan oleh Pak Bi di Kota Palu. Akhirnya Tadulako Cokelat mulai berbenah. Target market mulai dipetakan, produk diperbaiki, dan lain-lain, hingga lahirlah tagline dan positioning baru.

Tagline Tadulako Cokelat

Tagline /Slogan dalam brand canvas terdapat pada urutan 14, artinya untuk bisa mencapai tahapan tersebut tadulako cokelat harus dan telah melewati tahapan-tahapan 1- 13. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa membuat tagline itu memang tidak boleh asal, asal enak didengar, asal enak diucapkan.

Dulu Tadulako cokelat beberapa kali berganti-ganti tagline. Pernah slogannya “find the delight of chocolate”, “Rajanya Cokelat Sulteng”, “Make your days always happy“. Semuanya dibuat secara asal saja, yang penting enak didengar dan enak diucapkan. Alhamdulillah kelelahan itu berakhir seiring dengan selesainya branding canvas Tadulako Cokelat dikerjakan.

Tagline/slogan Tadulako Cokelat saat ini adalah :
” PILIHAN TEPAT BUAT YANG BERANI ”

(narasi di atas diambil dari materi kulgram dengan sedikit penyuntingan)

choco bar

Kulgram dan Kuis

Setelah kulgram (kuliah telegram, karena diadakan di platform Telegram) dari Kak Nadirah selesai, diadakan kuis yang terlihat sederhana tapi menantang kepekaan menulis. Saya merasa tertantang dan akhirnya ikutan menjawab pertanyaan, “Apa positioning Tadulako Cokelat?”

Jawaban saya seperti ini –> Positioning Tadulako : cokelat khas Palu yang pahit membuat penikmatnya menjadi berani bergerak/bertindak.

AlhamduliLlah, jawaban ini menjadikan saya pemenang kuis dan mendapatkan hadiah sepaket Tadulako Colekat. Yaaaaayyy… Saya menerima 4 varian Tadulako Cokelat yaitu : Milk Chocolate with Cheese, Milk Chocolate with Raisins, Chocolate Dates, dan Praline Box dengan aneka isian.

candy box

Berani Memilih dan Menikmati Pilihan

Setelah paket hadiah tiba, yang saya lakukan adalah memilih, mana yang akan dicoba terlebih dahulu? Bahkan anak saya pun memilih.

Si sulung memilih Milk Chocolate with Cheese, sementara si bungsu memilih Milk Chocolate with Raisins (dan ini merupakan prestasi, dia menghabiskan semua anggur keringnya! biasanya pasti dipisahkan dan diberikan kepada orang lain. Saya, memilih Chocolate Dates. Kami sepakat menyimpan Praline Box sebagai kejutan di akhir.

Keju dalam bungkus cokelat yang dipilih si sulung terasa asin gurih khas keju premium. Enak banget. Sementara anggur kering yang dipilih si bungsu pun tidak terasa pahit sehingga dia mau memakannya. Kenikmatan kurma di setiap gigitan cokelat pilihan saya membuat varian ini menjadi favorit.

Untuk Praline Box… Hmmm… Nanti ah. Saya simpan untuk dinikmati di saat yang paling tepat.

choco balls

Memang benar, cokelat adalah mood booster paling tepat untuk saya, terutama. Salah satu makanan dewa dan super food yang menyehatkan. Camilan bikin gemuk? Kuna ah. Coba deh Tadulako Cokelat. Gak bakalan bilang nyesel. Pasti mau lagi. Kelak saya ke kota Palu, Tadulako Cokelat akan menjadi pilihan untuk dibawa pulang ke Bandung.

Salam!

Ikuti Tadulako Cokelat di Instagram Tadulako

Blog sederhananya juga bisa diintip di Tadulako Cokelat

Silakan hubungi WA 081354534745 untuk informasi dan diskon pemesanan.

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Toko Sidodadi dan Roti Legenda

Siapa yang masih suka makan roti untuk sarapan, ngemil, atau teman di kala mengerjakan deadline kerjaan menggunung? Saya! Saya!

Mari ke Jalan Otto Iskandardinata nomor 255, tak jauh dari Alun-alun Bandung dan Pasar Baru. Saya lebih suka berjalan kaki ke Toko Sidodadi ini kalau sengaja ke sana. Arahnya dari halte Alun-alun, turun dari bus Trans Metro Bandung (hampir dari berbagai jurusan, mulai Leuwipanjang, Cicaheum, Kota Baru Parahyangan, dan Cibeureum).

Temukan sebuah toko kecil (dan semakin sempit berjejalan ketika para pembeli dan pelanggan mampir ke sana) yang mulai dibuka tahun 1954 dengan plang bertuliskan warna merah: Toko Sidodadi. Silakan tanya warga Bandung tempo doeloe, siapa sih yang gak kenal dengan toko ini?

Toko Sidodadi

Mau tau apa keunikan Roti Sidodadi yang legendaris ini? Cara memasaknya memakai arang sebagai bahan bakar, makanya aroma yang menguar dan menggoda indera penciuman itu menjadi khas. Istimewanya lagi, selain manual dengan tenaga tangan karyawannya, Roti Sidodadi sama sekali gak pakai pengawet, jadi ya gak akan tahan lama.

Eh, emang bener, gak tahan lama. Baru masuk display juga udah abis aja lagi.

Pembeli roti Sidodadi (yang pakai tas biru itu teman saya)

.

Tak pernah sepi pembeli. Terlambat sedikit, roti incaran habis diborong orang lain. Bahkan, ketika saya dan teman ke sana tanggal 29 Maret 2018 lalu, satu buah roti keju menjadi rebutan. Seru, kan? Jadi bener kan ya, Roti Sidodadi emang gak pernah awet. Kesel, kan? Telat dikit, bye bye roti Frans Keju favoritnya akoohhh…. *drama dimulai.

Roti Sidodadi habis

Roti-roti kecil cepat habis. Tersisa jenis Frans Cokelat yang memang disediakan banyak stoknya. Kalau beruntung, dapatkan roti yang hangat pada pagi hari ketika toko baru buka atau sore sekitar pukul 4 sore. Roti krenten (kismis), pisang, sarikaya, strawberry, smoked beef, sosi, atau kacang memiliki penggemarnya sendiri. Kamu gak akan pernah dikecewakan oleh rasanya, apapun pilihanmu. Serius.

Harga Roti Sidodadi

Setidaknya harga tercantum ini adalah yang terbaru di sana saat saya berkunjung tanggal 29 Maret 2018 sehabis berkegiatan di Masjid Raya Jawa Barat. Tapi harga ini sama sekali bukan masalah bagi para penikmat roti. Temani dengan segelas kopi atau teh panas pahit, nikmati sebuah rasa yang akan terus tinggal di hatimu.

bungkus plastik roti

Kamu akan merasa terseret ke masa lalu sejenak ketika menerima pembungkus rotinya yang beneran desain jadul. (((Jadilah peserta KB lestari))) <— ini iklan zaman dulu sampai sekitar awal 1990an. Anak zaman now dijamin bingung deh.

Toko Sidodadi juga menyediakan aneka kue basah / jajanan pasar khas Bandung, loh. Jadi, sekali jalan, kamu bisa dapatkan camilan pilihan. Lumayan buat teman sepanjang perjalanan pulang ke kotamu, kan?

 

 

TOKO SIDODADI

Jl. Otto Iskandardinata (Otista) No. 255

Google Map

Categories: Journey | Tags: , | Leave a comment

Wedang Uwuh Bantul Jogja

Berbicara minuman khas daerah di Indonesia, sepertinya tak akan cukup waktu seminggu. Dari ujung Aceh hingga ujung Papua, akan mendapati banyak minuman istimewa yang memperkaya khazanah kuliner Indonesia. Salah satunya, wedang uwuh Bantul Jogjakarta.

Wedang uwuh Bantul

Wedang Uwuh

Jadi gini, dalam bahasa Jawa, uwuh artinya sampah. Maka, wedang uwuh adalah wedang sampah. Wedang uwuh ini terbuat dari berbagai jenis herba seperti jahe, secang, kayu manis, sereh, daun jeruk, dan dedaunan lain tergantung siapa yang meraciknya. Saat diseduh, sisa ampas atau bahan-bahan minuman ini nampak seperti sampah. Warna air seduhannya pinky gitu. Kayak sirop favorit saya. Hihihi. Warna ini asalnya dari serutan secang.

Efek baca tulisannya Dipa tentang aktivitas para ibu PKK di Pager Gunung Jogjakarta, saya penasaran dengan aneka jamu yang ada dalam artikel tersebut. Ditambah japrian Dipa via Instagram, makin semangat untuk mencoba wedang uwuh tersebut.

Ada lebih dari 5 macam rempah dalam satu resep / satu porsi sajian wedang uwuh. Tetapi ada juga yang sampai menambahkan sekitar 7-10 macam rempah. Semakin lengkap, semakin sehat dan unik rasanya. Mungkin. Hahaha belum coba yang versi banyak rempah.

Rasa manis pedasnya ini lho yang unik. Kalau sedang musim hujan, rasanya sudah pas banget deh menyeduh wedang uwuh. Ketika musim kemarau, tinggal tambahin es batu dan susu cair. Kebayang enak dan segarnya?

wedang uwuh produksi ukm bantul

Pelestarian Kuliner Sehat

Bicara kuliner gak melulu soal makanan (apalagi saya tukang makan, hihihi), karena pastinya akan menyebut minuman sebagai pendamping. Seperti saya di Bandung selalu minum bandrek atau bajigur, atau ketika ke kampung Bapak di Madura pasti disuguhi air cengkeh. (apa ya namanya, pokoknya air putih biasa tapi dikasih daun cengkeh, jadinya berasa nyes di tenggorokan. trus saya ngebayangin ngerokok gitu ya? ih, saya mah gitu). Pokoknya minuman biasa, bukan yang Kobbhu’, yak. Beda banget.

Nah, cengkeh yang saya ributin itu ternyata memiliki khasiat mengatasi sakit gigi, sinusitis, mual dan muntah, kembung, radang lambung, rematik, campak, dan lainnya.

Wedang uwuh ini konon diracik oleh abdi dalem keraton yang sedang mengumpulkan dedaunan yang tampak tidak bermanfaat itu. Padahal, salah satu bahan wedang uwuh itu adalah pala yang memiliki kandungan berupa saponin, flavonoid, dan polifenol yang sangat bermanfaat untuk melancarkan menstruasi, melancarkan sistem pencernaan, menghilangkan nyeri, meredakan perut mulas, mengatasi penyakit lambung, serta melancarkan sirkulasi darah. Keren kan, ‘sampah’ ini?

Belum lagi secang, biang pembuat warna pinky yang menggoda itu ternyata bermanfaat untuk mengatasi berbagai jenis penyakit seperti batuk darah, sifilis, dan peradangan. Wow! Eh, tambahan lagi, kayu secang juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh, sebagai antioksidan, antikanker, dan melegakan pernafasan. Sehat itu murah ternyata ya.

Apalagi ngomongin jahenya. Sehatnya pasti, kan? Menghangatkan tubuh, mencegah masuk angin, plus menurunkan kolesterol. Plus berikutnya? Mengendalikan tekanan darah tinggi.

Pelengkap yang membuat wedang uwuh menjadi semakin nikmat adalah kehadiran gula batu. Iya, gula batu. Jadilah sebuah minuman manis, enak, hangat, dan sehat. Jangan pakai gula pasir ya? Iya, nurut aja.

bahan wedang uwuh

Cara Membuat Wedang Uwuh

Tergantung seperti apa wedang uwuh yang dipakai. Ada yang asli berbentuk ‘sampah’ dedaunan, biji, dan kayu. Ada pula dalam bentuk teh celup. Bahkan ada yang sudah berbentuk bubuk instan.

Saya memilih yang murni. *halah…

Maksudnya, saya memilih yang masih berupa rempah utuh tetapi cepat saji, tanpa perlu direbus. Seperti kemasan yang saya dapatkan dari Dipa ini, saya hanya memerlukan waktu 2 menit untuk menyajikannya (karena nungguin air mendidih).

Satu bungkus wedang ditaruh di dalam mug (biar puas minumnya). Masukkan gula batu. Jahenya digeprek supaya lebih endeus aromanya. Tuang air panas (saya pilih mendidih) dan diamkan sekitar 5 menit (gelasnya ditutup).

Siap diminum deh! Sebaiknya jangan diminum sendirian. Anyep. Mending sama pasangan. Supaya bisa saling menghangatkan. Heuheu.

Selamat menikmati wedang uwuh ya. Bisa dipesan di beberapa marketplace langganan loh. Atau, bisa langsung pesan ke Dipa di nomor 0856 2921 871 (sekalian kalau ada yang mau pesan rempah lainnya juga). Selamat melestarikan kuliner khas Jogja dan merasakan khasiatnya dalam tubuh. Serius, sehat itu ternyata murah. Sakit yang mahal.

Salam!

Categories: Journey | Tags: , , | 3 Comments

5 Tempat Ngopi Asyik di Bandung

Apa yang kamu pikirkan jika mendengar kata “ngopi asyik di Bandung”? Nongkrong bareng teman, gebetan, atau kolega bisnis? Pagi, siang, sore, malam, kapan pun kamu mau, sekarang di Bandung bertebaran kedai kopi dengan berbagai interior menarik, pilihan biji kopi favorit, sampai harga yang bervariasi. Oh, jangan lupa! Lokasi asyik sesuai selera.

Saya lupa kapan persisnya tempat ngopi gaul ini mulaiĀ booming di Bandung. Saya sendiri baru pindah keĀ Bandung, jadinya masih gak ngeh di mana saja lokasinya.

Continue reading

Categories: Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Sajian Khas Sunda di Kelapa Lagoon Bandung

Kamu hobi berwisata kuliner? Sedang berada di Bandung? Bingung karena kebanyakan rekomendasi dari sana sini? Silakan cek Kelapa Lagoon, restoran dengan menu khas Sunda dilengkapi suasana lembur kuring yang nyaman, sejuk, dan bikin betah berlama-lama. Bawa perut kosong kalau ke sini.

Kelapa Lagoon Bandung

Kelapa Lagoon

Saya mendapat kesempatan untuk menikmati suasana Kelapa Lagoon Bandung yang baru (setelah direnovasi) pertengahan Februari 2017 untuk menikmati menu Tumpeng Pelangi Mini (yang belum ada di menu saat saya ke sana) dan dibuat takjub olehnya.

Continue reading

Categories: Journey | Tags: , , | Leave a comment

Wisata Kuliner Cirebon – Sesuap Kenangan Masa Kecil

Kembali ke Cirebon, artinya memuaskan rindu pada aneka makanan lezat, yang justru didapatkan di pinggir jalan atau kedai sederhana, bukan restoran atau masuk mall. Setidaknya untukku.

Tanggal 29 – 31 Juli 2016 lalu, saya pulang ke Cirebon dan kali ini bersama anak-anak. Janjian dengan sahabat tercinta Vei dan anaknya Air, berharap perjalanan kali ini akan penuh kenangan manis. Meski cuaca sangat terik dan suhu Kota Udang itu berkisar 30Ā° Celsius, pantang istirahat tanpa makan. Hihi šŸ˜„

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , | 3 Comments

Backpacking Bandung – Cirebon : 29 – 31 Juli 2016Ā 

Perjalanan pertama terjauh saya bersama anak-anak dengan kereta api menuju ujung timur Jawa Barat, tepatnya ke kota tempat saya dibesarkan sepenuh cinta oleh orangtua. Tsaaahhh…

Berawal dari rumpi geje bersama Vei, sahabat tercinta di Telegram pada bulan Juni. “Ke Cirebon, yuk?” berakhir dengan pemesanan tiket kereta api beda jurusan. Dia dari Stasiun Gambir Jakarta, sementara saya dari Stasiun Kebon Kawung Bandung. Itu pun sempat disertai drama kalau saya galau antara naik bus atau kereta api. Kemudian ganti lagi, apakah saya naik dari Gambir juga, atau tetap dari Bandung. Bisa ditebak, Vei esmosi escendol membaca jawaban plin plan saya.

Continue reading

Categories: About Traveling / Backpacking, Journey | Tags: , , , , , , , , | 2 Comments

Bandung – Cirebon Dalam 12 Jam

Tak banyak yang bisa dilakukan dalam perjalanan dari Bandung ke Cirebon dan kembali ke Bandung dalam waktu sekitar 12 jam. Ini tulisan harusnya jadi pada bulan April, tetapi sempat berpikir tak perlu. Bahkan beberapa foto pun terhapus dari ponsel. Yha šŸ˜¦

Tanggal 13 April, saya pergi ke Cirebon sendirian untuk melayat ke rumah sahabat. Ibunya wafat tanggal 12 April, tetapi saya baru mengetahui kabarnya pada sore hari, sehingga saya memutuskan langsung ke Cirebon pada tanggal 13 di pagi hari.

kota cirebon

Kota Cirebon via flickr

Continue reading

Categories: Journey | Tags: , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.